Sabtu, 22 September 2012

PENCURI HATI


PENCURI HATI
Saya sudah diKHITBAH, AFWAN..!! Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah hari  baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu.Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada.Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yg mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.Aku hanya seorang “Insyirah”.Tiada kelebihan yg teristimewa, tidak juga punya apa-apa yg begitu menonjol.

Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli maupun bisu.Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa berkata dengan lidahku yang lembut dan tidak bertulang. Sama seperti manusia lain. Aku bukan seperti bunda dari Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama… Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.

Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabat yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tanganku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan.Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu.Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.

          Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila. “Hari menikah nanti, pakai baju warna apa?” Aku menjawab tenang.. “Warna putih, bersih…” “Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat.” “Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah (baca :JILBAB). Jangan berlebihan.”Ibu angguk perlahan.Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu… helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh sanubariku sebagai hamba Allah. Malam Pertama… Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mau saja aku menangis sejadi-jadinya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya karena aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi.Mudah-mudahan ya Allah.Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku mau sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang…
As-Syifa’ku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resahku menanti.Benar, aku sedang memujuk gelora hati.Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului. “Kak Insyirah, siapa tunang kakak? Mesti hebat orangnya.tampan gak?” Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yg singgah.Maaf, aku masih mau merahasiakan tentang perkara itu.Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahwa aku sudah bertunangan, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.
“Insya Allah, ‘dia’ tiada rupa tetapi sangat mendekatkan kakak dengan Allah. Itu yang paling utama.”Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku.Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu disebarkan.Aku tersenyum lagi.“Jangan lupa jemput ana di hari menikahnya, jangan lupa!”Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya.Apa yang mampu aku tampakkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan ‘dia’ yang mendekatkan aku dengan Allah. Sahabatku juga merasa kehilanganku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa’ku,Al-Quran, tidak lain karena aku mau kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.

“kapan antii menikah?” Aku tiada jawaban khusus. “Insya Allah, tiba waktunya nanti anti akan tahu…” Aku masih menyimpan saatnya keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu kapan saatnya.“Jemput ana, tau!”Khalilah tersenyum megah.“Kalau anti tak datang pun ana tak berkecil hati, doakan ana banyak-banyak!”Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mau melangsungkan pernikahanku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati. “Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti…” Rahasiaku adalah rahasia Allah, karena itu, aku tidak mampu memberitahukan waktunya.Cuma, hanya mampu menyiapkan diri sebaik-baiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku telah persiapkan, baju permikahanyya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu… “tak usah berlebihan ya…” Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.“Insyirah, jam makan!” Aku tersenyum lagi… Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.“Tafaddal, ana puasa.” sahabta juga semakin galak mengusik. “Wah, Insyirah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat… Tarikhnya tak tetap lagi kah?”“Bukan diet, mau mengosongkan perut.Maaf, harinya belum ditetapkan lagi.”

Sehingga kini, aku tidak tahu bila harinya yang pasti.Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut.Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak.Doakan aku, itu sahaja.
 “innalillahi wainna ilaihi rajiun…” “Tenangnya… Subhanallah.Allahuakbar.” “Ya Allah, tenangnya…” “Moga Allah memberkatinya….” Allah, itu suara sahabat-sahabatku, teman-teman seperjuanganku.Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Teman-teman  pada ramai berdatangan di walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.

Akhirnya, mereka ketahui sosok ‘dia’ yang mendekatkan aku kepada Allah.Akhirnya, mereka kenali sosok ‘dia’ yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.Akhirnya, mereka sama-sama mengambil ‘ibrah dari sosok ‘dia’ yang mengkhitbah ku.

 Dalam sadar dan tidak sadar… Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku… Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa’nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi.Sayup-sayup hatinya merintih.Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.
          “Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan ‘dia’ yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyadarkan aku tentang dunia sementara, yang menyadarkan aku tentang alam akhirat.Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau ridhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui…” Akhirnya, Khalilah bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian… “Insyirah bertunang dengan siapa, ma?” Ibu tenang menjawab… “Dengan kematian wahai anakku.Kanker tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya.Kata dokter, Insyirah hanya punya beberapa minggu sja sebelum kankernya membunuh.”

 “Allahuakbar…” Terduduk Khalilah mendengar, air matanya tak mampu ditahan.
“Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama…” Ibu angguk, tersenyum lembut…
“Ini nak, bukunya.”Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr ‘Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk ‘Malam Pertama di Alam Kubur’. “Ya Allah, patut la Insyirah selalu menangis… Khalilah tak tahu ma.” “Dan sejak dari hari ‘khitbah’ tersebut, selalu Insyirah mau berpuasa. Katanya mau mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan…”

Khalilah masih kaku.Tiada suara yang terlontar.Matanya basah menatap kalam dari diari Insyirah yang diberikan oleh ibu.“Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT.Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti harinya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku bernama Ummu Sulaim, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta. Dan ibu mengambil ‘ibrah bukan dari namanya (Ummu Sulaim) malah akhlaqnya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati seorang ibu.”


SELESAITop of Form

Sabtu, 07 Juli 2012

JAWABMU


Jawabmu

Mungkin kata tak dapat lagi tersusun.
 Kala aku memutuskan untuk berpaling darimu.
Aku bosan menantimu.
Hingga aku tak tahu apa yang harus aku pilih.
Aku memilih dia tapi hatiku tetap untukmu.
 Hatiku tetap menantimu.
Walau sering kali harus ku biarkan airmata ku kembali terurai dengan indah.
Bagiku indah dah tak pernah buruk.
 Saat airmata terurai.
 Karena airmata itu jatuh dengan suci.
Jatuh dari kedalaman lubuk hati ini.
 Aku tidak tahu bagaimana dengan hatimu.
Sesekali aku tanyakan itu kau hanya terdiam.
 Bermaksud untuk tidak menambah luka hati ini.
Yang kau biarkan menganga jatuh di rerumputan berduri.
Walau diam aku tak menganalisa hatimu, ucapmu.
Yang ku dengar hanya hembusan nafasmu yang tertarik sangat dalam.
Apakah rumit cinta ini.
Kau hanya menjawab iya atau tidak.
Jangan biarkan pupus hati ini.
Pintaku dalam hati...
Berharap aku kan temukan jawabnya.
Harapan yang tiada akhir.
Cinta yang suci karena Allah.
Bagaimana tidak.
Coba tengok  kala dulu.
Tampan, dia jauh lebih tampan darimu.
Tapi hati ini memilihmu.
Kekayaan. Dia jauh lebih darimu.
Tetap hati ini memilihmu.
Baik, dia jauh lebih baik darimu
Bukan berarti kau jahat.
Kau hanya saja menyakiti hati ini.
Yang di biarkan begitu saja.
Aku harus mengorbankan 3 hati.
Aku harus menolak 3 hati yang memilih aku.
Haruskah ada orang lain lagi yang tersakiti.
Yang ku butuh kau.
Jangan lagi diam mu yang ku temui.
Jangan hembus nafasmu lagi yang ke dengarkan.
Tapi aku hanya ingin ucapmu.
Memilihku.
Meski waktu masih lama ternanti.
 Jangan kau suruh aku memilih dia.
Karena hati ini tetap untukmu.
Dan selamanya untukmu.

Karpet Coklat, 07-07-2012


Novianti Elfiky.

Rabu, 13 Juni 2012

KITA BUKAN TUHAN



Pernah tidak kita mengatur seseorang, mengatur istri, mengatur orang tua atau anak??
Pasti  jawabannya pernah kan?? Ya kan???
Pernah juga kita mengharap sekali kepada mereka bahwa nasehat kita didengarkan dan dilaksanakan???

Kita sering terlena dengan cara bicara kita yang “jago”, sehingga orang yang mendengar kita memaksakan agak perkataan kita diterima.
Padahal perasaan hati seseorang itu ada yang memegangnya, yaitu ALLAH
Allah lah yang MAHA membolak-balikan hati, tapi seolah-olah kita bisa mengubah hati seorang manusia,
Apakah Kita Tuhan???

INGAT... kita bukan Allah, kita hanya manusia biasa yang diberikan wewenangnya oleh Allah agar kita selalu membantu dan mengingatkan orang lain untuk keberlangsungan hidup yang jauh lebih baik.
Kita bukan Tuhan...karena Allah sudah memasrahkan seluruh hidup kita mau ngapain saja dalam kehidupan ini,

“Allah tidak akan mengubah suatu bangsa/orang kalau mereka sendiri tidak mengubahnya”
Jadi kalau kita menasehatinya kemudian berharap nasehat kita bisa mereka laksanakan, ingat... harapan kita itu hanya untuk Allah dan hanya untuk Allah, gak ada yang lain. karena kalau orang tersebut tidak mau mengubahnya nasibnya sendiri atas izin Allah repot juga kan kita
Jadi sebelum kita menasehati seseorang berdoalah kepada Allah dulu, baru kita menasehatinya sesuai versi Allah.

 “YA ALLAH engkau yang memegang hati seseorang, engkau juga yang MAHA membolak balikan hati, semoga nasehatku bisa di terima oleh orang yang mendengarnya, semoga mereka mengerti perkataan hambamu ini, amien”

Nah... pasrahkan semuanya pada Allah baru menasehati, agar saat kita memberikan wejangan Allahlah yang membantu bicara kita.. DIJAMIN SUKSES dech..
JANGAN pernah mengatur seseorang kalau kita sendiri dalam kehidupan tidak bisa diatur oleh aturannya Allah.
Dengan Allah semuanya akan menjadi mudah... Sudah teruji di Laboratorium kehidupan dan Akherat. Suerrr...
Saya sudah membuktikan, apakah anda sudah membuktikan semua???
Saya tunggu testimoni anda sekali??


Tetap semangat dan selalu bermanfaat

Heartache in june 9th 2012


June 9th, 2012
*rekomendasi untuk membaca ini lebih enak di iringi lagu Kelly Clarkson “Because Of You”.

Hari ini hari pertama lagi aku datang ke kampus dimana aku sudah tak masuk selama satu minggu. Untuk sebuah kebohongan belaka.  Yang hanya berawal dari keinginan ku untuk tak berada di kampus Global Mulia untuk menghentikan kepalsuan yang telah ku buat. Aku harus merelakan tubuhku terbakar api kebohongan di neraka nanti. Untuk sebuah pengakuan dari orang if i can. Aku bisa lebih dari mereka, yang kini kusadari telah lama akku menyalahi itu. Yah sepertinya kebohongan itu akan terkuak menyeruak kepermukaan. Yah semakin dekat hari ku untuk keluar dari Global Mulia dimana aku sudah menginjak usia 1 tahun berada di sana Ujian diploma ku pun semakin dekat.
Hari ini ada plan lagi untuk datang ke rumah salah satu teman ku. Imam Muhroji buat acara bakar-bakar ayam di rumahnya untuk slametan born day him. Aku memang berencana untuk hair dan kali ini aku tidak ingin membawa motor. Yah pengennya sih bisa boncengan dan berbincang selama perjalanan ke rumah imam bersama Hafiz mubarak. ( ku panggil dia dengan lengkap). Rencanaku aku berpura-pura tidak ada motor dan pengancaman untuk tidak datang dan Imam mengusahakan untukku datang di acara malam minggu di rumahnya. Aku sudah sms sama hafiz kalau aku gak datang karena gak ada motor. Terus aku bilang juga “kalau dia gimana mau datang gak’ jawabnya masih sama “InsyaAllah”. Tanpa malu lagi ku bilang padanya kalau bisa aku nebeng sama dia dan ternyata dia sudah di charter duluan sama salah satau teman wanitaku yang juga temannya namanya Fio. Ya sudah terpaksa aku Cuma merasakan kekecewaan dalam hati dan menahan rasa yang menggelora dalam hati. Mungkin tangis lebih tepatnya.
Sekedar menghilangkan rasa kecewa aku mengajak ibuku ke mall yah hanya sekedar membeli perlengkapan mandi saja lumayan merefresh sebelum kejadiaan yang tak mengenakkan hati kan ku dapati. Di mall saat selesai belanja keperluan aku menuju kasir dan yang ku tuju kasir dimana temanku yang bekerja di mall tersebut. Dan ku lihat dia sedang sibuk memunguti belanjaan pelanggannya untuk di hitung. Dia Lidia Natalia wanita cantik yang kini sedang sibuk bekerja. Sayang aku salah antrian yah sudahlah nanti juga bisa berbincang dengannya kalau sudah ku bayar juga belanjaanku. Sebelumnya malah ia yang menghampiriku. Sedikit memberikan amanat padaku untuk imam “salam untuknya dan sederet doa untuknya yang hanya dapat ku jawab dengan amiin Ya Rabbal allamin” yah hanya segitu saja perbincangan ku dengannya di mall itu.
Saat turun dari eskalator aku sempat bicara dengan mama ku kalau aku ada acara bakar-bakar ayam di rumah imam. Lalu ku ceritakan tentang pintaku dengan Hafiz yang malah Hafiz kecewakan begitu saja. Yah memang fio yang lebih dulu meminta hafiz untuk datang bareng. Tapi tidakkah dia pahami hati ini apabila ia tolak? Yah aku tahu dia ingin bersikap adil. Semoga saja pikiran itu benar dengan nyatanya. Dan ini untuk kesekian kalinya ia buatku kecewa yang mendalam. Aku mempercayainya kalau memang dia dan Fio hanya sama seperti biasa berteman tiada hubungan spesial. Dan aku mempercayainya kalau perasaannya pun tidak lebih. Kalaupun lebih itu haknya aku tidak dapat melarangnya hanya dapat menahan tumpukan rasa kecewa yang lagi-lagi kurasakan. Karena aku bukan siapa-siapanya. Aku takut kata “ibu aja yang orang tua gue gak pernah kaya gitu, lo bukan siapa-siapa gue bisa ngomong kaya gitu”. Aku sungguh takut dengan perkataan itu aku tidak ingin menahan kecewaku dan menekan egoku kepadanya. Biarkan hati ini  yang mengelana dan membiarkannya hilang dengan sendirinya.
