Sabtu, 02 Agustus 2014

SENYUMAN




Senyum itu tak kan hilang.
Cerianya buat hati senang.
Tak mungkin tuk menggapai tangan.
Membekas dalam hati.
Senyum yang jatuh di bibirnya.
Sempat ku pandang.
Meski sejenak.
Menorehkan seberkas senyuman indah.
Meratapi penuh penghayatan.
Senyum itu berarti.
Tuk luka rindu.
Yang menyayat hati.
Dia pergi dengan meningggal senyum dalam hati.
aku akan tetap diam menunggu.
menunggu setengah senyum milikmu.
yang juga setengah senyum milikku. 



Kamis, 14 Maret 2013

:)


Kabur
Sengajakah engkau mewakili pikiran ku
Pekat
Hitam berarak menyelimuti matahari
Aku dan semua yang ada disekelilingku.
Merangkai menggapai dalam gelap.
Mendung
Benarkah pertanda akan segera turun hujan
Deras
Agar semua basah yang ada di muka bumi.
Siramilah juga jiwa kami semua yang tengah di rundung kegalauan
Roda jaman menggilas kita
Terseret tertatih tatih
Sungguh hidup terus di bunuh berpacu dengan waktu
Tak ada yang dapat menolong
Selain yang disana
Tak ada yang dapat membantu
Selain yang disana
DIA-LAH TUHAN

Senin, 21 Januari 2013

Sekisah


Mataku sampai detik ini tak lepas menatap ke arah jendela bening. Kulihat saat itu awan mulai menampakkan warna kelabu muramnya. Cuaca di luar terlihat begitu suram, berbanding terbalik dengan ruangan ini. Tubuhku merasa hangat, walau hanya dibalut dengan selimut tipis bergaris. Selain memang pendingin ruangan sengaja dimatikan.
Baru sebentar saja kupalingkan wajah dari jendela itu, aku mendengar suara merdu titik-titik hujan mulai bernyanyi lepas. Mereka terdengar begitu riuh menyanyikan kebebasannya. Tapi semakin aku merasakan keriuhan itu, semakin aku merasa suasana demikian sendu. Nyanyian rintik air dan semilir angin membahana dengan ritme tak teratur, mewakili tangisan dalam hatiku.
Mungkin saja saat ini semua orang tengah hilir mudik dengan berbagai aktifitasnya. Barangkali sedang berteduh, berlindung dari basah yang akan ditimbulkan tetesan air dari langit itu, hingga mereka tak kan mampu mencemari keindahan alam.
Aku tengah terbaring lemah di sebuah ruangan berukuran 4x6. Seluruh temboknya bercat warna putih. Korden berwarna hijau muda--sama persis dengan daun yang masih kuncup--menghiasi kaca jendela yang sekarang terlihat tertutup rapat. Aku, seorang  perempuan yang  bertubuh kurus, tinggi 155 cm, berkulit putih, terlihat agak berkeriput di sekitar leher, kini memandang lurus pada satu arah tanpa melihat apa yang aku lihat. Mereka selalu berkata bahwa dari rona muka pucatku penderitaan yang aku alami sangat berat. Dan mereka memang benar.
Armeina Lavinska, begitulah yang terpajang di depan pintu kamar ini. Hampir 1 minggu aku berada di sini menjalani pengobatan yang menurutku tak akan pernah sanggup aku tersembuhkan dari penyakit itu. Beberapa minggu ini aku lebih memilih untuk diam dan berpaling dari semua wajah yang kukenal. Hanya satu harapanku, MATI. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan di dunia ini. Aku telah hancur. Bukan, lebih tepatnya aku telah menghancurkan hidupku. Aku ingin mengubur dalam-dalam diriku dalam kesunyian. Aku tak ingin lagi bertemu dengan diriku yang sudah tega menghancurkan masa depanku sendiri. Lalu, aku mulai melamun untuk kesekian kalinya (karena hanya itu yang menjadi hiburanku selama di tempat ini).
Setengah perjalanan menuju lamunan yang semakin dalam, tiba-tiba saja terdengar bunyi langkah dari luar. Suara itu lebih mirip deru mesin tembak berkekuatan manover. Mungkin seseorang itu sedang berlari atau bahkan lebih dari sekedar berlari, namun sayang sekali, tak kutemukan kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu dari bahasa mana pun di dunia (mungkin aku harus menciptakan kata baru lagi yang harus kalian sepakati. Melangkah, berjalan, setengah berlari, berlari, kemudian ber(rikol) atau ber(ridas) atau ber(rigi). Sepertinya kata-kata yang aku ciptakan sangat aneh dan tak bertempat di otak. Tepat sekali, mungkin aku hanya bisa menjelaskannya begini saja, “berlari kesetanan” atau “berlari dengan kecepatan pesawat jet tempur”. Lebih mudah dimengerti bukan?).
Seorang lelaki berkulit putih yang terlihat menumbuhkan jenggot tipis pada dagunya kini mulai menjejakkan kaki untuk memasuki sebuah ruangan. Dia datang dengan hanya membawa seonggok tubuh yang berkeringat dingin di sekitar pelipisnya, tubuhnya sendiri. Kemejanya terlihat basah terkena air hujan. Perlahan dia mendekati tempat tidur yang berada ditengah ruangan itu,  tempat di mana aku tegeletak tak berdaya. Membawa semua lara dari masa-masa terberat dalam hidupku.
“Mei,” katanya bergetar. Seraya mengusap peluh dengan lengan kemejanya, lantas ia menggenggam tangan kananku yang tidak di infus.
Aku hanya terdiam, terpaku. Tanpa kusadari air mata telah membasahi pipi cekungku. Dengan tetap terdiam, aku menyambut genggaman tangan lelaki itu, begitu hangat dan nyaman. Aku mengenggamnya lebih erat dari yang dia lakukan. Kini yang aku rasakan justru berbeda dari sebelumnya. Aku mulai bertanya-tanya, kenapa aku mulai mengalami ketakutan yang sangat? Mungkinkah aku takut mati? Terlebih lagi, mungkinkah kini aku takut mati dengan sia-sia? Padahal, ratusan jam yang lalu aku masih  mengharapkan kematian datang menjemputku. Semuanya kini berubah setelah melihat sosok yang dulu sempat mengisi relung jiwaku. Sosok yang telah lama terkubur damai dalam angan dan hatiku. Kini dia ada di hadapanku, di depan mata kepalaku, di dalam pandanganku, menghangatkan jiwaku. Dia muncul kembali menawarkan cinta yang tak bisa kuraih.
Terpaku beberapa saat, aku mulai memandang sekeliling untuk mengatasi rasa takutku yang berlebih, yang tiba-tiba muncul tanpa aku memintanya. Bola mataku kini berkelana ke sana kemari mencoba menangkap sesuatu yang berusaha kukejar selama belasan tahun. Tertangkap olehku detik jarum jam tepat di atas televisi berwarna di depan pandanganku yang akhirnya membawaku  jauh ke masa lalu. Kembali mengingat Hidupku yang berjalan melintasi waktu bersama ribuan kenangan pahit.

Sabtu, 12 Januari 2013

gampangnyooo


Tips menulis.
Menurut Kalian, menulis itu gampang atau susah gak sih? Kalau pertanyaan ini diajukan saat saya masih berumur 1 bulan, maka jawabannya menulis itu amatlah susah *ya iyalah wong makan aja masih susah, hehehe. Tapi kalau pertanyaan ini dilontarkan saat saya menginjak bangku SLTP, maka jawabannya menulis itu sangat mudah. Bukannya sombong tapi menurut saya meenulis itu emang mudah kok. Gak percaya? Kalau gak percaya, baca dokumen saya sebelumnya yang berjudul Nulis Yuk.

Nah kalau Kalian sudah merasa menulis itu mudah, ada beberapa tips nih yang kudu Kalian baca sebelum mulai menulis. Tips ini diangkat dari pengalaman pribadi saya sendiri saat harus menulis.

Tips 1: Niat (Kemauan)
Yang ini sepertiya tidak perlu dijelaskan panjang lebar. Intinya, di mana ada niat di situ ada jalan. Jadi, di mana ada niat menulis di situ akan lahir sebuah karya tulis. Niat itu lahir dari hati kita bukan dari hati orang lain atau kata kerennya lahir dari paksaan orang lain. Misal, ada orang yang ngomong kayak gini "aku akan menikahimu jika kamu menuliskanku sebuah novel tentang kita" *Gyaaa orang kayak gini mesti dibina alias dibinasakan. Ingat Kalian, tidak ada syarat dalam cinta! So kalau ada yang ngomong kayak gitu, berarti orang itu tidak sungguh-sungguh mencintai kita (ini tips menulis atau tips tentang cinta ya? hehehe)

Tips 2: Makan Sebelum Menulis
Menulis itu bukan suatu kegiatan yang enteng. Menulis juga memerkukan tenaga yaitu tenaga berfikir dan tentu saja tenaga menggerakkan jari-jari kita. Tahukah Kalian bahwa tenaga yang diperlukan untuk berfikir sama dengan besarnya tenaga yang kita perlukan saat mencangkul sepetak sawah. Gak percaya? Coba bandingkan sendiri, hehehe. Kalau aku sih percaya aja ma ilmu yang diberikan ma Guru SDku itu. Nah sekarang tahukan kenapa kita kudu makan dulu sebelum mengetik? Selain itu, rasa lapar juga sangat mengganggu saat kita mengetik loh. Saya tahu karena saya sering mengalaminya (seperti saat ini sebenarnya, jadi maafkan kalau tulisan saya rada gimana gitu. Soalnya yang nulis belum makan dan sedang lapar, xixixi)

Tips 3: Siapkan Outline (Kerangka tulisan)
Sebelum terjun di depan monitor, ada baiknya kalau kita sudah punya outline atau kerangka tulisan yang akan kita tulis, sehingga kita tidak perlu menghabiskan waktu lama di depan monitor sambil berfikir dan ngupil. Outline dapat ditulis di dalam buku diary, buku agenda, buku pelajaran, sampai buku utang sekalipun. Atau kalau Kalian adalah tipe orang yang malas menulis dengan tangan, paling tidak outline Kalian sudah terkonsep dengan matang dan rapi di dalam kepala.

Tips 4: Berdoa
Sebelum benar-benar mengetik, ada satu hal yang harus dilakukan yaitu berdoa. Berdoa agar pada saat menulis tidak ada hambatan. Misalnya nyamuk nakal atau panggilan darurat ke kamar mandi, atau apalah. Karena hambatan biasanya mempengaruhi tulisan kita loh. Kok bisa? Bisa aja sih kalau kita mau memikirkannya, tapi sayang banyak yang tidak memikirkanku, eh memikirkannya. Saat kita menulis lalu tiba-tiba berenti karena sesuatu hal kemudian akan memulai lagi biasanya feelnya akan tidak sama lagi. Bahkan kadang-kadang kita akan menuliskan sesuatu yang jauh dari pembahasan yang sebelumnya kita tulis. Misal, sebelumnya kita menulis tentang bahaya selingkuh, tapi karena tiba-tiba harus ke kamar mandi, kita terhenti. Nah saat mulai menulis lagi, kita bisa saja malah menulis tentang apa yang dilakukan pasangan selingkuh di kamar mandi? *nah loh? Jangan lupa berdoa agar tulisan kita bisa menjadi tulisan yang baik dan benar dan yang lebih penting, tulisan kita menjadi tulisan yang bermanfaat untuk orang lain. Paling gak untuk obat awet muda, karena orang lain bisa tertawa saat membaca tulisan kita :).

Tips 5. Kebebasan

Kan emang lagi gak dipenjara. Hehehe maksudnya kebebasan saat menulis, kawan. Banyak penulis yang susah memulai tulisannya karena terlalu memikirkan metode menulis. Dia bingung harus memakai metode ala apa, ala otak kanan kah? Otak kiri kah? Otak tengah kak? Otak-otak kah? *ini sih makanan:D atau ala-ala yang lain? Mereka takut memulai karena takut salah, takut tidak sesuai metode.

Hello…, gak ada undang-undang kok yang mengharuskan kita memakai metode siapa dan apa saat menulis. So, jangan takut menulis dengan metode kita sendiri. Tulis apa yang ingin kita tulis. Lepaskan ikatan metode ini itu yang mengekang otak berfikir dan jari-jari bergerak. Tulis apa yang ada di dalam kepala kita. Jangan takut, jangan ragu karena kita berhak menulis dengan metode ala kita sendiri.

Menulis dengan metode sendiri membuat kita matang dalam karakter (ciri khas). Karena percaya deh, menulis dengan metode sendiri membuat kita berbeda dengan penulis lainnya. Metode kita akan menjadi style dan karakter yang kuat dari setiap tulisan kita. Rasanya pasti bangga dong, ketika kita dikenal karena style tulisan kita. Misalnya:

“Pasti yang nulis cerpen Di Batas Maya yang di … The DIVAs itu Novianti. Soalnya dia kalau nulis kan selalu lugas dan kalimatnya sederhana. Tapi kesederhanaan itulah yang membuat semua tulisannya enak dibaca.” Hehehe ini misalnya loh :D
Nah, si Novianti tentu bangga saat mendengar kalimat ini. Dia bangga karena style menulisnya bisa menjadi karakter (ciri khas) untuk setiap tulisannya. Terlepas dari apakah semua orang suka atau tidak dengan karyanya.

Style menulis adalah salah satu modal utama menjadi penulis hebat loh. Saya udah nulis pake metode sendiri, tapi kok kata teman tulisan saya mirip tulisannya penulis ini? Hem mungkin di antara kita ada yang kepikiran seperti itu. Mirip bukan berarti sama kan? Mirip itu hampir sama, artinya tetap ada yang membedakan. Gak ada masalah sih kalau tulisan kita mirip dengan tulisan orang lain. Yang jadi masalah ketika kita berusaha dengan sengaja menyamai atau meniru tulisan orang lain. Wah, ini sih nyontek namanya. Be your self, kawan! Logikanya gini, saat saya suka warna biru bukan berarti di luar sana gak ada orang lain yang juga suka warna biru kan? Sekali lagi, yang terpenting adalah saat menulis kita memakai metode kita sendiri, entah itu nantinya akan mirip atau tidak dengan tulisan orang lain. Yang jelas itulah style kita :)

Nah, sekarang ngapain masih bengong? Yuk mulai menulis semau kita, suka-suka hati kita dengan tetap memperhatikan EYD tentunya. Kan gak enak kalau telinga kita harus mendengar kalimat seperti ini…

“Penulis kok gak tahu tata cara nulis!” *Glek! Malu kan ya?

Kita juga kudu memperhatikan apa yang kita tulis. Jangan sekali-kali menyinggung SARA, mengandung Pornografi, dan Sarkatis (. Ingat kawan, penulis yang baik adalah penulis yang mampu membebaskan dirinya saat menulis bukan membebaskan dirinya menulis apa saja. Menulis aib orang lain dan menyebar luaskannya misalnya, bukanlah contoh penulis yang baik. Bisa-bisa malah dituntut ampe ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran lingkungan, eh, pencemaran nama baik. Kan gak lucu.

6. Pengetahuan yang cukup

Seringkali penulis tidak bisa meneruskan tulisannya, mandet di paragrap awal karena dia tidak tahu harus menulis apa lagi atau malah merasa tidak ada hal yang perlu ia tuliskan lagi. Nah dua perasaan ini hadir karena satu alasan yaitu si penulis kurang memahami apa yang ditulisnya. Pengetahuan si penulis tentang hal yang ia tulis amat sedikit.

Mari kita bandingkan. Ketika dua orang memasuki galeri sebuah lukisan, yang satu adalah seorang pengamat lukisan dan yang satu lagi saya. Setelah pulang dari galeri kami sama-sama membuat catatan tentang perjalanan kami ke galeri tersebut. Nah, catatan siapakah yang paling komplit, detail, dan paling kuat? Jawabannya tentu saja catatan si pengamat lukisan. Dia akan menuliskan dengan sangat detail apa yang ia lihat karena dia paham dengan dunia lukis-melukis. Sementara saya hanya akan menuliskan bahwa semua yang saya lihat indah tanpa ada penjabaran lebih detail kenapa lukisan itu indah. Ini disebabkan saya tidak menguasai tentang dunia lukis-melukis, tidak seperti si pengamat lukisan tadi. Tapi bukan berarti saya gak mungkin bisa menulis seperti si pengamat lukisan, saya bisa ketika saya mau banyak membaca tentang seluk beluk lukisan.

Nah, sekarang udah paham kan Teman. Dalam menulis kita juga kudu memahami apa yang kita tulis. Jadi kalau pengin tulisan kita gak mandet di tengah jalan coba deh pelajari apa yang ingin kita tulis. Ketika kita ingin menulis tentang dunia kedokteran misalnya, gak berarti kita harus jadi dokter dulu kok, cukup banyak membaca artikel tentang dunia kedokteran, istilah-istilah kedokteran, dan kalau perlu bertanya langsung pada si Dokter. Dengan begitu tulisan kita gak akan mandet gitu aja karena akan ada banyak hal yang kita kupas sedetail-detailnya, banyak informasi yang bakal kita berikan di dalam tulisan kita nantinya.

Hem, tunggu apa lagi? Yuk banyak baca, banyak belajar dan memahami apa yang ingin kita tulis. Agar tulisan kita bukan sekedar coretan tak bermakna. Jadikan tulisan kita sebuah tulisan yang bermakna di setiap kaimatnya.

Hem, udah direalisasikan belum? Tipsnya jangan dibaca aja ya, tapi diterapkan juga. Karena,seseorang itu dikatakan penulis ketika dia menulis J jadi kalau cuma baca aja, gak mulai menulis, ya bukan penulis namanya tapi pembaca, hehehe.

Gak usah berlama-lama deh, sekarang Novi ngasih satu tips lagi nih buat kalian yang ingin jadi penulis. Tips selanjutnya adalah…

7. Sederhana

Paragraf pembuka yang baik adalah paragraf yang mampu membuat pembacanya ingin membaca paragraf selanjutnya, membius pembacanya untuk membuka lembar-lembar selanjutnya. Dan paragraf yang baik itu tentu saja disusun dari kata-kata dan kalimat yang tepat.

Kata-kata dan kalimat yang tepat itu yang mana sih? Wah jawaban untuk pertanyaan ini lumayan banyak dan gak bisa saya tulisin satu-satu. Gimana kalau pertanyaannya kita balik menjadi, kata-kata dan kaliamt yang kurang tepat itu yang mana sih? Nah kalau ini jawabannya gak banyak, gak sampai buat tangan saya pegal ngetiknya :D

Beberapa penulis tidak sanggup meneruskan tulisannya bahkan tidak sanggup membuka paragraf awalnya karena terjebak pada kalimat-kalimat yang puitis. Mereka berfikir keras mencari kata-kata puitis yang tepat untuk tulisannya. Mereka merasa menulis dengan kata-kata tinggi yang akhirnya terkesan puitis akan menjadikan tulisannya menarik dan banyak dibaca orang. Eits, siapa bilang? Banyak loh pembaca yang akhirnya meninggalkan sebuah tulisan jenis ini karena makna dari tiap kata-katanya kurang kuat dan tidak menyentuh hati, malah membuat kening para pembaca berkerut tak mengerti. KECUALI, mereka yang memang sudah biasa menggunakan kata-kata puitis dalam tulisannya dan memang mampu memberi makna di tiap kalimatnya. Kalau ini sih, salut deh. Tapi buat para pemula jangan coba-coba deh, hihihi. Coba belajar boleh tapi coba langsung dibukukan, tidak dianjurkan sama sekali :D

Gunakan kata-kata dan kalimat sederhana. Kalimat sederhana itu lebih mudah dimengerti. Kalimat sederhana lebih mampu membuat orang betah berlama-lama membaca sebuah karya tulis. Ya contohnya aja buku Best Seller Tetralogy Laskar Pelangi. Buku ini termasuk buku yang tebal tapi setiap pembacanya terlena dan tanpa sadar bisa menghabiskan buku ini dalam waktu sepuluh menit *lebay gak ya? Hehehe. Alasannya, karena selain alur ceritanya yang menarik juga karena kata-kata yang digunakan penulisnya adalah kata-kata yang sederhana. Sama seperti buku Best Seller lainnya, Perahu Kertas milik Dee. Buku ini juga buku yang tebal tapi saya pribadi tidak cukup sehari menghabiskannya. Kenapa? Lagi-lagi jawabannya karena kalimat yang digunakan Dee adalah kalimat-kalimat sederhana yang amat mudah dipahami.

Ide-ide yang pelik akan menjadi gurih dan renyah dicerna ketika kita mampu menggunakan kalimat sederhana dalam menuliskannya. Kalimat-kalimat yang sederhana mampu menjelaskan sebuah rumus yang amat sulit sekalipun, sehingga mudah dipahami oleh pembacanya. Kalimat sederhana tidak berarti kalimat yang membuat sebuah tulisan itu dangkal dan kering. Kalimat sederhana adalah kalimat yang mampu menjelaskan sebuah wacana berbobot dengan bahasa yang ringan, yang tentu saja membuat orang yang mendengarnya atau membacanya tidak bosan dan malah menikmati.

Nah, gimana? Udah bisa memulai paragraph awalnya dong. Mestinya sih udah bisa. Mulailah dengan kaliamat yang sederhana, yang mudah dituliskan dan mudah juga dipahami. Jangan terjebak pada kata-kata puitis KECUALI kita memang sudah terbiasa dengan kaliat-kalimat puitis itu. Ya, seperti sebuah pribahasa, kesederhanaan itu menunjukkan kebijaksanaan. Bijak karena kita tidak memaksakan tulisan kita terlihat indah dengan kalimat-kalimat puitis sementara yang membaca hanya bisa mengkerutkan kening. Nah!

Yuk mulai menulis sekarang juga. 

Eits tapi udah taukan gimana caranya nulis. Kalau belum tahu tenang saja masih ada penjelasannya ko. Just slow down baby. Nih, Novi punya tips lagi gimana caranya nulis.

Tips ini, tips untuk gimana caranya nulis.
Sebelas, dua belas sih sama tips diatas. Kunci utama dalam menulis itu
a.    IDE CERITA.
 Ide brilliant yan kadang sulit keluar dari benak. Cara yang bisa kita lakukan dalam menulis cukup dengan sbb:
a.       HAL YANG SPONTAN
b.      HIKMAH DARI SEBUAH PERISTIWA
c.       MIMPI
d.      JALAN-JALAN
e.       DENGERIN KATA HATI
f.       BERGAUL DENGAN DUNIA NYATA ATAU MAYA
g.      DENGERIN LAGU
h.      KISAH DARI KOLEKSI BARANG
i.        NGELAMUN
j.        GABUNG DI KLUB.
k.      BACA BUKU
l.        NONTON TV
m.    Dan masih banyak lagi
b.    Niat
Kalau sebelumnya NIAT untuk menulis di sisi atas,  NIAT disini itu juga berperan untuk memulai menulis. Jadi kapan cerita akan selesai? So don’t waste your time.!
Punya niat nulis? Mulailah dari sekarang! Karena kalau di tunda moodnya ilang lagi.
c.    Peralatan dan perlengkapan
Nah, kalau sudah punya niat untuk memulai menulis, siapin dan cek peralatan sudah lengkapkah? Sudah tersediakah? Apa sih yang di perluin dalam nulis. Umumnya nulis itu yang di butuhkan pulpen/pensil dan kertas kosong yang banyak. Tapi karena sekarang udah canggih. Peralatannya bisa lepi, tab, pad dsb yang pasti bisa buat nuangkan kata-kata dalam benak kalian.!
d.    Jenis Cerita
Sebelum nulis kan kita sudah punya kertas kosong dan pulpen nih, nah kita harus tahu dulu jenis cerita apa sih yang akan kita buat. Dalam Jenis Cerita ini bisa nentuin Setting, nama-nama tokoh, adegan, dialog, dan latar.
Kalau jenis cerita itu ada banyak ya. Yuk ulas lagi.
1.     Drama
1.a. Drama tragedi: drama yang berakhir duka
1.b. Drama Komedi: drama lucu yg membuat pembaca tertawa.
1.c. Drama Misteri: drama yang ngutamain unsur ketegangan yang bisa nyeritain tentang seputar kasus kriminalitas, pembunuhan, penculikan, certa makhluk halus dan Perdukunan.
            1.d. Drama Laga atau action: drama ini ngutamain adegan perkelahian atau pertempuran.
1.e. Melodrama: drama yang bersifat sentimentil dan melankolis cenderung menuju pada kesedihan.
1.f. Drama Sejarah: dari namanya, drama ini nampilin cerita masa lalu berasarkan sejarah, baik tokoh maupun peristiwanya.
KARAKTER
        *            Karakter protagonis: karakter utama yang mewakili sisi kebaikan dan menunjukan hal-hal yang benar dalam setiap kegiatannya di cerita dan berperan penting dalam nentuin alur.
        *            Karakter sampingan: karakter yang mendampingi karakter protagonis dia selalu membantu tokoh utamanya untuk mencapai tujuannya.
        *            Karakter antagonis : karakter jahat atau karakter yang berlawanan dari karakter protagonis, yang selalu mberusaha ngegagalin tujuan karakter protagonis.
        *            Karakter kontagonis: karakter karakter yang selalu membantu karakter antagonis untuk menghancurkan tokoh protagonis,
        *            Karakter skeptis: bukan musuh utama protagonis tapi selalu ngancurin setiap rencana yang sudah di buat si tokoh protagonis. Tokoh ini biasanya selalu curiga sama si tokoh protagonis, gak ada keinginan langsung menghancurkan tokoh protagonis.

Cara Gampang Membuat KARAKTER:

1. Namanya jelas, mudah diingat, familiar, tidak pasaran.
2. Ciri-ciri fisiknya jelas (baik, sedang, atau ada cacatnya).
3. Asal usul dan latar belakangnya jelas (termasuk latar belakang budaya).
4. Dialog yang natural (dialog yang digunakan sesuai dengan latar belakang tokohnya).
5. Kepribadiannya jelas (periang, mudah tersentuh, baik hati, dll).
6. Tujuan dan cita...
-citanya jelas (apa yang ingin dicapai).
7. Hal-hal yang menghalangi tujuan dan cita-citanya jelas (bisa sesuatu atau seseorang).
8. Hubungan dengan tokoh lainnya jelas (apakah tokoh utama, tokoh pendukung, dll).
9. Keunikan atau keistimewaannya jelas (pandai, kaya, selalu beruntung, dll).
10. Manusiawi (bukan tokoh yang serba sempurna).