June 9th, 2012
*rekomendasi
untuk membaca ini lebih enak di iringi lagu Kelly Clarkson “Because Of You”.
Hari
ini hari pertama lagi aku datang ke kampus dimana aku sudah tak masuk selama
satu minggu. Untuk sebuah kebohongan belaka.
Yang hanya berawal dari keinginan ku untuk tak berada di kampus Global
Mulia untuk menghentikan kepalsuan yang telah ku buat. Aku harus merelakan
tubuhku terbakar api kebohongan di neraka nanti. Untuk sebuah pengakuan dari
orang if i can. Aku bisa lebih dari mereka, yang kini kusadari telah lama akku
menyalahi itu. Yah sepertinya kebohongan itu akan terkuak menyeruak
kepermukaan. Yah semakin dekat hari ku untuk keluar dari Global Mulia dimana
aku sudah menginjak usia 1 tahun berada di sana Ujian diploma ku pun semakin
dekat.
Hari
ini ada plan lagi untuk datang ke rumah salah satu teman ku. Imam Muhroji buat
acara bakar-bakar ayam di rumahnya untuk slametan born day him. Aku memang
berencana untuk hair dan kali ini aku tidak ingin membawa motor. Yah pengennya
sih bisa boncengan dan berbincang selama perjalanan ke rumah imam bersama Hafiz
mubarak. ( ku panggil dia dengan lengkap). Rencanaku aku berpura-pura tidak ada
motor dan pengancaman untuk tidak datang dan Imam mengusahakan untukku datang
di acara malam minggu di rumahnya. Aku sudah sms sama hafiz kalau aku gak
datang karena gak ada motor. Terus aku bilang juga “kalau dia gimana mau datang
gak’ jawabnya masih sama “InsyaAllah”. Tanpa malu lagi ku bilang padanya kalau
bisa aku nebeng sama dia dan ternyata dia sudah di charter duluan sama salah
satau teman wanitaku yang juga temannya namanya Fio. Ya sudah terpaksa aku Cuma
merasakan kekecewaan dalam hati dan menahan rasa yang menggelora dalam hati.
Mungkin tangis lebih tepatnya.
Sekedar
menghilangkan rasa kecewa aku mengajak ibuku ke mall yah hanya sekedar membeli
perlengkapan mandi saja lumayan merefresh sebelum kejadiaan yang tak
mengenakkan hati kan ku dapati. Di mall saat selesai belanja keperluan aku
menuju kasir dan yang ku tuju kasir dimana temanku yang bekerja di mall tersebut.
Dan ku lihat dia sedang sibuk memunguti belanjaan pelanggannya untuk di hitung.
Dia Lidia Natalia wanita cantik yang kini sedang sibuk bekerja. Sayang aku
salah antrian yah sudahlah nanti juga bisa berbincang dengannya kalau sudah ku
bayar juga belanjaanku. Sebelumnya malah ia yang menghampiriku. Sedikit
memberikan amanat padaku untuk imam “salam untuknya dan sederet doa untuknya
yang hanya dapat ku jawab dengan amiin Ya Rabbal allamin” yah hanya segitu saja
perbincangan ku dengannya di mall itu.
Saat
turun dari eskalator aku sempat bicara dengan mama ku kalau aku ada acara
bakar-bakar ayam di rumah imam. Lalu ku ceritakan tentang pintaku dengan Hafiz
yang malah Hafiz kecewakan begitu saja. Yah memang fio yang lebih dulu meminta
hafiz untuk datang bareng. Tapi tidakkah dia pahami hati ini apabila ia tolak?
Yah aku tahu dia ingin bersikap adil. Semoga saja pikiran itu benar dengan
nyatanya. Dan ini untuk kesekian kalinya ia buatku kecewa yang mendalam. Aku
mempercayainya kalau memang dia dan Fio hanya sama seperti biasa berteman tiada
hubungan spesial. Dan aku mempercayainya kalau perasaannya pun tidak lebih.
Kalaupun lebih itu haknya aku tidak dapat melarangnya hanya dapat menahan
tumpukan rasa kecewa yang lagi-lagi kurasakan. Karena aku bukan siapa-siapanya.
Aku takut kata “ibu aja yang orang tua gue gak pernah kaya gitu, lo bukan
siapa-siapa gue bisa ngomong kaya gitu”. Aku sungguh takut dengan perkataan itu
aku tidak ingin menahan kecewaku dan menekan egoku kepadanya. Biarkan hati ini yang mengelana dan membiarkannya hilang
dengan sendirinya.
Sesampai
aku di dekat rumah imam ternyata jalan dekat rumahnya di cor jadi haris puter
dan jalannya gak tau harus kemana. Hanya satu jalan yang dapat ku berikan pada
Dini yang tadi menjemputku pergi ke rumah imam. Tapi ternyata pengelanaan mlam
itu sudah cukup gak tau jalan lagi akhirnya kembali lagi dan menunggu imam
sampai ia jemput kami di sini. Dan akhirnya 5 menit kemudian ku lihatnya dari
arah yang berlainan dari rumahnya. Ya akhirnya kami di tuntun menuju rumahnya
yang rindang dengan pepohonan. Imam menyapa dengan hangat apa karena Dini yang
ku bawa karena Dini pernah menjadi pacar Imam. Dan sepertinya mereka masih
mempunyai perasaan. Langsung pikiran ku mengelana andai Hafiz seperti Imam
mungkin Kecewa sedikit HILANG meski SEDIKIT, kecewa kan ku trima. Tapi malah
aku masih menerima kekecewaan yang bertumpuk di lubuk hati ini untuk kesekian
kalinya. Aku hanya bisa menguatkan hati, aku hanya bisa mengontrol emosiku,
amarah cintaku, yang diam-diam selama 30 menit aku merasa aku berbeda seperti
biasa. Aku pun tak paham perasaan apa yang akan menyeruak, untung ku tahan dan
ku kontrol kembali emosi-emosi karena kekecewaanku.
Yang
selama itu ia datang untuk kehadirannya malam itu. Dan mencoba menyapaku tapi
entah ia hendak berkata apa namun ia tahan. Di kondisi itu aku memang berada
pada dekat dengan imam dan dini yang sedang mencoba menyalakan api untuk
membakar ayam yang sedari tadi tidak nyala juga. Dan saat Hafiz dan fio datang
aku memang berada di sana. Mencoba membantu Imam. Yang mencoba menyibukkan diri
dalam pergulatan emosi dalam benak. Dalam waktu yang bersamaan aku mencoba
mengkontrol emosi-emosi itu, dan aku harus bergulat dengan rasa tangis, kecewa,
senang di saat dia hadir di hadapan ku. Tanpa rasa salah datang dia di hadapku,
stylenya masih seperti kemarin tanggal 27 mei 2012 yang dimana kita datang
bersamaan untuk acara resmi yang di bilang fifi serasi. Dalam hati hanya dapat
ku aminkan dan di luar ku mengelaknya. Itulah aku dan segenap perasaanku tentangnya
selama 30 menit,. Salah tingkah mencoba manis dari rasa senangku dia hadir dan
emosiku keluar tanpa permisi saat ku kipas bara api yang menggebu-gebu besar
panasnya, sama seperti emosiku.
Lalu
kini malah bergantian sepanjang malam itu dia tunjukkan sikap yang aneh. Aku
bahkan tak menemui sosok dia yang biasa ku temui. Ya memang akhir-akhir ini
sikapnya amat berbeda. Selama ini belum ia tunjukkan padaku sikap yang seperti
ini. Seperti merasa bersalah lalu dia mencoba dekat dengan ku mungkin mencoba
menyembuhkan rasa kecewa itu. Akupun tidak mengetahuinya, dia hanya dapat
melihat dari bangku yang berada agak jauh dari beranda rumah melihat canda tawa
yang lepas di beranda rumah yang tenang dari keramaian kota. Tanpa ikut dalam
lepasnya canda malam itu. Tapi yang aku lihat dari sorot matanya memandang
wanita yang ia jemput bukan padaku.
Lebur
tangisku dengan tawaku yang kencang mungkin tak ketahuan galaunya rasa hati ini.
Di tambah lagi saat makan dia tak lihat aku di depannya yang ia lihat wanita itu
lagi masih ingat di pikiranku perbincangan makan diantara mereka yang diam-diam
ku perhatikan. Meski tak melihat hanya melirik aku tahu betul bahasa tubuh
mereka yang mereka gerakkan. Sebegitu hafalnya aku tentang mu. Ataukah sebegitu
cintanya aku padamu hingga ku tahu bahasa tubuh yang sering kau tunjukkan.
Perbincangan itu membuatku makin panas saja.
Wanita
itu memang kecil, yah kalau pikiran anak cowok yang lain mereka bilang Fio itu
imut, fio itu montok, dengan postur tubuh yang kecil. Aaah bagiku dia kayak
anak SD yang baru saja lulus. Tapi pikiran jahat dia, melebihi ibu-ibu yang
dendam dengan madunya. Mungkin itu hanya presepsi jahatku saat aku mencemburui
Hafiz bersamanya.
Aku
tidak ingin di cap sebagai wanita jahat yang mencap seseorang dengan ego
besarku. So aku hanya minta kesabaran yang lebih untuk kejadian malam itu.
Menahan tangis, menahan amarah ku saat Hafiz memanjakan wanita itu. Mungkin
kalau saja Allah tak memberiku kesabaran yang lebih. Mungkin aku akan
menjenggut rambut Hafiz lalu mengadukannya ke kepala wanita itu dengan
sekeras-kerasnya. Lalu aku akan pergi bersama linangan air mata yang mengalir
deras. Tanpa hiraukan keadaan sekitar. Tapi Allah masih menyayangi ku agar aku
tidak masuk dalam amarah setan yang makin hebatnya merayuku untuk marah.
Perbincangan
itu buat ku muak.
“Fi,
boneka patricknya di taruh dulu aja Fi kan lagi makan.!”
Melirik sambil menahan air mata, Lalu malah di
tanggapi olehnya. Sebegitu hebatnya Allah turunkan kesabaran padaku di malam
minggu itu.
“hehehe
(sambil nyengir manja) lupa fiz abis bonekanya itu enak di pegang.”
Dan
di sini rasanya aku ingin sekali teriak sekencang-kencangnya.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Aku
meneriaki diriku dalam hati. Karena aku tak mampu teriak di malam itu hanya
dalam hati yang mendengar hanya hati yang dapat memahami teriakkan ku.
Belum
selesai sampai di sini. Tiba-tiba ayah ku telephone dan berkata “sudah malam
kamu dimana gak pantes jadi perempuan jam segini belum pulang, di tambah lagi
perginya gak jelas” aku hanya dapat berkata “ya pak” dan pembicaraan di
telephone selesai tanpa salam seperti biasanya. Aku hanya bisa bilang sama Imam
dan Dini kalau ayah ku sudah menelpon dan meminta ku segera pulang ya tadinya
pun aku maunya setelah selesai tanpa makan aku mau pulang. Namun yah aku sadar
diri aku nebeng sama Dini, sedang Dini sepertinya masih betah di rumah Imam.
Setelah membereskan berantakannya rumah Imam, akhirnya aku sama Dini pulang
juga dan sebelumnya juga Hafiz sudah pamit terlebih dahulu. Di sini aku
melihatnya menyembunyikan sebait kata yang mungkin hendak ia katakan tapi tidak
jadi untuk di katakan. Lalu pamitlah ia dari rumah Imam.
Dan
tak lama kemudian aku dan Dini juga menyusul dan ternyata dia masih di sudut
itu bersama Fio yang mencoba bergegas tapi tertahan karena hadirnya Hayat.
Hayat salah satu teman kita juga yang dulu pernah bersama sampai sekarang ia
datang di akhir acara. Datang perkumpulan yang kurang bagus. Dan akhirnya
bergegas pergi secara beriringan tapi ku minta untuk Dini menyalip motor Hafiz
karena aku tak tahan dengan pemandangan itu. Hafiz dan Fio berboncengan, yang
seharusnya aku yang di sana. Dan akhirnya mereka balik menyalip kami yang asik
menggosip di atas motor. Mereka ngibrit dengan cepat tanpa menunggui ku. Yang
padahal dulu kalau pun aku di belakang pasti aku di tunggui olehnya. Tapi ini
TIDAK SAMA SEKALI. Makin lengkap saja kekecewaanku malam itu.
Dan
akhirnya aku menangis lagi dalam tulisan di buku diary ku. Yang slalu ku basahi
dengan air mata dan bahagia. Dan meski harus diketahui sebesar apapun
kekecewaan itu, takkan mampu merubah perasaan yang tidak di paksa sudah singgah
lama di hati ini.
Kau
hanya mampu membiarkan luka ini menganga begitu saja. kau yang menyakiti tapi
aku yang harus bersi keras untuk mengobatinya sendiri.
Sebegitu
teganya, dan tidak pedulinya dia tehadap diri ini yang sudah terang-terangan
mencintainya dengan ketulusan hati, tanpa melihat apa yang lebih darinya.
Bahkan ku tolak cinta orang yang sudah mencintaiku karena aku lebih mencintai
mu Hafiz.
Tak
pernah kah kau sadar ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar