Mataku sampai
detik ini tak lepas menatap ke arah jendela bening. Kulihat saat itu awan mulai
menampakkan warna kelabu muramnya. Cuaca di luar terlihat begitu suram, berbanding
terbalik dengan ruangan ini. Tubuhku merasa hangat, walau hanya dibalut dengan selimut
tipis bergaris. Selain memang pendingin ruangan sengaja dimatikan.
Baru sebentar saja kupalingkan wajah dari
jendela itu, aku mendengar suara merdu titik-titik hujan mulai bernyanyi lepas.
Mereka terdengar begitu riuh menyanyikan kebebasannya. Tapi semakin aku
merasakan keriuhan itu, semakin aku merasa suasana demikian sendu. Nyanyian
rintik air dan semilir angin membahana dengan ritme tak teratur, mewakili tangisan
dalam hatiku.
Mungkin saja saat ini semua orang tengah hilir
mudik dengan berbagai aktifitasnya. Barangkali sedang berteduh, berlindung dari
basah yang akan ditimbulkan tetesan air dari langit itu, hingga mereka tak kan
mampu mencemari keindahan alam.
Aku tengah terbaring lemah di sebuah ruangan
berukuran 4x6. Seluruh temboknya bercat warna putih. Korden berwarna hijau
muda--sama persis dengan daun yang masih kuncup--menghiasi kaca jendela yang
sekarang terlihat tertutup rapat. Aku, seorang perempuan yang
bertubuh kurus, tinggi 155 cm, berkulit putih, terlihat agak berkeriput
di sekitar leher, kini memandang lurus pada satu arah tanpa melihat apa yang
aku lihat. Mereka selalu berkata bahwa dari rona muka pucatku penderitaan yang
aku alami sangat berat. Dan mereka memang benar.
Armeina Lavinska, begitulah yang terpajang di
depan pintu kamar ini. Hampir 1 minggu aku berada di sini menjalani pengobatan
yang menurutku tak akan pernah sanggup aku tersembuhkan dari penyakit itu. Beberapa
minggu ini aku lebih memilih untuk diam dan berpaling dari semua wajah yang
kukenal. Hanya satu harapanku, MATI. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan di
dunia ini. Aku telah hancur. Bukan, lebih tepatnya aku telah menghancurkan
hidupku. Aku ingin mengubur dalam-dalam diriku dalam kesunyian. Aku tak ingin
lagi bertemu dengan diriku yang sudah tega menghancurkan masa depanku sendiri.
Lalu, aku mulai melamun untuk kesekian kalinya (karena hanya itu yang menjadi
hiburanku selama di tempat ini).
Setengah perjalanan menuju lamunan yang
semakin dalam, tiba-tiba saja terdengar bunyi langkah dari luar. Suara itu
lebih mirip deru mesin tembak berkekuatan manover. Mungkin seseorang itu sedang
berlari atau bahkan lebih dari sekedar berlari, namun sayang sekali, tak
kutemukan kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu dari bahasa mana pun di
dunia (mungkin aku harus menciptakan kata baru lagi yang harus kalian sepakati.
Melangkah, berjalan, setengah berlari, berlari, kemudian ber(rikol) atau
ber(ridas) atau ber(rigi). Sepertinya kata-kata yang aku ciptakan sangat aneh dan
tak bertempat di otak. Tepat sekali, mungkin aku hanya bisa menjelaskannya
begini saja, “berlari kesetanan” atau “berlari dengan kecepatan pesawat jet
tempur”. Lebih mudah dimengerti bukan?).
Seorang lelaki berkulit putih yang terlihat
menumbuhkan jenggot tipis pada dagunya kini mulai menjejakkan kaki untuk memasuki
sebuah ruangan. Dia datang dengan hanya membawa seonggok tubuh yang berkeringat
dingin di sekitar pelipisnya, tubuhnya sendiri. Kemejanya terlihat basah
terkena air hujan. Perlahan dia mendekati tempat tidur yang berada ditengah
ruangan itu, tempat di mana aku tegeletak tak berdaya. Membawa semua lara
dari masa-masa terberat dalam hidupku.
“Mei,” katanya bergetar. Seraya mengusap
peluh dengan lengan kemejanya, lantas ia menggenggam tangan kananku yang tidak
di infus.
Aku hanya terdiam, terpaku. Tanpa kusadari
air mata telah membasahi pipi cekungku. Dengan tetap terdiam, aku menyambut
genggaman tangan lelaki itu, begitu hangat dan nyaman. Aku mengenggamnya lebih
erat dari yang dia lakukan. Kini yang aku rasakan justru berbeda dari
sebelumnya. Aku mulai bertanya-tanya, kenapa aku mulai mengalami ketakutan yang
sangat? Mungkinkah aku takut mati? Terlebih lagi, mungkinkah kini aku takut
mati dengan sia-sia? Padahal, ratusan jam yang lalu aku masih mengharapkan kematian datang menjemputku.
Semuanya kini berubah setelah melihat sosok yang dulu sempat mengisi relung
jiwaku. Sosok yang telah lama terkubur damai dalam angan dan hatiku. Kini dia
ada di hadapanku, di depan mata kepalaku, di dalam pandanganku, menghangatkan
jiwaku. Dia muncul kembali menawarkan cinta yang tak bisa kuraih.
Terpaku beberapa saat, aku mulai memandang
sekeliling untuk mengatasi rasa takutku yang berlebih, yang tiba-tiba muncul
tanpa aku memintanya. Bola mataku kini berkelana ke sana kemari mencoba menangkap
sesuatu yang berusaha kukejar selama belasan tahun. Tertangkap olehku detik
jarum jam tepat di atas televisi berwarna di depan pandanganku yang akhirnya
membawaku jauh ke masa lalu. Kembali
mengingat Hidupku yang berjalan melintasi waktu bersama ribuan kenangan pahit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar