Sabtu, 02 Agustus 2014

Mengenali


 

B
aterai lopita yang tinggal 10% tetap saja di gunakan tanpa memasangkan daya pada charger. Lemah. Bahkan notification pada lopita makin sering berbunyi. Seperti halnya hatiku. Sedang lemah. Bahkan leleran air mata terus saja membasahi pipi. Entah mengapa perasaan ini timbul lagi. 12 Mei dua tahun yang lalu. Aku sudah sempat menyukai seorang lelaki yang dulu juga teman satu kelasku. Dulu 12 Mei kita berdiskusi tentang acara reuni. Memang dalang dari semua ini kami berdua. Karena kami rasa sudah saatnya kami bertemu lagi. Layaknya di SMP kelas 3. Sedang kala itu kami sudah duduk di bangku kelas 2 SMA. Sudah dua tahun bukan kami berpisah. Bahkan kami dipertemukan karena perhatian yang besar. Sebagai anak perempuan yang beranjak dewasa perasaan cinta mungkin sudah ada. Kami terbiasa bersama dalam melakukan banyak hal. Ayah yang selalu protektif pun dapat di rubah oleh laki-laki itu.
Setiap hari selalu ada bahasan yang selalu kami ceritakan. Kata orang pacar itu bisa dijadikan teman yang sangat perhatiannya. Ketika ada masalah dia membantu menyelesaikannya. Ketika emosi dia mampu meredakannya. Ketika kesedihan datang dia mampu menghapus kesedihan itu. Bagaimana caranya? Sihir? Mantra apa yang digunakan? Semua itu menjadi tanda tanya. Aku tidak menjadikannya teman untuk SMS-an saja. Tapi teman terspesial dihidup ku ini. Meski kala keadaan ini aku dan dia tidak ada kejelasan hubungan pacar atau apalah.
Bahkan orang tuanya pun banyak cerita masa kecil laki-laki itu. Aku hanya tersenyum manis menanggapi hal yang demikian. Hatiku selalu mengatakan, “andaikan saja rasa ini terealisasikan untuk kita menjadi sebuah hubungan yang akan kita banggakan”. Itu hanya illusi. Karena yang aku tahu perasaan itu seharusnya tidak lebih dari teman biasa, dan seharusnya rasa itu pun tidak pernah ada untukku maupun untuknya.
Biarkan waktu bercerita dengan indah kebersamaan itu. Tanpa mengungkapkan kalimat hati. Satu tahun terlewati dengan tegur sapa. Satu tahun dilewati dengan kebersamaan. Satu tahun dilewati dengan suka cita. Satu tahun dilewati dengan perhatian. Dan selama satu tahun hubungan itu hanya sebatas teman. Cerita cinta SMA ku berakhir dihubungan teman. MIRIS.
Meski kami sama-sama saling suka. Saling suka? Dimana aku membacanya saling suka. Bukankah aku saja yang menyukainya. Ya, itu juga mungkin. Coba katakan dengan jelas. Dimana aku membacanya saling suka? Kalau bukan hatimu yang perhatian, dia tidak akan perhatian? Kalau dimenatap matamu penuh dengan cinta dan senyuman indah, bukankah hatimulah yang memulai? Lalu itukah yang kau namakan dia juga mencintaimu, dia menyayangimu, dia menyukaimu?
Kata itu yang menghardikku sekian lama. Selepas kami lulus SMA. Aku tidak hanya berhenti sampai di SMA. Aku bertekad untuk melanjutkan pendidikan. Dengan didorong doa dan usaha orang tua, aku dapat melanjutkan pendidikanku. Meski bukan di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang aku idam-idamkan. Sedang laki-laki itu lebih memilih pekerjaan tetap lalu melanjutkan pendidikannya. Aku sempat berjuang untuk mendapatkan PTN. Dari mengikuti tes STAN, tes UI, tes ITB. Akhirnya aku mencoba peruntunganku di SMPTN. Aku tidak sendiri, meski dalam ruangan tersebut tidak satupun orang yang ku kenal. Tetapi dibanyak ruangan yang ku ketahui ada wajah-wajah yang ku kenal.
Ketika pagi ujian akan berlangsung. Aku diantar ayah. Sudah dari jam 6 pagi kami bergegas, khawatir akan terjebak pada suasana macet di kota Bekasi. Dengan mengayuh motor keluaran 2000. Dimana kami masih menggunakannya hingga tahun 2011, motor ini masih menemani jejak langkah ayah. Diboncengnya tepat di belakang tubuh ayah yang hangat. Mataku basah. Akankah aku membuatnya kembali repot dengan masalah financial. Ya Allah permudah jalanku untuk membantu cita-cita ayah. Kulitnya yang legam membuktikan bahwa kasih sayangnya terhadapku dan keluarga. Apakah aku akan membuatnya semakin berat beban di pundaknya? Ya Allah berikan jalan terbaik bagi hamba dan keluarga hamba. Berikan syurgaMu kelak pada ayah dan ibu. Dengan semangat, dan iringan doa keluarga. Aku merasa PeDe mengerjakan soal-soal SMPTN. Soal yang tak dapat ku kerjakan ku kosongkan. Karena apabila ku isi dan salah itu dapat mengurangi pointku. Melihat para peserta yang sepertinya sama sepertiku. Diantarkan orangtuanya hingga depan ruang ujian dan ditunggui orang tua. Pernah muncul rasa kecewa. Untuk apa kecewa, aku sudah besar. Aku harus mandiri. Toh ayah pun sudah menjalankan kewajibannya untuk mengantar meski tak sampai di depan ruang ujian. Kalimat itulah yang ku tanam didalam hati ketika pandangan mata ini melihat sosok anak yang dimanja orang tuanya.
Ketika bell di bunyikan kami memasuki ruangan yang telah di sediakan lengkap dengan biodata yang kami kirimkan lewat internet. Aku berada di gedung A fakultas pendidikan agama islam UNISMA. Tempatnya nyaman ditambah lagi para mahasiswa/i-nya sangat kreatif dalam memberikan informasi. Waktu dimulai tepat jam 07:00 dan berakhir tepat pukul 11:00. Para peserta berhamburan. Lalu aku hanya mengikuti langkah kaki menyusuri lorong-lorong koridor kampus. Disapa seorang wanita yang ternyata dia teman SMP ku juga. Berawal kami menceritakan, mencekamnya soal-soal yang baru kami kerjakan. Dengan PeDe aku menjawab ringan hanya dengan sepotong senyuman. Aku tidak ingin banyak komentar kala itu. Lalu ia melanjutkan pertanyaan padaku seputar kampus yang ku tuju, fakultas yang ku ambil, jurusan yang ku dambakan. Aku pun masih sama menjawab dengan ringan. Tujuan kampusku UNY, Jurusan Psikolog. Tanpa ku kembalikan pertanyaan pada teman wanitaku yang satu ini. Aku memang begini. Tidak memilih entah itu dengan lelaki ataupun perempuan yang tidak terlalu akrab mengenalnya. Berbicara seperlunya. Aku hanya bertanya padanya “Langsung pulang atau mau nongkrong dulu?” “mau langsung pulang aja sih” jawabnya lambat mempermainkan gelombang bibirnya.
Entah mengapa dia
Katanya “cinta secara alamiah datang kepadamu karena kepantasanmu untuk mencintai dan dicintai”.  

Ketika hanya langit yang memberi ruang untuk bercerita, nikmati saja. Bukankah dalam keheningan, Dia memberi kita ruang untuk mengenali diri.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar