Ada yang memaksa ingin ikut. memasrahkan nasibnya pada saya. Padahal saya sendiri sudah pasrah. Begitu banyak yang terjadi pada kami sehingga kami menyerah. Kelihatannya dia juga sama. ini bakal menyulitkan. Seperti dua orang buta bergandengan mencari sebuah tujuan. Tapi mungkin dia masih punya secercah harapan. Karena itu dia masih bisa memaksa, dan itulah yang membedakan.
Apa sebetulnya yang dia harapkan? saya mulai bertanya pada diri sendiri.
Ah, itu pertanyaan bodoh karena jawaban saya pasti berbeda dengan jawabannya. Sebab, kami pada dasarnya memang berbeda, di tambah lagi sekarang masing-masing sedang dalam suasana batin yang juga berbeda.
Matanya mengandung mendung. Diam-diamnya saya berharap mata yang tengah mengandung mendung itu tidak melahirkan titik-titik air. Runtuh membasahi pipi dan hidungnya yang bangir. Pipi dan hidung yang selalu memerah setiap kali dia sudah banyak minum bir. Pertanda dia mulai mabuk. Dan jika keinginannya tidak terpenuhi, dia akan dengan sangat mengamuk. Tidak peduli kami sedang di keramaian atau hanya berdua. Tidak peduli tingkahnya diperhatikan oleh beberapa oleh pasang mata.
"Kamu yakin?" akhirnya cuma itu yang bisa keluar dari mulut saya yang kering, campuran antara perasaan gundah dan terlalu banyak merokok. Gelass bir saya biarkan kosong agak lama. Saya tak berani meminta tambahan pada pelayan karena khawatir dia juga memesan bir lagi dan membuatnya semakin kehilangan kendali.
Jadi sekarang saya sudah terjebak dan seperti tidak punya pilihan apa-apa. Terjebak pada berbagai peristiwa yang terjadi di antara kami berdua. Terjebak dalam pertemuan tak sengaja di kafe langganan kami.. Terjebak oleh pengaruh alkhohol dari gelas-gelas bir yang kami minum sejak tadi. Dan kini terjebak bersama kelemahan hati saya sendiri.
"Sejak kapan saya tidak yakin?" Saya bertanya, justru karena kamu tidak pernah yakin!" jawabnya. Memecahkan jentik-jentik pikiran di kepala saya. Dan tanpa saya sadari saya melambaikan tangan ke arah pelayan. Satu bir lagi saya pesan. Satu tindakan yang ternyata adalah kesalahan saya. Karena dia pun memesan satu bir lagi. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang sebentar lagi akan terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar