Selasa, 27 November 2012

Ya Ampyun....


Wotu, Tanggal 30 November 2010.
Gak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini aku gak tidur lagi setelah shalat subuh. Sudah beberapa hari ini aku coba merubah ritme kegiatanku. Biasanya aku tidur di atas jam 12 malam, paling banter ampe jam 3 pagi. Lalu sekitar jam 5 pagi aku bangun untuk shalat subuh, setelah itu tidur lagi karena masih mengantuk. Dan baru bangun sekitar jam 9 atau paling parah jam 11 lewat. Saat itu barulah aku memulai aktivitas di pagi hari*ya ela itu mah dah siang. Cekcekcek bener-bener kebiasaan yang gak sehat. Jangan ditiru ya teman-teman.
Tapi kali ini aku coba untuk mengurangi jam begadang sampai jam 12 malam saja. Sebelum tidur shalat malam dulu dan ngaji beberapa lembar. Lalu jam 5 pagi bangun tuk shalat subuh dan setelah itu gak tidur lag tapi langsung memulai aktivitas di pagi hari. Beres-beres kamar trus sarapan. Setelah sarapan langsung ngeDJ alias cuci piring. Setelah semua pekerjaan rumah beres, aku memilih mengambil pulpen dan mulai corat-coret di atas buku ajiabku, membuat kerangka cerita tuk diketik malam harinya. Dan biasanya sambil nyoret-nyoret aku juga chating plus ketiduran kalau udah nguantuk banget, hihihi. Semoga ritme ini bisa bertahan lama, hohoho jangan sampe cuma panas-panas tahi ayam alias semangat cuma di awal-awal tapi pas dah pertengahan malah kembali ke ritme yang dulu.
Pagi ini aku disuruh mama buat sarapan tuk adik-adikku tercinta Nunung dan Janet. Telurpun aku kocok dan dadar di atas pak wajan. Hem…jadi laper. Sesekali aku menengok televisi, papa masih sibuk mencari chanel yang tepat. Hem…gak ada acara yang menarik, pikirku. Tapi beberapa menit kemudian, mataku langsung terpaku ke arah televisi, aku tak mengedipkan mataku meski sejenak*halah lebay. Papa menemukan siaran yang tepat.
“Jangan diganti pa…!” Teriakku langsung meluncur ke depan televisi tanpa menghiraukan gorengan telur dadarku. Untung gak pake acara kepleset. Aku duduk menekuk kedua lututku dengan sodekan di tangan kanan. Barca vs Madrid sedang berlangsung dan sudah memasuki menit-menit terakhir. Gubraks…! Ternyata bola toh, hihihi…
Apa? Skornya udah 4-0 untuk Barca? Aku memelototi skor yang terpampang di sudut kiri televisi berkali-kali. Aku tidak percaya kalau tim yang aku unggulkan kalah. Waduh…hampir aja aku harus ngisiin pulsa buat seorang teman jika saja aku mengiyakan ajakannya kemarin untuk taruhan. Tapi ajakan itu aku tolak karena aku gak mau taruhan, terlebih lagi feeling aku mengatakan Madrid emang bakal kalah melawan Barca.
Gol…!!! Sebuah gol tercipta lagi di menit-menit terakhir. Aku sedikit syok dengan kekalahan Madrid yang begitu telak atas Barca, 5-0. Tadinya kukira Barca akan menang setelah berjuang setengah hidup membobol gawang Madrid, yah paling enggak 2-1. Lah yang ini? Hua….hancur lebur hati adek Uppa mengetahui kabar ini dan hatikupun luluh lantak, ditambah lagi hati ade lelli yang gak tau gimana lagi keadaannya, hiks….kelewatan.
Sebuah insiden kecilpun terjadi di detik-detik terakhir pertandingan. Ramos yang mungkin gak bisa menerima kekalahan itu, sengaja mencelakai Messi. Messi pun harus terjatuh dan berguling-guling di atas rumput. Beberapa pemain Barca ikut emosi melihat sikap Ramos, begitupun sebagian pemain Madrid yang ikut emosi atas kekalahnnya. Ozil mana ya? Aku memperhatikan pemain Madrid yang berseragam putih-putih itu, aku mencari sosok pemain bola asal Jerman itu. Tapi nihil, aku tidak menemukannya. Karena situasi mulai memanas, Puyol yang tak lain teman senegara Ramos tapi kebetulan main di Barca berusaha meredahkan emosi Ramos. Puyol mungkin berfikir sebagai teman satu Negara, Ramos mau mendengarkan nasehatnya tapi sayang baru ingin mendekati Ramos, Puyol langsung saja didorong oleh Ramos. Puyol pun jatuh dan terduduk di atas rumput. Wajahnya tidak menyiratkan kesakitan tapi kekecewaan. Ia tidak menyangka kalau Ramos akan bersikap itu padanya. Karena insiden ini, Ramos dihadiahkan kartu merah dan Maxi dihadiahkan kartu kuning.
“Ti ingat gorengan telur kamu…!” Kata mama menegurku yang masih asyik di depan tivi.
“Iya ingat kok” Balasku masih seru melihat pertandingan yang telah diteruskan kembali. Tapi tidak lama karena sesaat kemudian wasit meniupkan peluit tanda pertandingan telah berakhir. Barca merayakan kemengannya yang berasil menggeser posisi Madrid sebagai pemimpin classment sementara dengan tiga poin lebih banyak dibanding Madrid.
Aku kembali ke depan kompor gas dan menatap telur dadar yang sempat kutinggal untuk menonton bola. Syukur gasnya tidak meledak eh salah, maksdunya syukur telurnya belum hangus, hehehe.
“Mang jagoan kamu kalah ya?” Tegur mamaku yang menatapku kurang bersemangat seperti baiasanya.
“Iya…”
“Brarti nggak jago dong jagoan kamu?”
“Jago kok, tapi yang jadi lawannya juga gak kalah jago, hehehe. Secara skil individu sih sama-sama hebat ma. Dua-duanya bertaburan pemain terbaik dunia. Ya sekarang sih tinggal faktor lucky aja dan ternyata Barca lebih beruntung. Jadinya menang deh”
“Trus kenapa kamu lebih dukung Madrid?” Tanya mama lagi.
“Karena di situ ada Ozil, hihihi…” Jawabku sambil nyengir tapi gak kayak kuda.
“Oh…pantes” Kata mama tak bertanya lagi. Sepertinya mama sudah mendapatkan jawaban yang memuaskan hehehe.
Setelah menggoreng telur, aku kembali ke kamar dan membereskan tempat tidur yang masih berantakan. Ketika aku hampir meyelesaikan pekerjaanku kak Nen masuk ke kamar untuk mencari sesuatu. Kalau nggak salah sih nyari sisir.
“Yang main tadi Barca ya?” Tanya kak Nen gak antusias.
“Iya, tau dari mana?” Tanyaku penasaran karena setahuku kak Nen gak terlalu ngidam bola, ngidam mangga iya soalnya dia kan lagi hamil tuh.
“Tuh denger dari tivi, lagi diberitain” Katanya santai.
“Oh ya?” Aku langsung berlari ke ruang nonton sambil berteriak “Jangan diganti dulu pa…!” Mama hanya bisa geleng-geleng kepala melihatku berlari sekencang-kencangnya, mungkin udah mencapai 40 km/jam, hihihi.
“Cuma kilasan aja kok…” Kata papa setelah aku berhasil tiba disebelahnya dengan selamat. Karena ini kilasan makanya aku mau lihat. Aku mau lihat terciptanya gol-gol yang katanya indah itu. Aku dan papa menyimak dengan saksama.
“Wah itu off side…!” Protes papa.
“Mana sih?” Tanyaku berharap tayangannya diulang lagi. Dan harapanku terkabul, si stasiun tipi memang sengaja memutar tayangan itu dua kali agar para penonton bisa melihat dengan jelas gol yang terjadi.
“Tuh kan off side” Kata papa sambil menunjuk seorang pemain Barca yang berdiri di posisi off side.
“Ih iya….itu off side. Uh wasitnya curang” Kataku sambil tetap mengamati layar kaca dan setelah mengamati secara saksama bersama papa ternyata banyak gol yang diciptain Barca berada dalam posisi off side. Mungkin hanya dua atau satu aja yang bener-bener gol.
Hemmm…pantes aja si Ramos ngamuk, wong wasitnya gak professional gitu, curang. Jadi sebenarnya Madrid gak kalah telak dong. Kalah sih kalah aja…*sahut Cindil penuh kemenangan. Huuuh…seneng banget tuh dia mentang-mentang jagoannya menang, hehehe. Oke…oke…aku akui Barca emang hebat pa lagi Si Messi pemain Argentina itu yang katanya Maradona Junior, hiks.
NB:
- Kalah menang itu biasa tapi yang luar biasa adalah menerima kekalahan itu dengan lapang dada dan merayakan kemangan itu dengan rendah hati. Yuk berlomba-lomba menjadi orang yang memiliki sikap yang luar biasa.