Wotu,
Tanggal 30 November 2010.
Gak seperti
pagi-pagi biasanya, pagi ini aku gak tidur lagi setelah shalat subuh. Sudah
beberapa hari ini aku coba merubah ritme kegiatanku. Biasanya aku tidur di atas
jam 12 malam, paling banter ampe jam 3 pagi. Lalu sekitar jam 5 pagi aku bangun
untuk shalat subuh, setelah itu tidur lagi karena masih mengantuk. Dan baru
bangun sekitar jam 9 atau paling parah jam 11 lewat. Saat itu barulah aku
memulai aktivitas di pagi hari*ya ela itu mah dah siang. Cekcekcek
bener-bener kebiasaan yang gak sehat. Jangan ditiru ya teman-teman.
Tapi kali
ini aku coba untuk mengurangi jam begadang sampai jam 12 malam saja. Sebelum
tidur shalat malam dulu dan ngaji beberapa lembar. Lalu jam 5 pagi bangun tuk
shalat subuh dan setelah itu gak tidur lag tapi langsung memulai aktivitas di
pagi hari. Beres-beres kamar trus sarapan. Setelah sarapan langsung ngeDJ alias
cuci piring. Setelah semua pekerjaan rumah beres, aku memilih mengambil pulpen
dan mulai corat-coret di atas buku ajiabku, membuat kerangka cerita tuk diketik
malam harinya. Dan biasanya sambil nyoret-nyoret aku juga chating plus
ketiduran kalau udah nguantuk banget, hihihi. Semoga ritme ini bisa bertahan
lama, hohoho jangan sampe cuma panas-panas tahi ayam alias semangat cuma di
awal-awal tapi pas dah pertengahan malah kembali ke ritme yang dulu.
Pagi ini aku
disuruh mama buat sarapan tuk adik-adikku tercinta Nunung dan Janet. Telurpun
aku kocok dan dadar di atas pak wajan. Hem…jadi laper. Sesekali aku
menengok televisi, papa masih sibuk mencari chanel yang tepat. Hem…gak ada
acara yang menarik, pikirku. Tapi beberapa menit kemudian, mataku langsung
terpaku ke arah televisi, aku tak mengedipkan mataku meski sejenak*halah
lebay. Papa menemukan siaran yang tepat.
“Jangan
diganti pa…!” Teriakku langsung meluncur ke depan televisi tanpa menghiraukan
gorengan telur dadarku. Untung gak pake acara kepleset. Aku duduk menekuk kedua
lututku dengan sodekan di tangan kanan. Barca vs Madrid sedang berlangsung dan
sudah memasuki menit-menit terakhir. Gubraks…! Ternyata bola toh, hihihi…
Apa? Skornya
udah 4-0 untuk Barca? Aku
memelototi skor yang terpampang di sudut kiri televisi berkali-kali. Aku tidak
percaya kalau tim yang aku unggulkan kalah. Waduh…hampir aja aku harus ngisiin
pulsa buat seorang teman jika saja aku mengiyakan ajakannya kemarin untuk
taruhan. Tapi ajakan itu aku tolak karena aku gak mau taruhan, terlebih lagi
feeling aku mengatakan Madrid emang bakal kalah melawan Barca.
Gol…!!!
Sebuah gol tercipta lagi di menit-menit terakhir. Aku sedikit syok dengan
kekalahan Madrid yang begitu telak atas Barca, 5-0. Tadinya kukira Barca akan
menang setelah berjuang setengah hidup membobol gawang Madrid, yah paling
enggak 2-1. Lah yang ini? Hua….hancur lebur hati adek Uppa mengetahui kabar ini
dan hatikupun luluh lantak, ditambah lagi hati ade lelli yang gak tau gimana
lagi keadaannya, hiks….kelewatan.
Sebuah
insiden kecilpun terjadi di detik-detik terakhir pertandingan. Ramos yang
mungkin gak bisa menerima kekalahan itu, sengaja mencelakai Messi. Messi pun
harus terjatuh dan berguling-guling di atas rumput. Beberapa pemain Barca ikut
emosi melihat sikap Ramos, begitupun sebagian pemain Madrid yang ikut emosi
atas kekalahnnya. Ozil mana ya? Aku memperhatikan pemain Madrid yang
berseragam putih-putih itu, aku mencari sosok pemain bola asal Jerman itu. Tapi
nihil, aku tidak menemukannya. Karena situasi mulai memanas, Puyol yang tak
lain teman senegara Ramos tapi kebetulan main di Barca berusaha meredahkan
emosi Ramos. Puyol mungkin berfikir sebagai teman satu Negara, Ramos mau
mendengarkan nasehatnya tapi sayang baru ingin mendekati Ramos, Puyol langsung
saja didorong oleh Ramos. Puyol pun jatuh dan terduduk di atas rumput. Wajahnya
tidak menyiratkan kesakitan tapi kekecewaan. Ia tidak menyangka kalau Ramos
akan bersikap itu padanya. Karena insiden ini, Ramos dihadiahkan kartu merah
dan Maxi dihadiahkan kartu kuning.
“Ti ingat
gorengan telur kamu…!” Kata mama menegurku yang masih asyik di depan tivi.
“Iya ingat
kok” Balasku masih seru melihat pertandingan yang telah diteruskan kembali.
Tapi tidak lama karena sesaat kemudian wasit meniupkan peluit tanda
pertandingan telah berakhir. Barca merayakan kemengannya yang berasil menggeser
posisi Madrid sebagai pemimpin classment sementara dengan tiga poin lebih
banyak dibanding Madrid.
Aku kembali
ke depan kompor gas dan menatap telur dadar yang sempat kutinggal untuk
menonton bola. Syukur gasnya tidak meledak eh salah, maksdunya syukur telurnya
belum hangus, hehehe.
“Mang jagoan
kamu kalah ya?” Tegur mamaku yang menatapku kurang bersemangat seperti
baiasanya.
“Iya…”
“Brarti
nggak jago dong jagoan kamu?”
“Jago kok,
tapi yang jadi lawannya juga gak kalah jago, hehehe. Secara skil individu sih
sama-sama hebat ma. Dua-duanya bertaburan pemain terbaik dunia. Ya sekarang sih
tinggal faktor lucky aja dan ternyata Barca lebih beruntung. Jadinya menang
deh”
“Trus kenapa
kamu lebih dukung Madrid?” Tanya mama lagi.
“Karena di
situ ada Ozil, hihihi…” Jawabku sambil nyengir tapi gak kayak kuda.
“Oh…pantes”
Kata mama tak bertanya lagi. Sepertinya mama sudah mendapatkan jawaban yang
memuaskan hehehe.
Setelah
menggoreng telur, aku kembali ke kamar dan membereskan tempat tidur yang masih berantakan.
Ketika aku hampir meyelesaikan pekerjaanku kak Nen masuk ke kamar untuk mencari
sesuatu. Kalau nggak salah sih nyari sisir.
“Yang main
tadi Barca ya?” Tanya kak Nen gak antusias.
“Iya, tau
dari mana?” Tanyaku penasaran karena setahuku kak Nen gak terlalu ngidam bola,
ngidam mangga iya soalnya dia kan lagi hamil tuh.
“Tuh denger
dari tivi, lagi diberitain” Katanya santai.
“Oh ya?” Aku
langsung berlari ke ruang nonton sambil berteriak “Jangan diganti dulu pa…!”
Mama hanya bisa geleng-geleng kepala melihatku berlari sekencang-kencangnya,
mungkin udah mencapai 40 km/jam, hihihi.
“Cuma
kilasan aja kok…” Kata papa setelah aku berhasil tiba disebelahnya dengan
selamat. Karena ini kilasan makanya aku mau lihat. Aku mau lihat terciptanya
gol-gol yang katanya indah itu. Aku dan papa menyimak dengan saksama.
“Wah itu off
side…!” Protes papa.
“Mana sih?”
Tanyaku berharap tayangannya diulang lagi. Dan harapanku terkabul, si stasiun
tipi memang sengaja memutar tayangan itu dua kali agar para penonton bisa melihat
dengan jelas gol yang terjadi.
“Tuh kan off
side” Kata papa sambil menunjuk seorang pemain Barca yang berdiri di posisi off
side.
“Ih iya….itu
off side. Uh wasitnya curang” Kataku sambil tetap mengamati layar kaca dan
setelah mengamati secara saksama bersama papa ternyata banyak gol yang
diciptain Barca berada dalam posisi off side. Mungkin hanya dua atau satu aja
yang bener-bener gol.
Hemmm…pantes
aja si Ramos ngamuk, wong wasitnya gak professional gitu, curang. Jadi
sebenarnya Madrid gak kalah telak dong. Kalah sih kalah aja…*sahut
Cindil penuh kemenangan. Huuuh…seneng banget tuh dia mentang-mentang jagoannya
menang, hehehe. Oke…oke…aku akui Barca emang hebat pa lagi Si Messi pemain
Argentina itu yang katanya Maradona Junior, hiks.
NB:
- Kalah
menang itu biasa tapi yang luar biasa adalah menerima kekalahan itu dengan
lapang dada dan merayakan kemangan itu dengan rendah hati. Yuk berlomba-lomba
menjadi orang yang memiliki sikap yang luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar