Selasa, 29 Mei 2012

KUPUNYAKUPU 1

Ada yang memaksa ingin ikut. memasrahkan nasibnya pada saya. Padahal saya sendiri sudah pasrah. Begitu banyak yang terjadi pada kami sehingga kami menyerah. Kelihatannya dia juga sama. ini bakal menyulitkan. Seperti dua orang buta bergandengan mencari sebuah tujuan. Tapi mungkin dia masih punya secercah harapan. Karena itu dia masih bisa memaksa, dan itulah yang membedakan.

Apa sebetulnya yang dia harapkan? saya mulai bertanya pada diri sendiri.

Ah, itu pertanyaan bodoh karena jawaban saya pasti berbeda dengan jawabannya. Sebab, kami pada dasarnya memang berbeda, di tambah lagi sekarang masing-masing sedang dalam suasana batin yang juga berbeda.

Matanya mengandung mendung. Diam-diamnya saya berharap mata yang tengah mengandung mendung itu tidak melahirkan titik-titik air. Runtuh membasahi pipi dan hidungnya yang bangir. Pipi dan hidung yang selalu memerah setiap kali dia sudah banyak minum bir. Pertanda dia mulai mabuk. Dan jika keinginannya tidak terpenuhi, dia akan dengan sangat mengamuk. Tidak peduli kami sedang di keramaian atau hanya berdua. Tidak peduli tingkahnya diperhatikan oleh beberapa oleh pasang mata.

"Kamu yakin?" akhirnya cuma itu yang bisa keluar dari mulut saya yang kering, campuran antara perasaan gundah dan terlalu banyak merokok. Gelass bir saya biarkan kosong agak lama. Saya tak berani meminta tambahan pada pelayan karena khawatir dia juga memesan bir lagi dan membuatnya semakin kehilangan kendali.

Jadi sekarang saya sudah terjebak dan seperti tidak punya pilihan apa-apa. Terjebak pada berbagai peristiwa yang terjadi di antara kami berdua. Terjebak dalam pertemuan tak sengaja di kafe langganan kami.. Terjebak oleh pengaruh alkhohol dari gelas-gelas bir yang kami minum sejak tadi. Dan kini terjebak bersama kelemahan hati saya sendiri.

"Sejak kapan saya tidak yakin?" Saya bertanya, justru karena kamu tidak pernah yakin!" jawabnya. Memecahkan jentik-jentik pikiran di kepala saya. Dan tanpa saya sadari saya melambaikan tangan ke arah pelayan. Satu bir lagi saya pesan. Satu tindakan yang ternyata adalah kesalahan saya. Karena dia pun memesan satu bir lagi. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang sebentar lagi akan terjadi.

Sabtu, 19 Mei 2012

Bahagianya hidupnya

entah apa lagi yang akan ku tulis saat hati bergetar, kala mata melihat sosok* indah dalam hidup. anak-anak yang soleh dan solehah seorang wanita yang selalu menguatkannya....tanpa banyak kata. santun, sederhana dan jauh dari gemerlap dunia . darinya dia belajar diam...belajar melihat dunia dan isinya dari sudut yang berbeda yang begitu mengesankan.

betapa bahagia nikmat hidupnya di kelilingi orang-orang yang penuh dengan senyum yang tersembunyi rapi kesedihannya, orang-orang yang slalu bersama Allah tanpa sedikitpun mereka lewatkan waktu untuk bertemu dengannnya. Hidupnya teramat bahagia saat di lihat dengan kasat mata. hanya gelingan air mata yang tersembunyi, kerinduan saat jauh dari malaikat hidupnya.


Ya Allah pintaku satu temukan aku paa malaikat hidupmu untuk bersama menggapai suatu keimanan yang tak tergoyahkan bersama malaikat hidupku yang menari indah .



Selasa, 15 Mei 2012

untukmu sahabat


Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan

Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan

Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian

Wahai angin pengembara
kabarkanlah kepadaku tentang dirinya

Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran
BY:KALIL GIBRAN
 





Jumat, 11 Mei 2012

adele someone like you


I heard that you’re settled down
That you found a girl and you’re married now
I heard that your dreams came true
Guess she gave you things I didn’t give to you

Old friend, why are you so shy?
It ain’t like you to hold back or hide from the lie

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn’t stay away, I couldn’t fight it
I hoped you’d see my face & that you’d be reminded
That for me, it isn’t over

Nevermind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don’t forget me, I beg, I remember you said
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yeah

You’d know how the time flies
Only yesterday was the time of our lives
We were born and raised in a summery haze
Bound by the surprise of our glory days

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn’t stay away, I couldn’t fight it
lyricsalls.blogspot.com
I hoped you’d see my face & that you’d be reminded
That for me, it isn’t over yet

Nevermind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don’t forget me, I beg, I remember you said
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead", yay

Nothing compares, no worries or cares
Regret’s and mistakes they’re memories made
Who would have known how bittersweet this would taste?

Nevermind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don’t forget me, I beg, I remembered you said
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"

Nevermind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don’t forget me, I beg, I remembered you said
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yeah

Minggu, 06 Mei 2012

Berikut Sang Perasaan

Perasaan apa yang hendak hadir kala malam tiba,
Kala tangis pecah dalam runtuhan masalah.
Kini yang hadir rasa yang tak mudah ku deteksi, 
Aku pun tak mampu mengatakan pada siapapun.
Hanya tangis yang kini merundungku.
Aku tahu allah sedang marah pada ku.
Tapi apa aku?
Selalu kesalahan di tiap detiknya .
Hingga semua membenciku.
Hingga semua jenuh padaku.
Hingga semua bosan akan ulah ku.
Tiada guna aku.
Caman itu mungkin yang cocok untukku.




Sabtu, 05 Mei 2012

Misykat Cinta

Dia mengulurkan setangkai bunga pada ku.
“Untuk ku?”
Anggukan kecil menuai mukanya. Manis, bisik ku.
Menerima bunga darinya seakan menerima keerkahan yang utuh dan purna. Ya, kenapa tidak? Bukankah sebuah penyerahan yang tulus akan mengembalikan seseorang pada kesejukan yang diam? Sunyi yang hangat, seperti dekapan di saat hujan.
“Kenapa engkau berikan bunga ini padaku?”
Diam.
Aku menunggu katanya.
Sepi. Hanya mata teduhnya menjawabku.
“Mungkin engkau ingin mengatakan sesuatu padaku?ada apa?”
Aku mengangkat bunga itu kepucuk hidungku. Menghirupnya dalam – dalam. Seakan nafasnya merayapi darahku. Mengusap dahaga yang pendam. Mencabik – cabik rindu. Setangkai kantil yang wangi. Menyurukku pada hangat yang merintik.
“ah, sudahlah jika kau tak mau mengatakan sesuatu. Bunga ini lebih dari seribu ucapan mu. Aku menyukainya, sungguh!jika boleh aku akan menyimpannya untukmu. Mungkin mengawetkannya, agar wanginya kian purna. Bolehkah?”
Dia mengangguk. Matanya berbinar. Sungguh, Tuhan lebih tahu bagaimana merangkai keindahan –keindahan yang berlaksa. Matanya lebar, bulu matanya tebal, dan ada semacam penghitam mata yang berkilatan yang tertimpa cahaya. Lalu jika ia tersnyum, sungguh, matanya menyipitseperti rembulan yang menyabit. Sempurna!
Aku menatapnya. Tatapan yang jujur. Kejujuran yang berhulu dari hati. Dia balas menatap ku. Aku tahu ia memberikan tatapan yang sama. Keinginan yang dewasa. Keinginan memegang tangannya. Menyimpan dibalik bajunya yang longgar. Jika sudah begitu aku pasti seakan didera malu bertalu. Kenapa begitu bodoh aku ingin memegang tangannya? Bukankah berkali – kali kulakukan hal yang sama, berkali juga ia memberikan tanggapan yang sama? Dia tidak pernah mau disentuh. Sekedar berpegang tangan?Ya! Katanya ia lebih suka hati kami saja yang bercengkrama. Bergandengan mengembara dibalik lorong – lorong yang rindu, perdu yang lebat oleh cinta.
“Maaf. Ah, betapa bodohnya aku. Kenapa aku mengulanginya lagi pada mu?”
Muka ku merah padam. Sungguh malu aku dibuatnya. Apalagi dia tidak pernah marah. Justru senyumnya semakin merekah membuatku semakin kerdil. Biasanya aku akan menatap tanah lalu mencari ujung – unjung baju ku. Tapi saat ini aku justru menatap matannya, menerima senyumannya. Apakah penantian selama ini untukku? Apakah hanya pada ku saja menyerahkan senyuman nirwana? Hingga segala yang ia miliki tampak begitu indah.
Kami saling diam.
“ aku, sungguh! Aku sayang kamu...”
Dia tersipu. Mukany memerah. Lalu ia tundukkan pandangan. Aku paling suka jika ia begitu. Aku tahu ia tersipu, tetapi bukan malu, justru kebahagiaan yang purna atas pengakuan tulus dari laki – laki yang ia cinta. Dia mencintai ku? Mungkin, setidaknya itulah pandangan ku. Tapi apa ia pernah mengungkapkan perasaan cintanya? Tidak, ia tidak pernah. Tetapi bukankah matanya yang berkaca dan bibirnya yang bergetarcukup menjadi jawaban yang kekal? Bahwa dia juga membalas cintaku. Aku yakin.
Biasanya dia akan mengajakku berjalan – jalan. Menyusuri ladang bunga, sawah padi yang emas. Semua terasa indah, kebahagiaan yang purna meriap disimpuh rerumputan. Pematang yng panjang seakan pendek mengukur perasaan kami. Cinta kami memang aneh, atau setidaknya hubungan kami dimata orang –orang. Dia tidak pernah mau berjalan disisi ku ataupun didepan ku. Ia lebih suka berjalan dibelakang ku. Katanya laki – laki adalah pemuka dirinya. Jika aku paksa ia berjalan disebelah ku, maka ia meminta ku bersumoah untuk tidak memegang tangannya. Hanya berjalan, ya berjalan bersisian.
Seperti saat ini, ia mulai berjalan dibelakang ku. Tetapi, kemudian berjalan disampingku. Aku tidak memintanya tetapi ia sendiri yang melakukannya. Mungkin ia akan meminta aku memegang tangannya, mengandengnya lalu merangkulnya. Sepanjang jalan kami berpelukan. Menyenangkan! Hingga padi pasti akan tampak lebih kuning emasnya, agar ladang lebih wangi bunga – bunganya, agar mesra berpilin – pilin mengulir dada. Agar... tolol! Pikiran yang konyol. Dia berjalan disisi kiriku. Aku tidak berani memandangnya, sekali waktu melirik apakah ia juga berpura – pura tidak menatap ku. Tetapi tampaknnya ia sungguh tidak menatap ku. Makin cinta saja aku dibuatnya.
Ni, bagiku selaksa hadiah dari surga.
Kami berjalan menysuri desa, lalu kembali kerumah menjelang senja. Bagiku senja bagaikan oase, sebab senja menghadirkan Ni yang sederhana temaramnya meniupkan lebut hidup. Merahnya mendekapku akan kenangan – kenangan kekal. Sepinya, menuntun ku untuk mereguk nafas Ni yaalun mengisi dahaga. Apalagi keting ka aku mengantarkannya pulang. Sebelum ia memasuki rumah pasti ia akan mengucapkan terimakasih kepada ku. Atas waktu ku menemaninya. Lalu ia tersenyum. Saat itulah aku tahu bahwa aku harus pulang, ia menunggu ku hilang dari pandangan. Ni tidak akan memasuki rumah sebelum aku hilang dibelokan jalan. Lalu lambaian tangannya mengantarkan aku pada harap yang berpuncak pucak mengetuk langit menerbangkan mimpi ku pada sayap – sayap yang perkasa. Melontarkan pasrah ku pada dekapan cinta
Ni adalah hadiah terindah dari surga.
Tiba – tiba kami berpisah! Aku harus keluar kota. Melanjutkan studi. Sebenarnya aku tak mau. Aku ingin tetap bersama Ni. Menemaninya sepanjang waktu adalah impianku. Tapi bapak memaksaku. Katanya agar aku menjadi laki – laki yang berjiwa. Pendidikan seorang akan menentukanletak kehormatannya dimata orang – orang, begitu tambahnya. Aku menurut saja.
Ni hanya menatapku. Ia tidak mengantarkan aku sampai keterminal kota. Ia berkunjung kerumah ku. Sendirian. Aku tidak sampai hati memandangnya. Jelas, ada pilu yang menggurat di muka. Aku tahu kesedihannya lebih dari ucapannya. Ia tidak berucap apa –apa. Ni tidak sempat duduk dikursi. Ia berdiri diluar rumah. Matanya memerah, berkaca. Aku tahu, makin lama ia menatap ku, makin pula ia ingin menangis. Tiba – tiba Ni mengambil tangan ku. Ia menyisipkan kertas. Aku ingin menahan tangannya. Tapi Ni menolak. Aku melepaskannya. Ia tersenyum. Aku tahu ia memaksakannya. Bibirnya bergeletar, Ah, Ni kenapa kau melakukannya? Apakah engkau benar mencintai ku? Bahkan sekarang pun kau tak pernah menjawab cinta ku. Ni mengucapkan salam, berpesan agar aku hati – hati. Lalu ia berbalik meninggalkan ku. Aku tak sempat berkata kata. Begitulah, terakhir kali aku menangkap wajahnya, Redup.
Diatas bis perjalanan antar kota aku membuka kertas pemberian Ni. Berdebar aku dibuatnya. Mungkinkah ia mengatakan perasaan cintanya pada ku melalui tulisan?
Atau harapan – harapannya tentang hubungan kami? Mungkin jug kenangan kami disenja hari? Aku membukanya. Beberapa tulisan menyembul.
“Cahaya menyeruas sepanjang ambang
Aku, kau kembali sibuk memengut
Bayang – bayang kita disurga
Lalu misykat yang kau tawarkan. Hinggap:
Meminang zikir, mmeluk buncah
Mengirim rindu yang berikatan
Mungkin,
Bayang mu bayang ku tidak ada disurga?”
Ni menulis sendiri. Aku tahu. Tetapi tampaknya ia menulis tergesa. Jika saja ia mau menyiapkan, tulisannya akan lebih indah dari ini. Aku termangu. Tak tahu apa maksudmu Ni. Apakah ia menerima cintaku? Ataukah ia berputus asa tentang hubungan kami yang harus terputus cita – cita? Mungkin juga dari dulu ia menganggapku sebagai ‘bayang – bayang’ yang tak nyata? Ah, Ni apapun itu aku tetap mencintai mu. Sekarang, esok, lusa dan yang akan datang.
Aku menyimpan tulisan Ni sebagaimana menyimpan kenangan – kenangan berharga bersamanya. Entah kenapa cinta kami terasa kian semakin muda, aku tak pernah merasa tua dalam bercinta. Apalagi dengan Ni, ia selalu memberikan kesegaran. Tiap kali aku mengenangnya maka seakan baru kemari aku meninggalkan Ni. Kadang, waktu terasa demikian lama. Aku sungguh rindu Ni. Selama belajar ku diluar kota, aku tak pernah bertemu dengannya. Bagaimana ia berupa sekarang? Apakah tambah gemuk? Cantikkah ia? Mungkin matanya masih seperti dulu atau Ni sudah mulai lupa denganku? Kekhawatiran – kekhawatiran itu terkadang menjadi bayang yang menikam. Perasaan yang tak beralasan. Kenapa aku harus sangsi dengan cintanya? Bukankah Ni seorang perempuan yang setia. Tetapi waktu, bukankah telah mengalahkan cintaku? Tidak?! Tetapi bagaimana dengan i?
Pagi ini aku seakan dilempar bergantang – gantang air.
Pintu rumah ku digedor – gedor dengan keras! Aku berlari. Siapa lagi ini? Setelah sekian tahun tidak ada yang menganggu ku. Baru kali ini ada yang begitu memaksa mengetuk pintu. Aku membukanya. Mataku seakan melompat. Didepan ku berdiri sesosok wanita. Lima tahun yang lalu. Aku masih mengingatnya. Persis, tak ada yang berubah. Sedikit, hanya wajahnya saja tampak pucat.
“Ni, kau...?”
“Ya, tepat! Aku yakin kau tak akan lupa. Boleh aku masuk?”
Belum sempat aku menjawabnya, Ni menerobos tangan ku. Seakan ia tak menghiraukan diriku. Begitu saja ia memasuki rumah lalu duduk menghempaskan diri di sofa. Melemparkan tasnya, ia mengambil nafas panjang. Menghela! Ia menyandarkan punggung pada sofa, kepala ikut ia tidurka pula.
Aku masih terperangah. Tidak mempercayainya. Benarkah perempuan didepan ku ini adalah Ni?
Aku duduk didepan Ni. Mengamatinya, kalau – kalau ia perempuan binal yang mencari – cari cara untuk menguras harta seseorang. Meniru kawan lama, apalagiseorang wanita. Tetapi, bukan! Dia adalah Ni. Benar – benar Ni. Aku mengenal wajahnya seperti aku mengenal setiap serat wajahku. Hidungnya, tulang pipinya, dagunya, apalagi matanya. Gugusan mata menyabit jika tersenyum. Bulu mata merona ketika ditempa cahaya.
“kau jahat!” tiba- tiba Ni memotongku”
Aku diam. Tak paham maksudnya.
Ni mengambil minuman didepannya. Ar putih dingin, aku menyunguhkannya. Lalu cepat ia meneguknya.
“kenapa kau tidak menghubungiku? Atau setidaknya memberi kabar padaku?” ia diam sebentar. Sesekali menggeser gelas didepannya.
“kau tahu?! Lima tahun adalah waktu yang panjang. Selama itu pula aku menanti mu. Tetapi kau tak pernah menghubungiku. Kenapa?” Ni menatap ku tajam. Seperti ia mengiris hatiku.
Ah, Ni seandainya kamu tahu. Aku tak pernah cukup keeranian untuk menjenguk mu. Memang aku pernah pulang. Tetapi hanya sekali pada tahun pertama. Itupun jika bukan karena ayah yang memintaku pulang. Lalu aku bilang, jika aku belum selesai, mendapat gelar, bekerja, pulang, lalu..menjemput mu. Tetapi? Mungkin aku terlalu kerdil. Aku tak pernah punya keberanian untuk menghubungi mu. Aku diam.
“Lima tahun!” Ni bergumam. Lalu kembali ia meneguk minumnya dengan tergesa. “ kau tahu apa yang aku lakukan selama lima tahun? Selama kau menunggu mu?”
Au menggeleng.
“setiap sore ketika senja memanjang. Aku berjalan ditepian pematang. Menelusuri puisi – puisi kita tentang cinta. Aku membayangkan kau berjalan dikanan ku. Menikmati padi yang emas,melukis senja yang rona. Ah, betapa menyenangkan saat itu. “ Ni manarik nafas panjang.
“Maafkan aku Ni. Sebenarnya aku...aku...”
“Aku tahu. Kau tak cukup berani bukan? Sebenarnya juga salah ku kenapa aku tidak berterus terang padamu. Sungguh yang kau rasakan, kurasakan juga.”
Suasana sesaat diam. Aku tak berani menatap Ni. Seakan aku dikuasainya. Kami mengembara dalam mimpi yang khidmat. Ah, pertanyaan selama lima tahun terang sudah. Ni mencintaiku!
Kembali Ni meneguk minuman didepannya. Habis. Ia lalu membuka tasnya. Membuka,seakan –akan mencari sesuatu. Entah kenapa aku diam memperhatikannya. Mungkin aku belum begitu sadar bahwa wanita didepanku, yang semakin cantik dan dewasa adalah wanita yang memahatkan cinta dan mengukirnya. Dan sekarang, tiba – tiba saja ia muncul dihadapanku. Seperti seorang dewi. Tiba – tiba saja menjenguk orang – orang yang merindunya.
“ Aku membawakan mu bunga – bunga. Kau suka Kantil kan?”
Ni membuka tasnya, ia menunjukkan pada ku. Tasnya berisi penuh bunga –bunga. Semerbak Kantil yang giris. “Mana tas mu?Aku mau memasukan Kantil ini kedalam tas mu”
Ni cekatan memindahkan bunga. Ada berpuluh –puluh tangkai. Putih. Keharumannya yang legit membiusku. Aku masih bisu, seperti tidurku yang terenggut mimpi.
Tiba – tiba Ni berdiri. Ia mengambil lagi tasnya. Luruh Kantil telah penuh berada dirongga- rongga tasku. Ia menatapku. Aku melihat mimpi yang purba dimatanya. Keinginan –keinginan senja kala yang menuntun ku mengawal mimpinya. Mungkinkah ia benar- benar ingin aku mendampingi mimpinya? Apa ia tahu kalau aku selama ini begitu ingin hadir dalam tiap mimpinya? O, mimpi yang terbang bersama jibril membawaku kembali menatap Ni laksana bidadari. Aku ingin mimpi itu...
“ Aku harus kembali sekarang..”
Kembali sekarang?Aku masih diam.
“aku harus pulang. Maaf aku telah menganggu harim” ia tersenyum. Sekali lagi ia memandangku. Matanya menawarkan rindu. Ia menyalami ku bergegas menuju pintu. Ia pulang!
Aku terpaku. Entah kenapa aku tidak mencegahnya. Pulang? Ni mau pulang kemana? Kedesa ataukah ia punya tempat tinggal dikota ini? Bagaimana ia tahu rumahku? Naik apa, dengan siapa ia kesini? Ah, betapa bodohnya aku. Bukankah aku begitu ingin bertemu dengannya? Tapi setelah Ni tiba – tia hadir didepanku aku kenapa aku melepaskannya begitu saja? Bukankah aku ingin menceritakan keberhasilan ku saat ini? Apa saja yang ia lakukan selama menunggu ku? Apakah ia belajar pula diluar kota? Bagaimana kabar bapak ibunya? Lalu tentang kenangan – kenganan saat senja, aku ingin mengatakan padanya bahwa masa itu adalah saat terindah, laksana surga. Kenapa aku membiarkannya pulang?
Aku memegang tas yang berisi penuh bunga –bunga. Apakah Ni hanya ingin memberikan bunga itu padaku? Jauh-jauh dari desa? Perjalanan sepanjang 3 hari 3 malam tidak mungkin hanya untuk itu. Atau, apakah ia kecewa karena aku tidak memberikan tanggapan yang sempurna? Seperti dulu, aku tidak pandai menghadapi wanita. Apalagi dihadapan Ni. Tetapi....
Aku harus menyusulnya!
Kemana? Kedesa! Lalu bagaimana jika ia mempunyai tempat tinggal atau saudara dikota ini? Entahlah, yang aku tahu aku harus segera menyusulnya!
Aku memutuskan menyusul Ni kedesa. Hanya itu tujuanku. Aku berpikiran, jika aku tidak menemukan Ni setidaknya aku bisa menanyakan alamatnya yang sekarang. Apalagi jika aku bisa bertemu dengannya, aku akan mengatakan segala perasaanku. Tentang rinduku yang buncah, harapku yang redam, dan mimpiku yang mengawan. Lalu aku akan minta kesediaannya untuk mendampingi ku. Aku akan meminangnya!
Perjalanan ke desa terasa sangat lama. Seakan jalan berlajur memanjang. Apalagi bayang – bayang Ni memenuhi pikiranku. Aku ingin segera sampai. Meminta maaf atas segala kekerdilanku. Sebagai seorang laki- laki seharusnya aku lebih berani. Tetapi kenapa aku selalu terpenjara kekakuan-kekakuan yang seharusnya sirna bertemu wanita.
Aku telah sampai. Segera akua menujuu rumah Ni. Kelelahan sepanjang perjalanan hilang sudah. Aku yakin ia akan terkejut dengan kehadiran ku. Pasti, ia akan sangat bahagia. Apalagi aku akan segera maminangnya.
Didepan rumah aku menemukan ibu Ni. Ibu tampaknya lupa padaku. Sedikit perkenalan lalu ibu tahu diriku. Bahkan ibu bapak ku ia sebut pula. Aku tak berani langsung mananyakan Ni. Bahwa tujuanku kesini ingin bertemu dengannya dan jika boleh meminangnya pula. Lalu saat yang tepat kukira untuk segera bertanya.
“Dimana Ni?”
“Ni sudah dibawa suaminya, kepulau Sumatra. Suaminya orang Medan!”
Suami?Ni telah menikah...?!
Seperti terjungkal aku mendengarnya. Lalu apa maksud bunga ini? Mungkinkah sebuah kata perpisahan untuk cinta kami yang kabut? Atau ia kecewa padaku sebab penantiannya yang begitu lama tak kunjung bermuara. Lalu kenapa ia menikah diam-diam? Seandainya ia mau menunggu ku sebentar saja, pasti surga akan turun kedunia. Ah, mungkin saja....
“Sejak kapan Ni dibawa?”
“ehm...tepatnya ibu kurang tahu. Tapi ada sekitar 3 tahun yang lalu!”
Aku memekik. 3 tahun? Lalu siapa kemarin? Aku bingung. Seperti ada ekstase penari – nari rumi. Apakah mimpi? Tidak, kemarin begitu nyata. Benar, kemarin adalah Ni. Aku tak perlu ragu. Isa jadi ia sengaja meluangkan waktunya untuk menjengukku. Lalu kenapa ia tidak bercerita langsung tentang pernikahannya?
“tetapi kenapa Ni tidak pernah memberi kabar saya bu?”
Ibu diam,mukanya memerah.
“Maaf nak, Ni sebenarnya ingin memberi kabar pernikahannya tetapi ia tidak sempat. Bahkan...” ibu berhenti berucap. Mukanya semakin merah. Sedikit pucat. “Ni meninggal sebelum sampai di Sumatra, kapalnya tenggelam setelah menabrak karang!”
Ni meninggal?!
Seperti aku gila. Ketidakwarasan yang tiba – tiba menjana.
Ni tadi telah menikah lalu sekarang.... meninggal? Gurauan yang lugu! Aku tak percaya. Ni tiga hari yang lalu telah mengunjungiku, disiang hari pula. Ni bahkan tampak semakin cantik dan dewasa. Ia memberiku bertangkai –tangkai bunga. Ya, aku akan menunjukakkannya pada si ibu. Ku cari Kanthil pemberian Ni. Sengaja aku membawanya. Aku menyelipkannya dirongga – rongga tas bagian dalam. Aku akan menunjukkannya!
Tetapi....
Allah...! mataku terbelalak. Tidak ada Kantil apalagi wanginya. Bahkan tasku telah penuh berisi perca- perca melati dan Kenanga.
Bunga- bunga dari ladang ziarah!
ah Ni?


Sulit Tuk Dikatakan







Kini ku terbelenggu dengan sikapmu.
Setitik harapan tersisa di sana.
Di lubuk hatiku.
Tiadakah kau mengerti.
Aku berharap slalu dekat denganmu.
Percayalah aku cinta kamu.
Tiada satu kata pun yang indah.
Untuk ku ucapkan kepadamu.
Karenanya aku memilih diam.
Aku cinta kamu.
Namun... Namun..
Tiada dewa penolongku.
Untuk ucapkan.
Aku cinta kamu.
Aku sayang kamu.