Dia mengulurkan setangkai bunga pada ku.
“Untuk ku?”
Anggukan kecil menuai mukanya. Manis, bisik ku.
Menerima
bunga darinya seakan menerima keerkahan yang utuh dan purna. Ya, kenapa
tidak? Bukankah sebuah penyerahan yang tulus akan mengembalikan
seseorang pada kesejukan yang diam? Sunyi yang hangat, seperti dekapan
di saat hujan.
“Kenapa engkau berikan bunga ini padaku?”
Diam.
Aku menunggu katanya.
Sepi. Hanya mata teduhnya menjawabku.
“Mungkin engkau ingin mengatakan sesuatu padaku?ada apa?”
Aku
mengangkat bunga itu kepucuk hidungku. Menghirupnya dalam – dalam.
Seakan nafasnya merayapi darahku. Mengusap dahaga yang pendam. Mencabik –
cabik rindu. Setangkai kantil yang wangi. Menyurukku pada hangat yang
merintik.
“ah, sudahlah jika kau tak mau mengatakan sesuatu. Bunga
ini lebih dari seribu ucapan mu. Aku menyukainya, sungguh!jika boleh
aku akan menyimpannya untukmu. Mungkin mengawetkannya, agar wanginya
kian purna. Bolehkah?”
Dia mengangguk. Matanya berbinar. Sungguh,
Tuhan lebih tahu bagaimana merangkai keindahan –keindahan yang berlaksa.
Matanya lebar, bulu matanya tebal, dan ada semacam penghitam mata yang
berkilatan yang tertimpa cahaya. Lalu jika ia tersnyum, sungguh, matanya
menyipitseperti rembulan yang menyabit. Sempurna!
Aku menatapnya.
Tatapan yang jujur. Kejujuran yang berhulu dari hati. Dia balas menatap
ku. Aku tahu ia memberikan tatapan yang sama. Keinginan yang dewasa.
Keinginan memegang tangannya. Menyimpan dibalik bajunya yang longgar.
Jika sudah begitu aku pasti seakan didera malu bertalu. Kenapa begitu
bodoh aku ingin memegang tangannya? Bukankah berkali – kali kulakukan
hal yang sama, berkali juga ia memberikan tanggapan yang sama? Dia tidak
pernah mau disentuh. Sekedar berpegang tangan?Ya! Katanya ia lebih suka
hati kami saja yang bercengkrama. Bergandengan mengembara dibalik
lorong – lorong yang rindu, perdu yang lebat oleh cinta.
“Maaf. Ah, betapa bodohnya aku. Kenapa aku mengulanginya lagi pada mu?”
Muka
ku merah padam. Sungguh malu aku dibuatnya. Apalagi dia tidak pernah
marah. Justru senyumnya semakin merekah membuatku semakin kerdil.
Biasanya aku akan menatap tanah lalu mencari ujung – unjung baju ku.
Tapi saat ini aku justru menatap matannya, menerima senyumannya. Apakah
penantian selama ini untukku? Apakah hanya pada ku saja menyerahkan
senyuman nirwana? Hingga segala yang ia miliki tampak begitu indah.
Kami saling diam.
“ aku, sungguh! Aku sayang kamu...”
Dia
tersipu. Mukany memerah. Lalu ia tundukkan pandangan. Aku paling suka
jika ia begitu. Aku tahu ia tersipu, tetapi bukan malu, justru
kebahagiaan yang purna atas pengakuan tulus dari laki – laki yang ia
cinta. Dia mencintai ku? Mungkin, setidaknya itulah pandangan ku. Tapi
apa ia pernah mengungkapkan perasaan cintanya? Tidak, ia tidak pernah.
Tetapi bukankah matanya yang berkaca dan bibirnya yang bergetarcukup
menjadi jawaban yang kekal? Bahwa dia juga membalas cintaku. Aku yakin.
Biasanya
dia akan mengajakku berjalan – jalan. Menyusuri ladang bunga, sawah
padi yang emas. Semua terasa indah, kebahagiaan yang purna meriap
disimpuh rerumputan. Pematang yng panjang seakan pendek mengukur
perasaan kami. Cinta kami memang aneh, atau setidaknya hubungan kami
dimata orang –orang. Dia tidak pernah mau berjalan disisi ku ataupun
didepan ku. Ia lebih suka berjalan dibelakang ku. Katanya laki – laki
adalah pemuka dirinya. Jika aku paksa ia berjalan disebelah ku, maka ia
meminta ku bersumoah untuk tidak memegang tangannya. Hanya berjalan, ya
berjalan bersisian.
Seperti saat ini, ia mulai berjalan dibelakang
ku. Tetapi, kemudian berjalan disampingku. Aku tidak memintanya tetapi
ia sendiri yang melakukannya. Mungkin ia akan meminta aku memegang
tangannya, mengandengnya lalu merangkulnya. Sepanjang jalan kami
berpelukan. Menyenangkan! Hingga padi pasti akan tampak lebih kuning
emasnya, agar ladang lebih wangi bunga – bunganya, agar mesra berpilin –
pilin mengulir dada. Agar... tolol! Pikiran yang konyol. Dia berjalan
disisi kiriku. Aku tidak berani memandangnya, sekali waktu melirik
apakah ia juga berpura – pura tidak menatap ku. Tetapi tampaknnya ia
sungguh tidak menatap ku. Makin cinta saja aku dibuatnya.
Ni, bagiku selaksa hadiah dari surga.
Kami
berjalan menysuri desa, lalu kembali kerumah menjelang senja. Bagiku
senja bagaikan oase, sebab senja menghadirkan Ni yang sederhana
temaramnya meniupkan lebut hidup. Merahnya mendekapku akan kenangan –
kenangan kekal. Sepinya, menuntun ku untuk mereguk nafas Ni yaalun
mengisi dahaga. Apalagi keting ka aku mengantarkannya pulang. Sebelum ia
memasuki rumah pasti ia akan mengucapkan terimakasih kepada ku. Atas
waktu ku menemaninya. Lalu ia tersenyum. Saat itulah aku tahu bahwa aku
harus pulang, ia menunggu ku hilang dari pandangan. Ni tidak akan
memasuki rumah sebelum aku hilang dibelokan jalan. Lalu lambaian
tangannya mengantarkan aku pada harap yang berpuncak pucak mengetuk
langit menerbangkan mimpi ku pada sayap – sayap yang perkasa.
Melontarkan pasrah ku pada dekapan cinta
Ni adalah hadiah terindah dari surga.
Tiba
– tiba kami berpisah! Aku harus keluar kota. Melanjutkan studi.
Sebenarnya aku tak mau. Aku ingin tetap bersama Ni. Menemaninya
sepanjang waktu adalah impianku. Tapi bapak memaksaku. Katanya agar aku
menjadi laki – laki yang berjiwa. Pendidikan seorang akan
menentukanletak kehormatannya dimata orang – orang, begitu tambahnya.
Aku menurut saja.
Ni hanya menatapku. Ia tidak mengantarkan aku
sampai keterminal kota. Ia berkunjung kerumah ku. Sendirian. Aku tidak
sampai hati memandangnya. Jelas, ada pilu yang menggurat di muka. Aku
tahu kesedihannya lebih dari ucapannya. Ia tidak berucap apa –apa. Ni
tidak sempat duduk dikursi. Ia berdiri diluar rumah. Matanya memerah,
berkaca. Aku tahu, makin lama ia menatap ku, makin pula ia ingin
menangis. Tiba – tiba Ni mengambil tangan ku. Ia menyisipkan kertas. Aku
ingin menahan tangannya. Tapi Ni menolak. Aku melepaskannya. Ia
tersenyum. Aku tahu ia memaksakannya. Bibirnya bergeletar, Ah, Ni kenapa
kau melakukannya? Apakah engkau benar mencintai ku? Bahkan sekarang pun
kau tak pernah menjawab cinta ku. Ni mengucapkan salam, berpesan agar
aku hati – hati. Lalu ia berbalik meninggalkan ku. Aku tak sempat
berkata kata. Begitulah, terakhir kali aku menangkap wajahnya, Redup.
Diatas
bis perjalanan antar kota aku membuka kertas pemberian Ni. Berdebar aku
dibuatnya. Mungkinkah ia mengatakan perasaan cintanya pada ku melalui
tulisan?
Atau harapan – harapannya tentang hubungan kami? Mungkin
jug kenangan kami disenja hari? Aku membukanya. Beberapa tulisan
menyembul.
“Cahaya menyeruas sepanjang ambang
Aku, kau kembali sibuk memengut
Bayang – bayang kita disurga
Lalu misykat yang kau tawarkan. Hinggap:
Meminang zikir, mmeluk buncah
Mengirim rindu yang berikatan
Mungkin,
Bayang mu bayang ku tidak ada disurga?”
Ni
menulis sendiri. Aku tahu. Tetapi tampaknya ia menulis tergesa. Jika
saja ia mau menyiapkan, tulisannya akan lebih indah dari ini. Aku
termangu. Tak tahu apa maksudmu Ni. Apakah ia menerima cintaku? Ataukah
ia berputus asa tentang hubungan kami yang harus terputus cita – cita?
Mungkin juga dari dulu ia menganggapku sebagai ‘bayang – bayang’ yang
tak nyata? Ah, Ni apapun itu aku tetap mencintai mu. Sekarang, esok,
lusa dan yang akan datang.
Aku menyimpan tulisan Ni sebagaimana
menyimpan kenangan – kenangan berharga bersamanya. Entah kenapa cinta
kami terasa kian semakin muda, aku tak pernah merasa tua dalam bercinta.
Apalagi dengan Ni, ia selalu memberikan kesegaran. Tiap kali aku
mengenangnya maka seakan baru kemari aku meninggalkan Ni. Kadang, waktu
terasa demikian lama. Aku sungguh rindu Ni. Selama belajar ku diluar
kota, aku tak pernah bertemu dengannya. Bagaimana ia berupa sekarang?
Apakah tambah gemuk? Cantikkah ia? Mungkin matanya masih seperti dulu
atau Ni sudah mulai lupa denganku? Kekhawatiran – kekhawatiran itu
terkadang menjadi bayang yang menikam. Perasaan yang tak beralasan.
Kenapa aku harus sangsi dengan cintanya? Bukankah Ni seorang perempuan
yang setia. Tetapi waktu, bukankah telah mengalahkan cintaku? Tidak?!
Tetapi bagaimana dengan i?
Pagi ini aku seakan dilempar bergantang – gantang air.
Pintu
rumah ku digedor – gedor dengan keras! Aku berlari. Siapa lagi ini?
Setelah sekian tahun tidak ada yang menganggu ku. Baru kali ini ada yang
begitu memaksa mengetuk pintu. Aku membukanya. Mataku seakan melompat.
Didepan ku berdiri sesosok wanita. Lima tahun yang lalu. Aku masih
mengingatnya. Persis, tak ada yang berubah. Sedikit, hanya wajahnya saja
tampak pucat.
“Ni, kau...?”
“Ya, tepat! Aku yakin kau tak akan lupa. Boleh aku masuk?”
Belum
sempat aku menjawabnya, Ni menerobos tangan ku. Seakan ia tak
menghiraukan diriku. Begitu saja ia memasuki rumah lalu duduk
menghempaskan diri di sofa. Melemparkan tasnya, ia mengambil nafas
panjang. Menghela! Ia menyandarkan punggung pada sofa, kepala ikut ia
tidurka pula.
Aku masih terperangah. Tidak mempercayainya. Benarkah perempuan didepan ku ini adalah Ni?
Aku
duduk didepan Ni. Mengamatinya, kalau – kalau ia perempuan binal yang
mencari – cari cara untuk menguras harta seseorang. Meniru kawan lama,
apalagiseorang wanita. Tetapi, bukan! Dia adalah Ni. Benar – benar Ni.
Aku mengenal wajahnya seperti aku mengenal setiap serat wajahku.
Hidungnya, tulang pipinya, dagunya, apalagi matanya. Gugusan mata
menyabit jika tersenyum. Bulu mata merona ketika ditempa cahaya.
“kau jahat!” tiba- tiba Ni memotongku”
Aku diam. Tak paham maksudnya.
Ni mengambil minuman didepannya. Ar putih dingin, aku menyunguhkannya. Lalu cepat ia meneguknya.
“kenapa kau tidak menghubungiku? Atau setidaknya memberi kabar padaku?” ia diam sebentar. Sesekali menggeser gelas didepannya.
“kau
tahu?! Lima tahun adalah waktu yang panjang. Selama itu pula aku
menanti mu. Tetapi kau tak pernah menghubungiku. Kenapa?” Ni menatap ku
tajam. Seperti ia mengiris hatiku.
Ah, Ni seandainya kamu tahu.
Aku tak pernah cukup keeranian untuk menjenguk mu. Memang aku pernah
pulang. Tetapi hanya sekali pada tahun pertama. Itupun jika bukan karena
ayah yang memintaku pulang. Lalu aku bilang, jika aku belum selesai,
mendapat gelar, bekerja, pulang, lalu..menjemput mu. Tetapi? Mungkin aku
terlalu kerdil. Aku tak pernah punya keberanian untuk menghubungi mu.
Aku diam.
“Lima tahun!” Ni bergumam. Lalu kembali ia meneguk
minumnya dengan tergesa. “ kau tahu apa yang aku lakukan selama lima
tahun? Selama kau menunggu mu?”
Au menggeleng.
“setiap sore
ketika senja memanjang. Aku berjalan ditepian pematang. Menelusuri puisi
– puisi kita tentang cinta. Aku membayangkan kau berjalan dikanan ku.
Menikmati padi yang emas,melukis senja yang rona. Ah, betapa
menyenangkan saat itu. “ Ni manarik nafas panjang.
“Maafkan aku Ni. Sebenarnya aku...aku...”
“Aku
tahu. Kau tak cukup berani bukan? Sebenarnya juga salah ku kenapa aku
tidak berterus terang padamu. Sungguh yang kau rasakan, kurasakan juga.”
Suasana
sesaat diam. Aku tak berani menatap Ni. Seakan aku dikuasainya. Kami
mengembara dalam mimpi yang khidmat. Ah, pertanyaan selama lima tahun
terang sudah. Ni mencintaiku!
Kembali Ni meneguk minuman
didepannya. Habis. Ia lalu membuka tasnya. Membuka,seakan –akan mencari
sesuatu. Entah kenapa aku diam memperhatikannya. Mungkin aku belum
begitu sadar bahwa wanita didepanku, yang semakin cantik dan dewasa
adalah wanita yang memahatkan cinta dan mengukirnya. Dan sekarang, tiba –
tiba saja ia muncul dihadapanku. Seperti seorang dewi. Tiba – tiba saja
menjenguk orang – orang yang merindunya.
“ Aku membawakan mu bunga – bunga. Kau suka Kantil kan?”
Ni
membuka tasnya, ia menunjukkan pada ku. Tasnya berisi penuh bunga
–bunga. Semerbak Kantil yang giris. “Mana tas mu?Aku mau memasukan
Kantil ini kedalam tas mu”
Ni cekatan memindahkan bunga. Ada
berpuluh –puluh tangkai. Putih. Keharumannya yang legit membiusku. Aku
masih bisu, seperti tidurku yang terenggut mimpi.
Tiba – tiba Ni
berdiri. Ia mengambil lagi tasnya. Luruh Kantil telah penuh berada
dirongga- rongga tasku. Ia menatapku. Aku melihat mimpi yang purba
dimatanya. Keinginan –keinginan senja kala yang menuntun ku mengawal
mimpinya. Mungkinkah ia benar- benar ingin aku mendampingi mimpinya? Apa
ia tahu kalau aku selama ini begitu ingin hadir dalam tiap mimpinya? O,
mimpi yang terbang bersama jibril membawaku kembali menatap Ni laksana
bidadari. Aku ingin mimpi itu...
“ Aku harus kembali sekarang..”
Kembali sekarang?Aku masih diam.
“aku
harus pulang. Maaf aku telah menganggu harim” ia tersenyum. Sekali lagi
ia memandangku. Matanya menawarkan rindu. Ia menyalami ku bergegas
menuju pintu. Ia pulang!
Aku terpaku. Entah kenapa aku tidak
mencegahnya. Pulang? Ni mau pulang kemana? Kedesa ataukah ia punya
tempat tinggal dikota ini? Bagaimana ia tahu rumahku? Naik apa, dengan
siapa ia kesini? Ah, betapa bodohnya aku. Bukankah aku begitu ingin
bertemu dengannya? Tapi setelah Ni tiba – tia hadir didepanku aku kenapa
aku melepaskannya begitu saja? Bukankah aku ingin menceritakan
keberhasilan ku saat ini? Apa saja yang ia lakukan selama menunggu ku?
Apakah ia belajar pula diluar kota? Bagaimana kabar bapak ibunya? Lalu
tentang kenangan – kenganan saat senja, aku ingin mengatakan padanya
bahwa masa itu adalah saat terindah, laksana surga. Kenapa aku
membiarkannya pulang?
Aku memegang tas yang berisi penuh bunga
–bunga. Apakah Ni hanya ingin memberikan bunga itu padaku? Jauh-jauh
dari desa? Perjalanan sepanjang 3 hari 3 malam tidak mungkin hanya untuk
itu. Atau, apakah ia kecewa karena aku tidak memberikan tanggapan yang
sempurna? Seperti dulu, aku tidak pandai menghadapi wanita. Apalagi
dihadapan Ni. Tetapi....
Aku harus menyusulnya!
Kemana?
Kedesa! Lalu bagaimana jika ia mempunyai tempat tinggal atau saudara
dikota ini? Entahlah, yang aku tahu aku harus segera menyusulnya!
Aku
memutuskan menyusul Ni kedesa. Hanya itu tujuanku. Aku berpikiran, jika
aku tidak menemukan Ni setidaknya aku bisa menanyakan alamatnya yang
sekarang. Apalagi jika aku bisa bertemu dengannya, aku akan mengatakan
segala perasaanku. Tentang rinduku yang buncah, harapku yang redam, dan
mimpiku yang mengawan. Lalu aku akan minta kesediaannya untuk
mendampingi ku. Aku akan meminangnya!
Perjalanan ke desa terasa
sangat lama. Seakan jalan berlajur memanjang. Apalagi bayang – bayang Ni
memenuhi pikiranku. Aku ingin segera sampai. Meminta maaf atas segala
kekerdilanku. Sebagai seorang laki- laki seharusnya aku lebih berani.
Tetapi kenapa aku selalu terpenjara kekakuan-kekakuan yang seharusnya
sirna bertemu wanita.
Aku telah sampai. Segera akua menujuu rumah
Ni. Kelelahan sepanjang perjalanan hilang sudah. Aku yakin ia akan
terkejut dengan kehadiran ku. Pasti, ia akan sangat bahagia. Apalagi aku
akan segera maminangnya.
Didepan rumah aku menemukan ibu Ni. Ibu
tampaknya lupa padaku. Sedikit perkenalan lalu ibu tahu diriku. Bahkan
ibu bapak ku ia sebut pula. Aku tak berani langsung mananyakan Ni. Bahwa
tujuanku kesini ingin bertemu dengannya dan jika boleh meminangnya
pula. Lalu saat yang tepat kukira untuk segera bertanya.
“Dimana Ni?”
“Ni sudah dibawa suaminya, kepulau Sumatra. Suaminya orang Medan!”
Suami?Ni telah menikah...?!
Seperti
terjungkal aku mendengarnya. Lalu apa maksud bunga ini? Mungkinkah
sebuah kata perpisahan untuk cinta kami yang kabut? Atau ia kecewa
padaku sebab penantiannya yang begitu lama tak kunjung bermuara. Lalu
kenapa ia menikah diam-diam? Seandainya ia mau menunggu ku sebentar
saja, pasti surga akan turun kedunia. Ah, mungkin saja....
“Sejak kapan Ni dibawa?”
“ehm...tepatnya ibu kurang tahu. Tapi ada sekitar 3 tahun yang lalu!”
Aku
memekik. 3 tahun? Lalu siapa kemarin? Aku bingung. Seperti ada ekstase
penari – nari rumi. Apakah mimpi? Tidak, kemarin begitu nyata. Benar,
kemarin adalah Ni. Aku tak perlu ragu. Isa jadi ia sengaja meluangkan
waktunya untuk menjengukku. Lalu kenapa ia tidak bercerita langsung
tentang pernikahannya?
“tetapi kenapa Ni tidak pernah memberi kabar saya bu?”
Ibu diam,mukanya memerah.
“Maaf
nak, Ni sebenarnya ingin memberi kabar pernikahannya tetapi ia tidak
sempat. Bahkan...” ibu berhenti berucap. Mukanya semakin merah. Sedikit
pucat. “Ni meninggal sebelum sampai di Sumatra, kapalnya tenggelam
setelah menabrak karang!”
Ni meninggal?!
Seperti aku gila. Ketidakwarasan yang tiba – tiba menjana.
Ni
tadi telah menikah lalu sekarang.... meninggal? Gurauan yang lugu! Aku
tak percaya. Ni tiga hari yang lalu telah mengunjungiku, disiang hari
pula. Ni bahkan tampak semakin cantik dan dewasa. Ia memberiku
bertangkai –tangkai bunga. Ya, aku akan menunjukakkannya pada si ibu. Ku
cari Kanthil pemberian Ni. Sengaja aku membawanya. Aku menyelipkannya
dirongga – rongga tas bagian dalam. Aku akan menunjukkannya!
Tetapi....
Allah...! mataku terbelalak. Tidak ada Kantil apalagi wanginya. Bahkan tasku telah penuh berisi perca- perca melati dan Kenanga.
Bunga- bunga dari ladang ziarah!
ah Ni?