Sesampai aku di dekat rumah imam ternyata jalan dekat rumahnya di cor jadi haris puter dan jalannya gak tau harus kemana. Hanya satu jalan yang dapat ku berikan pada Dini yang tadi menjemputku pergi ke rumah imam. Tapi ternyata pengelanaan mlam itu sudah cukup gak tau jalan lagi akhirnya kembali lagi dan menunggu imam sampai ia jemput kami di sini. Dan akhirnya 5 menit kemudian ku lihatnya dari arah yang berlainan dari rumahnya. Ya akhirnya kami di tuntun menuju rumahnya yang rindang dengan pepohonan. Imam menyapa dengan hangat apa karena Dini yang ku bawa karena Dini pernah menjadi pacar Imam. Dan sepertinya mereka masih mempunyai perasaan. Langsung pikiran ku mengelana andai Hafiz seperti Imam mungkin Kecewa sedikit HILANG meski SEDIKIT, kecewa kan ku trima. Tapi malah aku masih menerima kekecewaan yang bertumpuk di lubuk hati ini untuk kesekian kalinya. Aku hanya bisa menguatkan hati, aku hanya bisa mengontrol emosiku, amarah cintaku, yang diam-diam selama 30 menit aku merasa aku berbeda seperti biasa. Aku pun tak paham perasaan apa yang akan menyeruak, untung ku tahan dan ku kontrol kembali emosi-emosi karena kekecewaanku.
Yang selama itu ia datang untuk kehadirannya malam itu. Dan mencoba menyapaku tapi entah ia hendak berkata apa namun ia tahan. Di kondisi itu aku memang berada pada dekat dengan imam dan dini yang sedang mencoba menyalakan api untuk membakar ayam yang sedari tadi tidak nyala juga. Dan saat Hafiz dan fio datang aku memang berada di sana. Mencoba membantu Imam. Yang mencoba menyibukkan diri dalam pergulatan emosi dalam benak. Dalam waktu yang bersamaan aku mencoba mengkontrol emosi-emosi itu, dan aku harus bergulat dengan rasa tangis, kecewa, senang di saat dia hadir di hadapan ku. Tanpa rasa salah datang dia di hadapku, stylenya masih seperti kemarin tanggal 27 mei 2012 yang dimana kita datang bersamaan untuk acara resmi yang di bilang fifi serasi. Dalam hati hanya dapat ku aminkan dan di luar ku mengelaknya. Itulah aku dan segenap perasaanku tentangnya selama 30 menit,. Salah tingkah mencoba manis dari rasa senangku dia hadir dan emosiku keluar tanpa permisi saat ku kipas bara api yang menggebu-gebu besar panasnya, sama seperti emosiku.
Lalu kini malah bergantian sepanjang malam itu dia tunjukkan sikap yang aneh. Aku bahkan tak menemui sosok dia yang biasa ku temui. Ya memang akhir-akhir ini sikapnya amat berbeda. Selama ini belum ia tunjukkan padaku sikap yang seperti ini. Seperti merasa bersalah lalu dia mencoba dekat dengan ku mungkin mencoba menyembuhkan rasa kecewa itu. Akupun tidak mengetahuinya, dia hanya dapat melihat dari bangku yang berada agak jauh dari beranda rumah melihat canda tawa yang lepas di beranda rumah yang tenang dari keramaian kota. Tanpa ikut dalam lepasnya canda malam itu. Tapi yang aku lihat dari sorot matanya memandang wanita yang ia jemput bukan padaku.
Lebur tangisku dengan tawaku yang kencang mungkin tak ketahuan galaunya rasa hati ini. Di tambah lagi saat makan dia tak lihat aku di depannya yang ia lihat wanita itu lagi masih ingat di pikiranku perbincangan makan diantara mereka yang diam-diam ku perhatikan. Meski tak melihat hanya melirik aku tahu betul bahasa tubuh mereka yang mereka gerakkan. Sebegitu hafalnya aku tentang mu. Ataukah sebegitu cintanya aku padamu hingga ku tahu bahasa tubuh yang sering kau tunjukkan. Perbincangan itu membuatku makin panas saja.
Wanita itu memang kecil, yah kalau pikiran anak cowok yang lain mereka bilang Fio itu imut, fio itu montok, dengan postur tubuh yang kecil. Aaah bagiku dia kayak anak SD yang baru saja lulus. Tapi pikiran jahat dia, melebihi ibu-ibu yang dendam dengan madunya. Mungkin itu hanya presepsi jahatku saat aku mencemburui Hafiz bersamanya.
Aku tidak ingin di cap sebagai wanita jahat yang mencap seseorang dengan ego besarku. So aku hanya minta kesabaran yang lebih untuk kejadian malam itu. Menahan tangis, menahan amarah ku saat Hafiz memanjakan wanita itu. Mungkin kalau saja Allah tak memberiku kesabaran yang lebih. Mungkin aku akan menjenggut rambut Hafiz lalu mengadukannya ke kepala wanita itu dengan sekeras-kerasnya. Lalu aku akan pergi bersama linangan air mata yang mengalir deras. Tanpa hiraukan keadaan sekitar. Tapi Allah masih menyayangi ku agar aku tidak masuk dalam amarah setan yang makin hebatnya merayuku untuk marah.
Perbincangan itu buat ku muak.
“Fi, boneka patricknya di taruh dulu aja Fi kan lagi makan.!”
 Melirik sambil menahan air mata, Lalu malah di tanggapi olehnya. Sebegitu hebatnya Allah turunkan kesabaran padaku di malam minggu itu.
“hehehe (sambil nyengir manja) lupa fiz abis bonekanya itu enak di pegang.”
Dan di sini rasanya aku ingin sekali teriak sekencang-kencangnya. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Aku meneriaki diriku dalam hati. Karena aku tak mampu teriak di malam itu hanya dalam hati yang mendengar hanya hati yang dapat memahami teriakkan ku.
Belum selesai sampai di sini. Tiba-tiba ayah ku telephone dan berkata “sudah malam kamu dimana gak pantes jadi perempuan jam segini belum pulang, di tambah lagi perginya gak jelas” aku hanya dapat berkata “ya pak” dan pembicaraan di telephone selesai tanpa salam seperti biasanya. Aku hanya bisa bilang sama Imam dan Dini kalau ayah ku sudah menelpon dan meminta ku segera pulang ya tadinya pun aku maunya setelah selesai tanpa makan aku mau pulang. Namun yah aku sadar diri aku nebeng sama Dini, sedang Dini sepertinya masih betah di rumah Imam. Setelah membereskan berantakannya rumah Imam, akhirnya aku sama Dini pulang juga dan sebelumnya juga Hafiz sudah pamit terlebih dahulu. Di sini aku melihatnya menyembunyikan sebait kata yang mungkin hendak ia katakan tapi tidak jadi untuk di katakan. Lalu pamitlah ia dari rumah Imam.
Dan tak lama kemudian aku dan Dini juga menyusul dan ternyata dia masih di sudut itu bersama Fio yang mencoba bergegas tapi tertahan karena hadirnya Hayat. Hayat salah satu teman kita juga yang dulu pernah bersama sampai sekarang ia datang di akhir acara. Datang perkumpulan yang kurang bagus. Dan akhirnya bergegas pergi secara beriringan tapi ku minta untuk Dini menyalip motor Hafiz karena aku tak tahan dengan pemandangan itu. Hafiz dan Fio berboncengan, yang seharusnya aku yang di sana. Dan akhirnya mereka balik menyalip kami yang asik menggosip di atas motor. Mereka ngibrit dengan cepat tanpa menunggui ku. Yang padahal dulu kalau pun aku di belakang pasti aku di tunggui olehnya. Tapi ini TIDAK SAMA SEKALI. Makin lengkap saja kekecewaanku malam itu.
Dan akhirnya aku menangis lagi dalam tulisan di buku diary ku. Yang slalu ku basahi dengan air mata dan bahagia. Dan meski harus diketahui sebesar apapun kekecewaan itu, takkan mampu merubah perasaan yang tidak di paksa sudah singgah lama di hati ini.
Kau hanya mampu membiarkan luka ini menganga begitu saja. kau yang menyakiti tapi aku yang harus bersi keras untuk mengobatinya sendiri.
Sebegitu teganya, dan tidak pedulinya dia tehadap diri ini yang sudah terang-terangan mencintainya dengan ketulusan hati, tanpa melihat apa yang lebih darinya. Bahkan ku tolak cinta orang yang sudah mencintaiku karena aku lebih mencintai mu Hafiz.
Tak pernah kah kau sadar ?