PENCURI HATI
Saya
sudah diKHITBAH, AFWAN..!! Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah
bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah hari baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya
beberapa minggu lalu.Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk
berlapang dada. Benar,
aku berusaha berlapang dada.Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat
kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke
dalam gaung. Maha
Suci Allah yg mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan
terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.Aku hanya seorang
“Insyirah”.Tiada kelebihan yg teristimewa, tidak juga punya apa-apa yg begitu
menonjol.
Jalan
ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain
yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli maupun
bisu.Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar
dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa berkata dengan lidahku
yang lembut dan tidak bertulang. Sama seperti manusia lain. Aku bukan seperti
bunda dari Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah
Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi
pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku
hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga
sama… Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian,
Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.
Sejak
dari hari istimewa tersebut, ramai sahabat yang memuji wajahku berseri dan
mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tanganku memakai
cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula
menidakkan.Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang
maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan
itu.Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.
Ibu
bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila. “Hari
menikah nanti, pakai baju warna apa?” Aku menjawab tenang.. “Warna putih,
bersih…” “Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat.” “Ibu, 4
meter sudah cukup untuk sepasang jubah (baca :JILBAB). Jangan berlebihan.”Ibu
angguk perlahan.Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu… helaian demi
helaian naskhah yang begitu menyentuh sanubariku sebagai hamba Allah. Malam
Pertama… Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mau saja aku
menangis sejadi-jadinya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang
menetapkan tarikhnya karena aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut.
Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi.Mudah-mudahan
ya Allah.Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku
mau sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran,
setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap
ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang…
As-Syifa’ku
adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resahku menanti.Benar, aku sedang
memujuk gelora hati.Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut,
begini rasanya orang-orang yang mendahului. “Kak Insyirah, siapa tunang kakak?
Mesti hebat orangnya.tampan gak?” Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa
yg singgah.Maaf, aku masih mau merahasiakan tentang perkara itu.Cukup mereka
membuat penilaian sendiri bahwa aku sudah bertunangan, kebenarannya itu antara
aku dan keluarga.
“Insya
Allah, ‘dia’ tiada rupa tetapi sangat mendekatkan kakak dengan Allah. Itu yang
paling utama.”Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku.Kata
mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu disebarkan.Aku tersenyum lagi.“Jangan
lupa jemput ana di hari menikahnya, jangan lupa!”Aku hanya tersenyum entah
sekian kalinya.Apa yang mampu aku tampakkan ialah senyuman dan terus tersenyum.
Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan ‘dia’
yang mendekatkan aku dengan Allah. Sahabatku juga merasa kehilanganku apabila
setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa’ku,Al-Quran, tidak lain
karena aku mau kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan
menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.
“kapan
antii menikah?” Aku tiada jawaban khusus. “Insya Allah, tiba waktunya nanti
anti akan tahu…” Aku masih menyimpan saatnya keramat itu, bukan aku sengaja
tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu kapan saatnya.“Jemput ana,
tau!”Khalilah tersenyum megah.“Kalau anti tak datang pun ana tak berkecil hati,
doakan ana banyak-banyak!”Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mau
melangsungkan pernikahanku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan
terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati. “Insya Allah, kalian PASTI
akan tahu bila sampai waktunya nanti…” Rahasiaku adalah rahasia Allah, karena
itu, aku tidak mampu memberitahukan waktunya.Cuma, hanya mampu menyiapkan diri
sebaik-baiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara
terkejut seperti orang lain. Semuanya aku telah persiapkan, baju permikahanyya,
dan aku katakan sekali lagi kepada ibu… “tak usah berlebihan ya…” Ibu angguk
perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.“Insyirah, jam makan!”
Aku tersenyum lagi… Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan
senyuman.“Tafaddal, ana puasa.” sahabta juga semakin galak mengusik. “Wah,
Insyirah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat… Tarikhnya tak tetap lagi
kah?”“Bukan diet, mau mengosongkan perut.Maaf, harinya belum ditetapkan lagi.”
Sehingga
kini, aku tidak tahu bila harinya yang pasti.Maafkan aku sahabat, bersabarlah
menanti hari tersebut.Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia
untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam
berumahtangga kelak.Doakan aku, itu sahaja.
“innalillahi wainna ilaihi rajiun…” “Tenangnya…
Subhanallah.Allahuakbar.” “Ya Allah, tenangnya…” “Moga Allah memberkatinya….”
Allah, itu suara sahabat-sahabatku, teman-teman seperjuanganku.Akhirnya, aku
selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Teman-teman pada ramai berdatangan di walimah walaupun
aku tidak menjemput sendiri.
Akhirnya,
mereka ketahui sosok ‘dia’ yang mendekatkan aku kepada Allah.Akhirnya, mereka
kenali sosok ‘dia’ yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.Akhirnya, mereka
sama-sama mengambil ‘ibrah dari sosok ‘dia’ yang mengkhitbah ku.
Dalam sadar dan tidak sadar… Hampir
setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku… Sentiasa ada suara sayu yang
menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa’nya pada Rabbi, dalam
sembahnya pada Ilahi.Sayup-sayup hatinya merintih.Air matanya mengalir deras,
hanya Tuhan yang tahu.
“Ya
Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan ‘dia’ yang mendekatkan
dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyadarkan aku
tentang dunia sementara, yang menyadarkan aku tentang alam akhirat.Engkau
satukan kami dalam majlis yang Engkau ridhai, aku hamba Mu yang tak punya
apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang
tidak aku ketahui…” Akhirnya, Khalilah bertanya kepada ibu beberapa minggu
kemudian… “Insyirah bertunang dengan siapa, ma?” Ibu tenang menjawab… “Dengan
kematian wahai anakku.Kanker tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang
sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya.Kata dokter, Insyirah
hanya punya beberapa minggu sja sebelum kankernya membunuh.”
“Allahuakbar…” Terduduk Khalilah
mendengar, air matanya tak mampu ditahan.
“Buku yang sering dibacanya itu, malam
pertama…” Ibu angguk, tersenyum lembut…
“Ini nak, bukunya.”Senaskah buku bertukar tangan,
karangan Dr ‘Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk ‘Malam Pertama di Alam
Kubur’. “Ya Allah, patut la Insyirah selalu menangis… Khalilah tak tahu ma.”
“Dan sejak dari hari ‘khitbah’ tersebut, selalu Insyirah mau berpuasa. Katanya
mau mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan…”
Khalilah
masih kaku.Tiada suara yang terlontar.Matanya basah menatap kalam dari diari
Insyirah yang diberikan oleh ibu.“Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku
di risik oleh MAUT.Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah
bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti harinya dengan mendekatkan
diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku
bernama Ummu Sulaim, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu
dipulangkan apabila ALLAH meminta. Dan ibu mengambil ‘ibrah bukan dari namanya
(Ummu Sulaim) malah akhlaqnya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati
seorang ibu.”
SELESAI