|
B
|
Setiap hari selalu ada bahasan
yang selalu kami ceritakan. Kata orang pacar itu bisa dijadikan teman yang
sangat perhatiannya. Ketika ada masalah dia membantu menyelesaikannya. Ketika
emosi dia mampu meredakannya. Ketika kesedihan datang dia mampu menghapus
kesedihan itu. Bagaimana caranya? Sihir? Mantra apa yang digunakan? Semua itu
menjadi tanda tanya. Aku tidak menjadikannya teman untuk SMS-an saja. Tapi
teman terspesial dihidup ku ini. Meski kala keadaan ini aku dan dia tidak ada
kejelasan hubungan pacar atau apalah.
Bahkan orang tuanya pun banyak
cerita masa kecil laki-laki itu. Aku hanya tersenyum manis menanggapi hal yang
demikian. Hatiku selalu mengatakan, “andaikan saja rasa ini terealisasikan
untuk kita menjadi sebuah hubungan yang akan kita banggakan”. Itu hanya illusi.
Karena yang aku tahu perasaan itu seharusnya tidak lebih dari teman biasa, dan
seharusnya rasa itu pun tidak pernah ada untukku maupun untuknya.
Biarkan waktu bercerita dengan
indah kebersamaan itu. Tanpa mengungkapkan kalimat hati. Satu tahun terlewati
dengan tegur sapa. Satu tahun dilewati dengan kebersamaan. Satu tahun dilewati
dengan suka cita. Satu tahun dilewati dengan perhatian. Dan selama satu tahun
hubungan itu hanya sebatas teman. Cerita cinta SMA ku berakhir dihubungan
teman. MIRIS.
Meski kami sama-sama saling suka.
Saling suka? Dimana aku membacanya saling suka. Bukankah aku saja yang
menyukainya. Ya, itu juga mungkin. Coba katakan dengan jelas. Dimana aku
membacanya saling suka? Kalau bukan hatimu yang perhatian, dia tidak akan
perhatian? Kalau dimenatap matamu penuh dengan cinta dan senyuman indah,
bukankah hatimulah yang memulai? Lalu itukah yang kau namakan dia juga
mencintaimu, dia menyayangimu, dia menyukaimu?
Kata itu yang menghardikku sekian
lama. Selepas kami lulus SMA. Aku tidak hanya berhenti sampai di SMA. Aku
bertekad untuk melanjutkan pendidikan. Dengan didorong doa dan usaha orang tua,
aku dapat melanjutkan pendidikanku. Meski bukan di PTN (Perguruan Tinggi
Negeri) yang aku idam-idamkan. Sedang laki-laki itu lebih memilih pekerjaan
tetap lalu melanjutkan pendidikannya. Aku sempat berjuang untuk mendapatkan
PTN. Dari mengikuti tes STAN, tes UI, tes ITB. Akhirnya aku mencoba
peruntunganku di SMPTN. Aku tidak sendiri, meski dalam ruangan tersebut tidak satupun
orang yang ku kenal. Tetapi dibanyak ruangan yang ku ketahui ada wajah-wajah
yang ku kenal.
Ketika pagi ujian akan
berlangsung. Aku diantar ayah. Sudah dari jam 6 pagi kami bergegas, khawatir
akan terjebak pada suasana macet di kota Bekasi. Dengan mengayuh motor keluaran
2000. Dimana kami masih menggunakannya hingga tahun 2011, motor ini masih
menemani jejak langkah ayah. Diboncengnya tepat di belakang tubuh ayah yang
hangat. Mataku basah. Akankah aku membuatnya kembali repot dengan masalah financial. Ya Allah permudah jalanku
untuk membantu cita-cita ayah. Kulitnya yang legam membuktikan bahwa kasih
sayangnya terhadapku dan keluarga. Apakah aku akan membuatnya semakin berat
beban di pundaknya? Ya Allah berikan jalan terbaik bagi hamba dan keluarga
hamba. Berikan syurgaMu kelak pada ayah dan ibu. Dengan semangat, dan iringan
doa keluarga. Aku merasa PeDe mengerjakan soal-soal SMPTN. Soal yang tak dapat
ku kerjakan ku kosongkan. Karena apabila ku isi dan salah itu dapat mengurangi pointku. Melihat para peserta yang
sepertinya sama sepertiku. Diantarkan orangtuanya hingga depan ruang ujian dan
ditunggui orang tua. Pernah muncul rasa kecewa. Untuk apa kecewa, aku sudah
besar. Aku harus mandiri. Toh ayah pun sudah menjalankan kewajibannya untuk mengantar
meski tak sampai di depan ruang ujian. Kalimat itulah yang ku tanam didalam
hati ketika pandangan mata ini melihat sosok anak yang dimanja orang tuanya.
Ketika bell di bunyikan kami
memasuki ruangan yang telah di sediakan lengkap dengan biodata yang kami
kirimkan lewat internet. Aku berada di gedung A fakultas pendidikan agama islam
UNISMA. Tempatnya nyaman ditambah lagi para mahasiswa/i-nya sangat kreatif
dalam memberikan informasi. Waktu dimulai tepat jam 07:00 dan berakhir tepat
pukul 11:00. Para peserta berhamburan. Lalu aku hanya mengikuti langkah kaki
menyusuri lorong-lorong koridor kampus. Disapa seorang wanita yang ternyata dia
teman SMP ku juga. Berawal kami menceritakan, mencekamnya soal-soal yang baru
kami kerjakan. Dengan PeDe aku menjawab ringan hanya dengan sepotong senyuman.
Aku tidak ingin banyak komentar kala itu. Lalu ia melanjutkan pertanyaan padaku
seputar kampus yang ku tuju, fakultas yang ku ambil, jurusan yang ku dambakan.
Aku pun masih sama menjawab dengan ringan. Tujuan kampusku UNY, Jurusan
Psikolog. Tanpa ku kembalikan pertanyaan pada teman wanitaku yang satu ini. Aku
memang begini. Tidak memilih entah itu dengan lelaki ataupun perempuan yang
tidak terlalu akrab mengenalnya. Berbicara seperlunya. Aku hanya bertanya
padanya “Langsung pulang atau mau nongkrong dulu?” “mau langsung pulang aja
sih” jawabnya lambat mempermainkan gelombang bibirnya.
Entah mengapa dia
Katanya “cinta secara alamiah
datang kepadamu karena kepantasanmu untuk mencintai dan dicintai”.
Ketika hanya langit yang
memberi ruang untuk bercerita, nikmati saja. Bukankah dalam keheningan, Dia
memberi kita ruang untuk mengenali diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar