Tips menulis.
Menurut Kalian, menulis itu gampang atau susah gak sih? Kalau
pertanyaan ini diajukan saat saya masih berumur 1 bulan, maka jawabannya
menulis itu amatlah susah *ya iyalah wong makan aja masih susah, hehehe.
Tapi kalau pertanyaan ini dilontarkan saat saya menginjak bangku SLTP, maka
jawabannya menulis itu sangat mudah. Bukannya sombong tapi menurut saya
meenulis itu emang mudah kok. Gak percaya? Kalau gak percaya, baca dokumen saya
sebelumnya yang berjudul Nulis Yuk.
Nah kalau Kalian sudah merasa menulis itu mudah, ada beberapa tips nih
yang kudu Kalian baca sebelum mulai menulis. Tips ini diangkat dari
pengalaman pribadi saya sendiri saat harus menulis.
Tips 1: Niat (Kemauan)
Yang ini sepertiya tidak perlu dijelaskan panjang
lebar. Intinya, di mana
ada niat di situ ada jalan. Jadi, di mana ada niat menulis di situ akan lahir sebuah karya tulis.
Niat itu lahir dari hati kita bukan dari hati orang lain atau kata kerennya
lahir dari paksaan orang lain. Misal, ada orang yang ngomong kayak gini
"aku akan menikahimu jika kamu menuliskanku sebuah novel tentang
kita" *Gyaaa orang kayak gini mesti dibina alias dibinasakan. Ingat Kalian, tidak ada syarat dalam cinta! So
kalau ada yang ngomong kayak gitu, berarti orang itu tidak sungguh-sungguh
mencintai kita (ini tips menulis atau tips tentang cinta ya? hehehe)
Tips 2: Makan Sebelum Menulis
Menulis itu bukan suatu kegiatan yang enteng. Menulis juga memerkukan tenaga
yaitu tenaga berfikir dan tentu saja tenaga menggerakkan jari-jari kita.
Tahukah Kalian bahwa tenaga yang diperlukan untuk berfikir sama dengan
besarnya tenaga yang kita perlukan saat mencangkul sepetak sawah. Gak percaya?
Coba bandingkan sendiri, hehehe. Kalau aku sih percaya aja ma ilmu yang
diberikan ma Guru SDku itu. Nah sekarang tahukan kenapa kita kudu makan
dulu sebelum mengetik? Selain itu, rasa lapar juga sangat mengganggu saat kita
mengetik loh. Saya tahu karena saya sering mengalaminya (seperti saat ini
sebenarnya, jadi maafkan kalau tulisan saya rada gimana gitu. Soalnya yang nulis
belum makan dan sedang lapar, xixixi)
Tips 3: Siapkan Outline (Kerangka tulisan)
Sebelum terjun di depan monitor, ada baiknya kalau
kita sudah punya outline atau kerangka tulisan yang akan kita tulis, sehingga kita tidak perlu
menghabiskan waktu lama di depan monitor sambil berfikir dan ngupil. Outline
dapat ditulis di dalam buku diary, buku agenda, buku pelajaran, sampai buku
utang sekalipun. Atau kalau Kalian adalah tipe orang yang malas
menulis dengan tangan, paling tidak outline Kalian sudah terkonsep
dengan matang dan rapi di dalam kepala.
Tips 4: Berdoa
Sebelum benar-benar mengetik, ada satu hal yang harus
dilakukan yaitu berdoa. Berdoa
agar pada saat menulis tidak ada hambatan. Misalnya nyamuk nakal atau panggilan
darurat ke kamar mandi, atau apalah. Karena hambatan biasanya mempengaruhi
tulisan kita loh. Kok bisa? Bisa aja sih kalau kita mau memikirkannya, tapi
sayang banyak yang tidak memikirkanku, eh memikirkannya. Saat kita menulis lalu
tiba-tiba berenti karena sesuatu hal kemudian akan memulai lagi biasanya
feelnya akan tidak sama lagi. Bahkan kadang-kadang kita akan menuliskan
sesuatu yang jauh dari pembahasan yang sebelumnya kita tulis. Misal, sebelumnya kita menulis
tentang bahaya selingkuh, tapi karena tiba-tiba harus ke kamar mandi, kita
terhenti. Nah saat mulai menulis lagi, kita bisa saja malah menulis tentang apa
yang dilakukan pasangan selingkuh di kamar mandi? *nah loh? Jangan
lupa berdoa agar tulisan
kita bisa menjadi tulisan yang baik dan benar dan yang lebih penting, tulisan
kita menjadi tulisan yang bermanfaat untuk orang lain. Paling gak untuk
obat awet muda, karena orang lain bisa tertawa saat membaca tulisan kita :).
Tips 5. Kebebasan
Kan emang lagi gak dipenjara. Hehehe maksudnya kebebasan saat menulis, kawan. Banyak penulis yang susah
memulai tulisannya karena terlalu memikirkan metode menulis. Dia bingung harus
memakai metode ala apa, ala otak kanan kah? Otak kiri kah? Otak tengah kak?
Otak-otak kah? *ini sih makanan:D atau ala-ala yang lain? Mereka
takut memulai karena takut salah, takut tidak sesuai metode.
Hello…, gak ada
undang-undang kok yang mengharuskan kita memakai metode siapa dan apa saat
menulis. So, jangan takut menulis dengan metode kita sendiri. Tulis
apa yang ingin kita tulis. Lepaskan ikatan metode ini itu yang mengekang otak
berfikir dan jari-jari bergerak. Tulis apa yang ada di dalam kepala kita.
Jangan takut, jangan ragu karena kita berhak menulis dengan metode ala kita
sendiri.
Menulis dengan
metode sendiri membuat kita matang dalam karakter (ciri khas). Karena percaya deh, menulis dengan metode sendiri
membuat kita berbeda dengan penulis lainnya. Metode kita akan menjadi style dan
karakter yang kuat dari setiap tulisan kita. Rasanya pasti bangga dong, ketika
kita dikenal karena style tulisan kita. Misalnya:
“Pasti yang
nulis cerpen Di Batas Maya yang di … The DIVAs itu Novianti.
Soalnya dia kalau nulis kan selalu lugas dan kalimatnya sederhana. Tapi
kesederhanaan itulah yang membuat semua tulisannya enak dibaca.” Hehehe
ini misalnya loh :D
Nah, si
Novianti tentu bangga saat mendengar kalimat ini. Dia bangga karena style menulisnya
bisa menjadi karakter (ciri khas) untuk setiap tulisannya. Terlepas dari apakah
semua orang suka atau tidak dengan karyanya.
Style menulis adalah salah satu modal utama menjadi penulis hebat loh. Saya
udah nulis pake metode sendiri, tapi kok kata teman tulisan saya mirip
tulisannya penulis ini? Hem mungkin di antara kita ada yang kepikiran
seperti itu. Mirip bukan
berarti sama kan? Mirip itu hampir sama, artinya tetap ada yang membedakan. Gak
ada masalah sih kalau tulisan kita mirip dengan tulisan orang lain. Yang jadi
masalah ketika kita berusaha dengan sengaja menyamai atau meniru tulisan orang
lain. Wah, ini sih nyontek namanya. Be your self, kawan!
Logikanya gini, saat saya suka warna biru bukan berarti di luar sana gak ada
orang lain yang juga suka warna biru kan? Sekali lagi, yang terpenting adalah
saat menulis kita memakai metode kita sendiri, entah itu nantinya akan mirip
atau tidak dengan tulisan orang lain. Yang jelas itulah style kita
:)
Nah, sekarang ngapain masih bengong? Yuk mulai menulis
semau kita, suka-suka hati kita dengan tetap memperhatikan EYD tentunya. Kan
gak enak kalau telinga kita harus mendengar kalimat seperti ini…
“Penulis kok gak tahu tata cara nulis!” *Glek! Malu
kan ya?
Kita juga kudu memperhatikan apa yang kita tulis. Jangan sekali-kali
menyinggung SARA, mengandung Pornografi, dan Sarkatis (. Ingat kawan,
penulis yang baik adalah penulis yang mampu membebaskan dirinya saat menulis
bukan membebaskan dirinya menulis apa saja. Menulis aib orang lain dan
menyebar luaskannya misalnya, bukanlah contoh penulis yang baik. Bisa-bisa
malah dituntut ampe ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran lingkungan, eh,
pencemaran nama baik. Kan gak lucu.
6. Pengetahuan
yang cukup
Seringkali penulis tidak bisa meneruskan tulisannya,
mandet di paragrap awal karena dia tidak tahu harus menulis apa lagi atau malah
merasa tidak ada hal yang perlu ia tuliskan lagi. Nah dua perasaan ini hadir
karena satu alasan yaitu si penulis kurang memahami apa yang ditulisnya.
Pengetahuan si penulis tentang hal yang ia tulis amat sedikit.
Mari kita
bandingkan. Ketika dua orang memasuki galeri sebuah lukisan, yang satu adalah
seorang pengamat lukisan dan yang satu lagi saya. Setelah pulang dari galeri
kami sama-sama membuat catatan tentang perjalanan kami ke galeri tersebut. Nah,
catatan siapakah yang paling komplit, detail, dan paling kuat? Jawabannya
tentu saja catatan si pengamat lukisan. Dia akan menuliskan dengan sangat
detail apa yang ia lihat karena dia paham dengan dunia lukis-melukis. Sementara
saya hanya akan menuliskan bahwa semua yang saya lihat indah tanpa ada
penjabaran lebih detail kenapa lukisan itu indah. Ini disebabkan saya tidak
menguasai tentang dunia lukis-melukis, tidak seperti si pengamat lukisan tadi.
Tapi bukan berarti saya gak mungkin bisa menulis seperti si pengamat lukisan,
saya bisa ketika saya mau banyak membaca tentang seluk beluk lukisan.
Nah, sekarang udah paham kan Teman. Dalam menulis kita
juga kudu memahami apa yang kita tulis. Jadi kalau pengin tulisan kita gak
mandet di tengah jalan coba deh pelajari apa yang ingin kita tulis. Ketika kita
ingin menulis tentang dunia kedokteran misalnya, gak berarti kita harus jadi
dokter dulu kok, cukup banyak membaca artikel tentang dunia kedokteran,
istilah-istilah kedokteran, dan kalau perlu bertanya langsung pada si Dokter.
Dengan begitu tulisan kita gak akan mandet gitu aja karena akan ada banyak hal
yang kita kupas sedetail-detailnya, banyak informasi yang bakal kita berikan di
dalam tulisan kita nantinya.
Hem, tunggu apa lagi? Yuk banyak baca, banyak belajar
dan memahami apa yang ingin kita tulis. Agar tulisan kita bukan sekedar coretan
tak bermakna. Jadikan tulisan kita sebuah tulisan yang bermakna di setiap
kaimatnya.
Hem, udah direalisasikan belum? Tipsnya jangan dibaca
aja ya, tapi diterapkan juga. Karena,seseorang itu dikatakan penulis ketika
dia menulis J jadi kalau cuma baca aja, gak mulai menulis, ya bukan
penulis namanya tapi pembaca, hehehe.
Gak usah berlama-lama deh, sekarang Novi ngasih satu
tips lagi nih buat kalian yang ingin jadi penulis. Tips selanjutnya adalah…
7. Sederhana
Paragraf pembuka yang baik adalah paragraf yang mampu
membuat pembacanya ingin membaca paragraf selanjutnya, membius pembacanya untuk
membuka lembar-lembar selanjutnya. Dan paragraf yang baik itu tentu saja
disusun dari kata-kata dan kalimat yang tepat.
Kata-kata dan kalimat yang tepat itu yang mana sih? Wah jawaban untuk pertanyaan ini lumayan banyak
dan gak bisa saya tulisin satu-satu. Gimana kalau pertanyaannya kita balik
menjadi, kata-kata dan kaliamt yang kurang tepat itu yang mana sih? Nah
kalau ini jawabannya gak banyak, gak sampai buat tangan saya pegal ngetiknya :D
Beberapa penulis tidak sanggup meneruskan tulisannya
bahkan tidak sanggup membuka paragraf awalnya karena terjebak pada
kalimat-kalimat yang puitis. Mereka berfikir keras mencari kata-kata puitis
yang tepat untuk tulisannya. Mereka merasa menulis dengan kata-kata tinggi yang
akhirnya terkesan puitis akan menjadikan tulisannya menarik dan banyak dibaca
orang. Eits, siapa bilang? Banyak loh pembaca yang akhirnya
meninggalkan sebuah tulisan jenis ini karena makna dari tiap kata-katanya
kurang kuat dan tidak menyentuh hati, malah membuat kening para pembaca
berkerut tak mengerti. KECUALI, mereka yang memang sudah biasa menggunakan
kata-kata puitis dalam tulisannya dan memang mampu memberi makna di tiap
kalimatnya. Kalau ini sih, salut deh. Tapi buat para pemula jangan coba-coba
deh, hihihi. Coba belajar boleh tapi coba langsung dibukukan, tidak dianjurkan
sama sekali :D
Gunakan kata-kata dan kalimat sederhana. Kalimat
sederhana itu lebih mudah dimengerti. Kalimat sederhana lebih mampu membuat
orang betah berlama-lama membaca sebuah karya tulis. Ya contohnya aja
buku Best Seller Tetralogy Laskar Pelangi. Buku ini termasuk
buku yang tebal tapi setiap pembacanya terlena dan tanpa sadar bisa
menghabiskan buku ini dalam waktu sepuluh menit *lebay gak ya? Hehehe.
Alasannya, karena selain alur ceritanya yang menarik juga karena kata-kata yang
digunakan penulisnya adalah kata-kata yang sederhana. Sama seperti buku Best
Seller lainnya, Perahu Kertas milik Dee. Buku ini juga buku yang tebal
tapi saya pribadi tidak cukup sehari menghabiskannya. Kenapa? Lagi-lagi jawabannya
karena kalimat yang digunakan Dee adalah kalimat-kalimat sederhana yang amat
mudah dipahami.
Ide-ide yang pelik akan menjadi gurih dan renyah
dicerna ketika kita mampu menggunakan kalimat sederhana dalam menuliskannya.
Kalimat-kalimat yang sederhana mampu menjelaskan sebuah rumus yang amat sulit
sekalipun, sehingga mudah dipahami oleh pembacanya. Kalimat sederhana tidak
berarti kalimat yang membuat sebuah tulisan itu dangkal dan kering. Kalimat
sederhana adalah kalimat yang mampu menjelaskan sebuah wacana berbobot dengan
bahasa yang ringan, yang tentu saja membuat orang yang mendengarnya atau
membacanya tidak bosan dan malah menikmati.
Nah, gimana? Udah bisa memulai paragraph awalnya dong.
Mestinya sih udah bisa. Mulailah dengan kaliamat yang sederhana, yang mudah
dituliskan dan mudah juga dipahami. Jangan terjebak pada kata-kata puitis
KECUALI kita memang sudah terbiasa dengan kaliat-kalimat puitis itu. Ya,
seperti sebuah pribahasa, kesederhanaan itu menunjukkan
kebijaksanaan. Bijak karena kita tidak memaksakan tulisan kita
terlihat indah dengan kalimat-kalimat puitis sementara yang membaca hanya bisa
mengkerutkan kening. Nah!
Yuk mulai menulis sekarang juga.
Eits
tapi udah taukan gimana caranya nulis. Kalau belum tahu tenang saja masih ada
penjelasannya ko. Just slow down baby. Nih,
Novi punya tips lagi gimana caranya nulis.
Tips ini,
tips untuk gimana caranya nulis.
Sebelas,
dua belas sih sama tips diatas. Kunci utama dalam menulis itu
a. IDE
CERITA.
Ide brilliant yan kadang sulit keluar dari
benak. Cara yang bisa kita lakukan dalam menulis cukup dengan sbb:
a.
HAL YANG SPONTAN
b.
HIKMAH DARI SEBUAH PERISTIWA
c.
MIMPI
d.
JALAN-JALAN
e.
DENGERIN KATA HATI
f.
BERGAUL DENGAN DUNIA NYATA ATAU MAYA
g.
DENGERIN LAGU
h.
KISAH DARI KOLEKSI BARANG
i.
NGELAMUN
j.
GABUNG DI KLUB.
k.
BACA BUKU
l.
NONTON TV
m.
Dan masih banyak lagi
b.
Niat
Kalau sebelumnya NIAT untuk menulis di
sisi atas, NIAT disini itu juga berperan
untuk memulai menulis. Jadi kapan cerita akan selesai? So don’t waste your
time.!
Punya niat nulis? Mulailah dari
sekarang! Karena kalau di tunda moodnya ilang lagi.
c.
Peralatan dan perlengkapan
Nah, kalau sudah punya niat untuk
memulai menulis, siapin dan cek peralatan sudah lengkapkah? Sudah tersediakah?
Apa sih yang di perluin dalam nulis. Umumnya nulis itu yang di butuhkan
pulpen/pensil dan kertas kosong yang banyak. Tapi karena sekarang udah canggih.
Peralatannya bisa lepi, tab, pad dsb yang pasti bisa buat nuangkan kata-kata
dalam benak kalian.!
d.
Jenis Cerita
Sebelum nulis kan kita sudah punya
kertas kosong dan pulpen nih, nah kita harus tahu dulu jenis cerita apa sih
yang akan kita buat. Dalam Jenis Cerita ini bisa nentuin Setting, nama-nama tokoh, adegan, dialog, dan latar.
Kalau jenis cerita itu ada banyak ya.
Yuk ulas lagi.
1.
Drama
1.a.
Drama tragedi: drama yang berakhir duka
1.b.
Drama Komedi: drama lucu yg membuat pembaca tertawa.
1.c.
Drama Misteri: drama yang ngutamain unsur ketegangan yang bisa nyeritain
tentang seputar kasus kriminalitas, pembunuhan, penculikan, certa makhluk halus
dan Perdukunan.
1.d.
Drama Laga atau action: drama ini ngutamain adegan perkelahian atau
pertempuran.
1.e.
Melodrama: drama yang bersifat sentimentil dan melankolis cenderung menuju pada
kesedihan.
1.f.
Drama Sejarah: dari namanya, drama ini nampilin cerita masa lalu berasarkan
sejarah, baik tokoh maupun peristiwanya.
KARAKTER
Karakter protagonis: karakter utama yang mewakili sisi kebaikan dan
menunjukan hal-hal yang benar dalam setiap kegiatannya di cerita dan berperan
penting dalam nentuin alur.
Karakter sampingan: karakter yang mendampingi karakter protagonis dia
selalu membantu tokoh utamanya untuk mencapai tujuannya.
Karakter antagonis : karakter jahat atau karakter yang berlawanan dari
karakter protagonis, yang selalu mberusaha ngegagalin tujuan karakter
protagonis.
Karakter kontagonis: karakter karakter yang selalu membantu karakter
antagonis untuk menghancurkan tokoh protagonis,
Karakter skeptis: bukan musuh utama protagonis tapi selalu ngancurin
setiap rencana yang sudah di buat si tokoh protagonis. Tokoh ini biasanya
selalu curiga sama si tokoh protagonis, gak ada keinginan langsung
menghancurkan tokoh protagonis.
Cara Gampang
Membuat KARAKTER:
1. Namanya jelas, mudah diingat, familiar, tidak pasaran.
2. Ciri-ciri fisiknya jelas (baik, sedang, atau ada cacatnya).
3. Asal usul dan latar belakangnya jelas (termasuk latar belakang budaya).
4. Dialog yang natural (dialog yang digunakan sesuai dengan latar belakang
tokohnya).
5. Kepribadiannya jelas (periang, mudah tersentuh, baik hati, dll).
6. Tujuan dan cita...
-citanya
jelas (apa yang ingin dicapai).
7. Hal-hal yang menghalangi tujuan dan cita-citanya jelas (bisa sesuatu atau
seseorang).
8. Hubungan dengan tokoh lainnya jelas (apakah tokoh utama, tokoh pendukung,
dll).
9. Keunikan atau keistimewaannya jelas (pandai, kaya, selalu beruntung, dll).
10. Manusiawi (bukan tokoh yang serba sempurna).