Selasa, 27 November 2012

Ya Ampyun....


Wotu, Tanggal 30 November 2010.
Gak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini aku gak tidur lagi setelah shalat subuh. Sudah beberapa hari ini aku coba merubah ritme kegiatanku. Biasanya aku tidur di atas jam 12 malam, paling banter ampe jam 3 pagi. Lalu sekitar jam 5 pagi aku bangun untuk shalat subuh, setelah itu tidur lagi karena masih mengantuk. Dan baru bangun sekitar jam 9 atau paling parah jam 11 lewat. Saat itu barulah aku memulai aktivitas di pagi hari*ya ela itu mah dah siang. Cekcekcek bener-bener kebiasaan yang gak sehat. Jangan ditiru ya teman-teman.
Tapi kali ini aku coba untuk mengurangi jam begadang sampai jam 12 malam saja. Sebelum tidur shalat malam dulu dan ngaji beberapa lembar. Lalu jam 5 pagi bangun tuk shalat subuh dan setelah itu gak tidur lag tapi langsung memulai aktivitas di pagi hari. Beres-beres kamar trus sarapan. Setelah sarapan langsung ngeDJ alias cuci piring. Setelah semua pekerjaan rumah beres, aku memilih mengambil pulpen dan mulai corat-coret di atas buku ajiabku, membuat kerangka cerita tuk diketik malam harinya. Dan biasanya sambil nyoret-nyoret aku juga chating plus ketiduran kalau udah nguantuk banget, hihihi. Semoga ritme ini bisa bertahan lama, hohoho jangan sampe cuma panas-panas tahi ayam alias semangat cuma di awal-awal tapi pas dah pertengahan malah kembali ke ritme yang dulu.
Pagi ini aku disuruh mama buat sarapan tuk adik-adikku tercinta Nunung dan Janet. Telurpun aku kocok dan dadar di atas pak wajan. Hem…jadi laper. Sesekali aku menengok televisi, papa masih sibuk mencari chanel yang tepat. Hem…gak ada acara yang menarik, pikirku. Tapi beberapa menit kemudian, mataku langsung terpaku ke arah televisi, aku tak mengedipkan mataku meski sejenak*halah lebay. Papa menemukan siaran yang tepat.
“Jangan diganti pa…!” Teriakku langsung meluncur ke depan televisi tanpa menghiraukan gorengan telur dadarku. Untung gak pake acara kepleset. Aku duduk menekuk kedua lututku dengan sodekan di tangan kanan. Barca vs Madrid sedang berlangsung dan sudah memasuki menit-menit terakhir. Gubraks…! Ternyata bola toh, hihihi…
Apa? Skornya udah 4-0 untuk Barca? Aku memelototi skor yang terpampang di sudut kiri televisi berkali-kali. Aku tidak percaya kalau tim yang aku unggulkan kalah. Waduh…hampir aja aku harus ngisiin pulsa buat seorang teman jika saja aku mengiyakan ajakannya kemarin untuk taruhan. Tapi ajakan itu aku tolak karena aku gak mau taruhan, terlebih lagi feeling aku mengatakan Madrid emang bakal kalah melawan Barca.
Gol…!!! Sebuah gol tercipta lagi di menit-menit terakhir. Aku sedikit syok dengan kekalahan Madrid yang begitu telak atas Barca, 5-0. Tadinya kukira Barca akan menang setelah berjuang setengah hidup membobol gawang Madrid, yah paling enggak 2-1. Lah yang ini? Hua….hancur lebur hati adek Uppa mengetahui kabar ini dan hatikupun luluh lantak, ditambah lagi hati ade lelli yang gak tau gimana lagi keadaannya, hiks….kelewatan.
Sebuah insiden kecilpun terjadi di detik-detik terakhir pertandingan. Ramos yang mungkin gak bisa menerima kekalahan itu, sengaja mencelakai Messi. Messi pun harus terjatuh dan berguling-guling di atas rumput. Beberapa pemain Barca ikut emosi melihat sikap Ramos, begitupun sebagian pemain Madrid yang ikut emosi atas kekalahnnya. Ozil mana ya? Aku memperhatikan pemain Madrid yang berseragam putih-putih itu, aku mencari sosok pemain bola asal Jerman itu. Tapi nihil, aku tidak menemukannya. Karena situasi mulai memanas, Puyol yang tak lain teman senegara Ramos tapi kebetulan main di Barca berusaha meredahkan emosi Ramos. Puyol mungkin berfikir sebagai teman satu Negara, Ramos mau mendengarkan nasehatnya tapi sayang baru ingin mendekati Ramos, Puyol langsung saja didorong oleh Ramos. Puyol pun jatuh dan terduduk di atas rumput. Wajahnya tidak menyiratkan kesakitan tapi kekecewaan. Ia tidak menyangka kalau Ramos akan bersikap itu padanya. Karena insiden ini, Ramos dihadiahkan kartu merah dan Maxi dihadiahkan kartu kuning.
“Ti ingat gorengan telur kamu…!” Kata mama menegurku yang masih asyik di depan tivi.
“Iya ingat kok” Balasku masih seru melihat pertandingan yang telah diteruskan kembali. Tapi tidak lama karena sesaat kemudian wasit meniupkan peluit tanda pertandingan telah berakhir. Barca merayakan kemengannya yang berasil menggeser posisi Madrid sebagai pemimpin classment sementara dengan tiga poin lebih banyak dibanding Madrid.
Aku kembali ke depan kompor gas dan menatap telur dadar yang sempat kutinggal untuk menonton bola. Syukur gasnya tidak meledak eh salah, maksdunya syukur telurnya belum hangus, hehehe.
“Mang jagoan kamu kalah ya?” Tegur mamaku yang menatapku kurang bersemangat seperti baiasanya.
“Iya…”
“Brarti nggak jago dong jagoan kamu?”
“Jago kok, tapi yang jadi lawannya juga gak kalah jago, hehehe. Secara skil individu sih sama-sama hebat ma. Dua-duanya bertaburan pemain terbaik dunia. Ya sekarang sih tinggal faktor lucky aja dan ternyata Barca lebih beruntung. Jadinya menang deh”
“Trus kenapa kamu lebih dukung Madrid?” Tanya mama lagi.
“Karena di situ ada Ozil, hihihi…” Jawabku sambil nyengir tapi gak kayak kuda.
“Oh…pantes” Kata mama tak bertanya lagi. Sepertinya mama sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan hehehe.
Setelah menggoreng telur, aku kembali ke kamar dan membereskan tempat tidur yang masih berantakan. Ketika aku hampir meyelesaikan pekerjaanku kak Nen masuk ke kamar untuk mencari sesuatu. Kalau nggak salah sih nyari sisir.
“Yang main tadi Barca ya?” Tanya kak Nen gak antusias.
“Iya, tau dari mana?” Tanyaku penasaran karena setahuku kak Nen gak terlalu ngidam bola, ngidam mangga iya soalnya dia kan lagi hamil tuh.
“Tuh denger dari tivi, lagi diberitain” Katanya santai.
“Oh ya?” Aku langsung berlari ke ruang nonton sambil berteriak “Jangan diganti dulu pa…!” Mama hanya bisa geleng-geleng kepala melihatku berlari sekencang-kencangnya, mungkin udah mencapai 40 km/jam, hihihi.
“Cuma kilasan aja kok…” Kata papa setelah aku berhasil tiba disebelahnya dengan selamat. Karena ini kilasan makanya aku mau lihat. Aku mau lihat terciptanya gol-gol yang katanya indah itu. Aku dan papa menyimak dengan saksama.
“Wah itu off side…!” Protes papa.
“Mana sih?” Tanyaku berharap tayangannya diulang lagi. Dan harapanku terkabul, si stasiun tipi memang sengaja memutar tayangan itu dua kali agar para penonton bisa melihat dengan jelas gol yang terjadi.
“Tuh kan off side” Kata papa sambil menunjuk seorang pemain Barca yang berdiri di posisi off side.
“Ih iya….itu off side. Uh wasitnya curang” Kataku sambil tetap mengamati layar kaca dan setelah mengamati secara saksama bersama papa ternyata banyak gol yang diciptain Barca berada dalam posisi off side. Mungkin hanya dua atau satu aja yang bener-bener gol.
Hemmm…pantes aja si Ramos ngamuk, wong wasitnya gak professional gitu, curang. Jadi sebenarnya Madrid gak kalah telak dong. Kalah sih kalah aja…*sahut Cindil penuh kemenangan. Huuuh…seneng banget tuh dia mentang-mentang jagoannya menang, hehehe. Oke…oke…aku akui Barca emang hebat pa lagi Si Messi pemain Argentina itu yang katanya Maradona Junior, hiks.
NB:
- Kalah menang itu biasa tapi yang luar biasa adalah menerima kekalahan itu dengan lapang dada dan merayakan kemangan itu dengan rendah hati. Yuk berlomba-lomba menjadi orang yang memiliki sikap yang luar biasa.

Sabtu, 22 September 2012

BEGINIKAH CINTA

BEGINIKAH CINTA
Aku berlari dengan nafas memburu. Otakku seakan berhenti berpikir, dada sesak, penuh, semua sesal dan sedih berkecamuk jadi satu. Kususuri jalanan kampus yang masih sedikit basah karena hujan kemarin malam. Aku benar-benar kalut. Bingung. Pikiranku mulai bergumam sendiri dengan batinku.
“Beginikah jadinya? Beginikah rasanya mengakhirkan harapan?
Beginikah rasanya menghentikan cinta yang sudah terlanjur dalam?
Aku harus berkata apa? Bertanya pada siapa?”
Jalanan ini tentu saja takkan memberi jawab. Sore menuju senja yang selalu indah ini tentu saja takkan menenangkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain kekalutan yang luar biasa menghinggapi dada.
“Haruskah melepasmu cinta? Melepas segala rasa yang tumbuh subur merekah hingga kini dan entah kapan berakhirnya?
Haruskah ku bunga jauh-jauh penggal harap yang entah kenapa masih membuatku sesak ketika kutahu aku tak bisa memilikimu cinta?
Haruskah aku membalikkan semua waktu agar perasaan ini tidak pernah ada di dalam diri? Atau setidaknya…
Ahh… Allah… mungkinkah kau izinkan aku mengembalikan kekosongan jiwa agar yang terisi hanya KAMU? Hanya KAMU ya Rabb… Hanya KAMU… hanya KAMU yang kucinta. Mungkinkah ya Rabb?”
Dadaku semakin sesak. Air mata lagi-lagi dengan tak sopannya keluar tanpa pernah mau kuperintahkan. Aku laki-laki, dan kini aku menangis.
“Aku benci dengan perasaan ini. Benci dengan keadaan ini.
Aku sadar aku harus bangkit. Tak boleh lemah hanya karena kehilangan kesempatan merealisasikan harapku. 
Aku tak boleh kalah, hanya karena imaji yang sedari dulu kubangun akhirnya pergi dan menghilang tanpa bekas. Aku benci dengan semua perasaan yang telah porak-poranda ini. Aku harus bangkit. Tak boleh seperti ini.”
Kukuat-kuatkan hatiku agar tetap seperti dulu. Tenang dan segar. Namun percuma. Setiap larian kecilku mengelilingi kampus hijau ini, membuatku semakin tergugu. Pikiranku tak bisa untuk kuhentikan dalam mengingat sang permata jiwa. Semua kenangan seperti tergambar jelas di benakku. Kenangan tentangnya semua menyeruak tanpa tahu betapa aku sakit ketika mulai mengingatnya.
Cinta… atau entah apa namanya. Kenapa begitu mempengaruhiku hingga semua alam rasionalku pergi entah kenapa. Maryam Syakila, sosok itu. Yang mengisi penggal harapku hingga detik ini terus saja berkeliling di alam pikirku.
“Sedalam inikah perasaanku? Separah inikah aku tenggelam dalam cinta yang semu?
Jika memilikimu bukanlah takdirku, maka tolong berilah aku kesempatan untuk pergi darimu. Sejenak melupakan apapun tentangmu.
Aku ingin amnesia sejenak, tak pernah mengenal siapapun terutama kamu dari hidupku. Ini terlalu menghempaskan. Merebut semua rasaku.
Aku mati, mati rasa.
Dalam kekakuan, kebekuan, namamu masih saja ada. Harus ku kata apa, jika memang segalanya begitu dalam terasa? Harus kubilang apa cinta?”
Aku membodoh-bodohkan diriku sendiri setelah melewati lebih dari 3 kilometer. Berlari tanpa arah. Pikiranku tertuju kembali mengenang kisah usaha untuk melamar Maryam Syakila selama 2 pekan ini.
“Mohon maaf, apakah Zahra bisa membantuku mencari tahu perihal Maryam Syakila? Bukankah dia sahabatmu sejak SMA?” Sapaku kepada Zahra, sahabat dekat Maryam semenjak SMA. Setahuku mereka memang masih dekat hingga sama-sama melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI). Kukirim email singkat ini kepadanya.
Jangan Tanya degupan jantungku saat itu. Aku begitu tegang tak terkira. Ini adalah momen yang sudah kutunggu sejak lama. Sudah 9 tahun, aku mengagumi sosok bernama Maryam Syakila. Dia sederhana, tak banyak bicara, namun cerdas dan mempesona. Apalagi yang mau kukata jika dia telah menjadi yang pertama dalam perasaanku, dan entah kapan lagi aku bisa mengakhirkan segala rasa ini. Perasaanku semakin dibuat tak karuan ketika mengetahui keshalihannya. Semenjak SMA, baju seragamnya yang panjang ditutupi dengan jilbab yang terurai indah sampai ke dadanya membuat jantungku semakin berdetak kencang setiap kali bertemu dengannya. Aku harus berkata apa, jika cinta telah merenggut habis semua perasaanku? Aku hendak menghentikan segalanya, namun segala tentangnya telah merebut habis setiap sisi hatiku. Aku juga hendak menghentikan segala pengaruh tentangnya, tapi apa lagi yang mampu ku buat, ketika penantian hamper 10 tahun ini, akhirnya datang juga. Ini kesempatan terbaikku untuk merealisasikan imaji, harap, dan doa yang sudah kusimpan erat sejak dulu. Aku harus melamarnya dan menjadikannya istimewa dalam nyata. Itu saja. Tak ada yang lain yang aku siapkan dan pikirkan selain merealisasikan segala rencana untuk menikah dengannya.
“Oh ya… Alhamdulillah saya masih sering berkomunikasi dengannya. Ada apa ya?” Zahra membalas emailku melalui YM yang kuhidupkan sejak tadi.
“Hmmm… Saya hendak menjalankan salah satu sunnah Rasul. Saya ingin tahu apakah Maryam Syakila sedang proses Ta’aruf atau telah di khitbah oleh seseorang? Jika tidak, saya ingin melamarnya…” Jawabku tanpa pikir panjang. Buatku ini melegakan.
“Oalah…”  Jawab Zahra sedikit kaget.
“ :) ” Aku membalasnya dengan icon tersenyum, memahami kekagetannya.
“Baiklah Rangga. Tunggu aja ya kabarnya dalam 1-2 hari ini. Insya Allah akan saya beritahukan informasinya…” Tutup Zahra
Sudah 2 pekan ini, malam-malamku adalah malam-malam penghambaan penuh khusyu kepada Allah. Aku mengirimkan doa terindah kepada-Nya, berharap DIA berkenan mempertemukanku dengan Maryam. Berharap segala daya dan usaha yang kulakukan hingga saat ini diberkahi dengan sebuah momen terindah yang telah kupatrikan dalam do’a-do’aku selama 9 tahun ini. Aku hanya berharap memilikinya, itu saja.
Esoknya, aku menerima sms singkat dari Zahra yang memberitahukan info lengkap soal Maryam ada di inbox emailku.
Aku buru-buru membuka emailku berharap ada berita yang melapangkan jiwaku. Namun betapa kagetnya, ternyata isi email yang dikirimkan Zahra kepadaku sungguh berbeda dengan yang kukira.
“Mohon maaf Rangga… Saya sudah mengecek kondisi Maryam, terkait kesempatanmu untuk melamarnya. Saat ini, dia sudah di khitbah oleh seorang ikhwan dan Insya Allah akan melangsungkan akad dan walimahannya bulan Desember tahun ini…”
Hilang sudah… Pecah… Semua harapan itu sirna. Aku terlambat, sangat terlambat. Tubuhku bergetar seketika, hatiku tak bisa berkata apa-apa selain merasai kekalutan yang luar biasa. Aku terdiam, dan tak sadar, air mataku dengan sendirinya mengalir.
Habis sudah… kering… tak ada lagi harapan yang ku bangun bertahun-tahun. Aku memang lambat, aku memang bodoh, aku memang kerdil. Kenapa sedari dulu aku tidak memulai duluan untuk melamarnya? Kenapa dari dulu aku tidak berani merealisasikan segala macam perasaan ini agar mampu bersama dengannya? Kenapa?
Beribu pertanyaan berkecamuk di dada. Lebih dari itu, aku menyesal, begitu menyesal. Kenapa aku begitu terlambat membuat keinginan yang kubangun sejak 9 tahun ini menjadi nyata. Kenapa?
Aku membodoh-bodohi diriku sendiri karena terlalu lama dalam beraksi. Jika aku cinta, harusnya aku lebih berani dari siapapun. Jika aku cinta, harusnya aku tak menunggu lama. Dan jika ini gagal, harusnya aku tak sesedih ini, aku tak sehancur ini. Tapi kenapa?
Perasaan yang tak karu-karuan itu aku larikan hingga sore ini. Jalanan di sekitar kampus masih kususuri sembari mengingat kegagalan melamar Maryam Syakila.
“Andai pesonamu hanya sesederhana bunga jalanan…
Maka mungkin sedari dulu telah kulupa…
Tapi pesonamu adalah pesona edelweiss yang sulit tuk kugapai dan kupetik tangkainya.
Pesonamu adalah pesona menggetarkan yang terpancar dari kecintaanmu pada Allah bersama orang-orang yang mencintai-Nya.
Jika sebegitu kuat pesonamu menarikku, apa lagi yang harus kukata jika memang padamu, segala cinta ini telah terenggut?”
Aku menangis lagi, mengingat puisi sederhana itu kutulis beberapa saat setelah menerima email dari Zahra. Sungguh ini begitu berat terasa. Aku sungguh idiot, sungguh tolol, bagaimana bisa aku mengingatnya dalam ingatannya yang begitu sulit untuk kulupa.
“Jika GAGAL, maka lupakan…”
Teringat nasihat dari seorang sahabatku. Aku harusnya mampu melupakannya. Melupakan Maryam Syakila dalam setiap sisi hatiku.
Lagi-lagi kukuatkan diriku agar mampu melewatinya. Keringatku mulai bercucuran ketika mendekati gedung Fakultas Teknik, menuju labku. “aku harus tenang… Sabar…” Kucoba menguatkan hatiku walau pikiranku masih kalut.
***
Sejak ba’da Isya tadi, aku sudah rebahan. Sepertinya tubuhku lelah karena menangis. Sebeginikah parahkah? Aku bahkan tak mampu memikirkan sebelumnya kalau efeknya akan begitu hebatnya. Mataku baru terpejam beberapa jam kemudian.
Samar-samar aku terbangun, di kamar kos-kosanku yang sederhana. Lampu masih kumatikan semenjak istirahat tadi, gelap di sekeliling ruangan. Kuhidupkan handphone-ku melihat jika ada pesan penting yang masuk sekalian melirik jam berapa sekarang. Sudah 04.00 dini hari rupanya. Aku tertidur cukup lama.
Kubuka selimut yang menghangatkan tidurku sejak semalam, kemudian menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Apalagi kini yang tersisa, selain Allah sebagai zat terbaik untuk mengadu?
4 raka’at awal kulewati dengan luruh air mata yang tak terbendung.
“Allah…
Beginikah jadinya jika aku berani bermain hati? Beginikah jadinya jika aku menyisihkan cinta-Mu yang agung dan begitu purna? Beginikah akibatnya?
Ampuni aku, dalam khilafku akibat salah di masa lalu. Beri aku waktu untuk menyembuhkan segala kotoran di hati ini agar yang ada hanya KAMU ya Rabb…”
Doa it uterus ku ulang-ulang.
Memasuki Rakaat ke-6 Tahajjudku. Air mataku semakin tak tertahankan.
“Apa lagi Rangga… Apa lagi yang mau kau katakan kepada Allah? Bentuk protes apa lagi yang hendak kau kirimkan kepada-Nya jika Allah telah memberi segalanya. Allah telah memudahkan studi S1-mu, meski tanpa biaya orang tua, Allah memudahkan jalanmu untuk meraih prestasi membanggakan selama studimu. Allah mudahkan hidupmu dengan pertemuan bersama orang-orang shalih yang menenangkan dan penuh nasihat, Allah mencelupkanmu dalam balutan kasih saying-Nya untuk senantiasa mengingat-Nya, Allah memberimu nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
Lalu kini? Jika hanya seorang Maryam Syakila yang tak bisa kau miliki. Haruskah kau hentikan rasa syukurmu? Haruskah kau habiskan harimu dengan sederetan pelarian dari jalan Allah sebagai bentuk betapa kecewanya dirimu kepada Allah? Haruskah Rangga? Haruskah… Sedang mencintai Allah itu membahagiakan… Memiliki Allah itu adalah kenikmatan yang tiada duanya.
Makhluk-Nya? Mengharap mereka adalah sebuah kebodohan, mencintai mereka dengan penuh seluruh adalah kejahiliyahan. Apa lagi Rangga? Apalagi yang tersisa selain ini adalah akibat dari kesalahanmu memelihara rasa. Jika berani, seharusnya sedari dulu kamu mulai berusaha untuk memilikinya dalam balutan ikatan suci yang indah. Tapi jika tak sanggup, seharusnya kamu TEGAS dengan hatimu. TEGAS dengan rasamu. Jika ia bukan untuk cinta yang halal, maka takkan kurasakan. Seharusnya begitu Rangga… seharusnya begitu”
Aku semakin tergugu hingga di akhir witirku. Tubuhku bergetar hebat. Rasa malu begitu terasa di dalam jiwaku. Sungguh betapa hinanya aku menangisi seorang Maryam Syakila hanya karena sebuah penolakan dan keadaan yang sebenarnya begitu sederhana saja. Tidak seharusnya aku larut dalam kesedihan yang sebagian besar karena ulahku. Kenapa aku sebegini terlukanya, sedang Allah telah menyediakan begitu banyak hikmah dan nikmat yang ada di tiap lembar hariku. Kenapa aku se sedih ini sedang Allah telah banyak memberiku kesempatan untuk melejit, melangkah, dan berbuat banyak hal untuk dunia. Ahh… aku kalah, kalah dengan godaan syetan yang memabukkan rasa di dalam dada.
Kukuatkan diriku ketika muhasabahku terhenti dengan lantunan azan subuh di Masjid dekat kos-kosanku.
“Aku harus memulai hariku yang baru… Penuh semangat… Penuh Antusias… Aku harus menghapus semua kenangan tentang Maryam… sekecil apapun aku harus menghapusnya…” Sahutku.
Subuh itu. Adalah subuh penghambaan penuh kekhusyuan yang pernah kurasa dalam hidupku.
“Allah… Jika dia memang bukan yang terbaik bagiku… Maka gantikanlah yang lebih darinya… Shalihkan diriku hingga aku mampu memiliki seorang permata jiwa yang juga seshalih diriku. Sempurnakan agamaku dengan seseorang yang akan kucintai sepenuh jiwaku Dan akan kujadikan ia sebagai belahan hati terindah di dunia. Namun jagalah agar hati ini selalu ada KAMU ya Rabb… hanya ada KAMU… bukan yang lain…”
Kuseka air mataku yang masih mengalir di ujung doa ku subuh ini. Mencoba menguati hati agar mampu melangkah.
“Jika tak hari ini, maka aku akan kalah selamanya…


PENCURI HATI


PENCURI HATI
Saya sudah diKHITBAH, AFWAN..!! Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah hari  baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu.Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada.Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yg mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.Aku hanya seorang “Insyirah”.Tiada kelebihan yg teristimewa, tidak juga punya apa-apa yg begitu menonjol.

Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli maupun bisu.Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa berkata dengan lidahku yang lembut dan tidak bertulang. Sama seperti manusia lain. Aku bukan seperti bunda dari Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama… Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.

Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabat yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tanganku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan.Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu.Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.

          Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila. “Hari menikah nanti, pakai baju warna apa?” Aku menjawab tenang.. “Warna putih, bersih…” “Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat.” “Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah (baca :JILBAB). Jangan berlebihan.”Ibu angguk perlahan.Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu… helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh sanubariku sebagai hamba Allah. Malam Pertama… Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mau saja aku menangis sejadi-jadinya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya karena aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi.Mudah-mudahan ya Allah.Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku mau sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang…
As-Syifa’ku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resahku menanti.Benar, aku sedang memujuk gelora hati.Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului. “Kak Insyirah, siapa tunang kakak? Mesti hebat orangnya.tampan gak?” Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yg singgah.Maaf, aku masih mau merahasiakan tentang perkara itu.Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahwa aku sudah bertunangan, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.
“Insya Allah, ‘dia’ tiada rupa tetapi sangat mendekatkan kakak dengan Allah. Itu yang paling utama.”Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku.Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu disebarkan.Aku tersenyum lagi.“Jangan lupa jemput ana di hari menikahnya, jangan lupa!”Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya.Apa yang mampu aku tampakkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan ‘dia’ yang mendekatkan aku dengan Allah. Sahabatku juga merasa kehilanganku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa’ku,Al-Quran, tidak lain karena aku mau kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.

“kapan antii menikah?” Aku tiada jawaban khusus. “Insya Allah, tiba waktunya nanti anti akan tahu…” Aku masih menyimpan saatnya keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu kapan saatnya.“Jemput ana, tau!”Khalilah tersenyum megah.“Kalau anti tak datang pun ana tak berkecil hati, doakan ana banyak-banyak!”Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mau melangsungkan pernikahanku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati. “Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti…” Rahasiaku adalah rahasia Allah, karena itu, aku tidak mampu memberitahukan waktunya.Cuma, hanya mampu menyiapkan diri sebaik-baiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku telah persiapkan, baju permikahanyya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu… “tak usah berlebihan ya…” Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.“Insyirah, jam makan!” Aku tersenyum lagi… Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.“Tafaddal, ana puasa.” sahabta juga semakin galak mengusik. “Wah, Insyirah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat… Tarikhnya tak tetap lagi kah?”“Bukan diet, mau mengosongkan perut.Maaf, harinya belum ditetapkan lagi.”

Sehingga kini, aku tidak tahu bila harinya yang pasti.Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut.Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak.Doakan aku, itu sahaja.
 “innalillahi wainna ilaihi rajiun…” “Tenangnya… Subhanallah.Allahuakbar.” “Ya Allah, tenangnya…” “Moga Allah memberkatinya….” Allah, itu suara sahabat-sahabatku, teman-teman seperjuanganku.Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Teman-teman  pada ramai berdatangan di walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.

Akhirnya, mereka ketahui sosok ‘dia’ yang mendekatkan aku kepada Allah.Akhirnya, mereka kenali sosok ‘dia’ yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.Akhirnya, mereka sama-sama mengambil ‘ibrah dari sosok ‘dia’ yang mengkhitbah ku.

 Dalam sadar dan tidak sadar… Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku… Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa’nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi.Sayup-sayup hatinya merintih.Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.
          “Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan ‘dia’ yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyadarkan aku tentang dunia sementara, yang menyadarkan aku tentang alam akhirat.Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau ridhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui…” Akhirnya, Khalilah bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian… “Insyirah bertunang dengan siapa, ma?” Ibu tenang menjawab… “Dengan kematian wahai anakku.Kanker tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya.Kata dokter, Insyirah hanya punya beberapa minggu sja sebelum kankernya membunuh.”

 “Allahuakbar…” Terduduk Khalilah mendengar, air matanya tak mampu ditahan.
“Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama…” Ibu angguk, tersenyum lembut…
“Ini nak, bukunya.”Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr ‘Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk ‘Malam Pertama di Alam Kubur’. “Ya Allah, patut la Insyirah selalu menangis… Khalilah tak tahu ma.” “Dan sejak dari hari ‘khitbah’ tersebut, selalu Insyirah mau berpuasa. Katanya mau mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan…”

Khalilah masih kaku.Tiada suara yang terlontar.Matanya basah menatap kalam dari diari Insyirah yang diberikan oleh ibu.“Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT.Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti harinya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku bernama Ummu Sulaim, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta. Dan ibu mengambil ‘ibrah bukan dari namanya (Ummu Sulaim) malah akhlaqnya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati seorang ibu.”


SELESAITop of Form

Sabtu, 07 Juli 2012

JAWABMU


Jawabmu

Mungkin kata tak dapat lagi tersusun.
 Kala aku memutuskan untuk berpaling darimu.
Aku bosan menantimu.
Hingga aku tak tahu apa yang harus aku pilih.
Aku memilih dia tapi hatiku tetap untukmu.
 Hatiku tetap menantimu.
Walau sering kali harus ku biarkan airmata ku kembali terurai dengan indah.
Bagiku indah dah tak pernah buruk.
 Saat airmata terurai.
 Karena airmata itu jatuh dengan suci.
Jatuh dari kedalaman lubuk hati ini.
 Aku tidak tahu bagaimana dengan hatimu.
Sesekali aku tanyakan itu kau hanya terdiam.
 Bermaksud untuk tidak menambah luka hati ini.
Yang kau biarkan menganga jatuh di rerumputan berduri.
Walau diam aku tak menganalisa hatimu, ucapmu.
Yang ku dengar hanya hembusan nafasmu yang tertarik sangat dalam.
Apakah rumit cinta ini.
Kau hanya menjawab iya atau tidak.
Jangan biarkan pupus hati ini.
Pintaku dalam hati...
Berharap aku kan temukan jawabnya.
Harapan yang tiada akhir.
Cinta yang suci karena Allah.
Bagaimana tidak.
Coba tengok  kala dulu.
Tampan, dia jauh lebih tampan darimu.
Tapi hati ini memilihmu.
Kekayaan. Dia jauh lebih darimu.
Tetap hati ini memilihmu.
Baik, dia jauh lebih baik darimu
Bukan berarti kau jahat.
Kau hanya saja menyakiti hati ini.
Yang di biarkan begitu saja.
Aku harus mengorbankan 3 hati.
Aku harus menolak 3 hati yang memilih aku.
Haruskah ada orang lain lagi yang tersakiti.
Yang ku butuh kau.
Jangan lagi diam mu yang ku temui.
Jangan hembus nafasmu lagi yang ke dengarkan.
Tapi aku hanya ingin ucapmu.
Memilihku.
Meski waktu masih lama ternanti.
 Jangan kau suruh aku memilih dia.
Karena hati ini tetap untukmu.
Dan selamanya untukmu.

Karpet Coklat, 07-07-2012


Novianti Elfiky.